GoTo meluncurkan model bahasa terbuka yang memahami Bahasa Indonesia dan empat bahasa daerah, yakni Jawa, Sunda, Bali, dan Batak. Peluncuran berlangsung di Bali Tech Week, Sanur, pada Senin, 19 Oktober 2026, dan terkait dengan agenda Komdigi “Visi Indonesia Digital 2045”.
Menurut laporan Bisnis.com, CEO GoTo Hans Patuwo menilai kecerdasan buatan global belum sepenuhnya menjawab kebutuhan bahasa lokal. “AI buatan global sering kali tidak teroptimasi penuh untuk data lokal maupun bahasa daerah yang kita gunakan sehari-hari,” ujarnya.
Tanpa Pusat Data
Model ini dibuat tim rekayasa internal GoTo sebagai lanjutan riset model terbuka sejak 2024. Data latihnya berasal dari kemitraan media, situs sektor publik, dan Universitas Sumatera Utara untuk bahasa Batak.
Kampus, startup, atau instansi pemerintah dapat menjalankan model ini di server sendiri tanpa pusat data besar. GoTo juga menggratiskan pemakaiannya bagi akademisi, startup, pelaku bisnis, dan lembaga publik.
Di sisi lain, laporan tersebut tidak menyebut hasil uji banding, biaya, kebutuhan perangkat keras, maupun ketentuan lisensi. Patuwo memosisikan keterbukaan itu sebagai sumbangan bagi negara. “Memberikan akses terbuka atas teknologi ini adalah cara kami berkontribusi bagi negara,” katanya. Apakah kampus dan startup daerah akan benar-benar memakainya?