Microsoft menawarkan program keluar sukarela kepada sekitar 60.000 karyawan, lebih dari seperempat tenaga kerjanya. Sasarannya tersebar di Amerika Serikat, Inggris, Kanada, dan India –bukan cuma satu kantor.
Memo bertanggal 26 Oktober itu ditulis Executive Vice President dan Chief People Officer Microsoft, Amy Coleman. Program ini, tulisnya, “bersifat sukarela dan terbatas waktu”. Tujuannya “menciptakan fleksibilitas lebih besar dan, bila memungkinkan, lebih banyak cara bagi karyawan untuk menentukan babak berikutnya”.
Sukarela? Di atas kertas, ya. Seperti dilansir Business Insider, karyawan level 70 ke bawah boleh ikut, termasuk pemimpin senior. Syaratnya mirip pesangon standar Microsoft. Batas keputusan: awal Desember. Yang menerima keluar akhir tahun.
Rincian tim yang ikut berbeda antarlaporan. The Verge, mengutip sumber anonim, menyebut Copilot, Windows + Devices, dan Xbox memenuhi syarat, sedangkan keamanan dan pemasaran tidak. TechCrunch dan CBS News menyebut pusat data, penjualan, dan pemasaran dikecualikan. Kata Coleman: “Tidak ada pendekatan satu ukuran untuk semua tim atau semua karyawan”. Satu ukuran memang tidak ada. Satu tenggat ada.
Jumlah karyawan sudah susut dari 228.000 pada akhir 2025 menjadi 223.000 pada akhir Juni, menurut dokumen regulator yang dikutip CBS News. Hitungan redaksi: selisihnya 5.000 orang –sekitar 2,2 persen– dalam enam bulan. Tahun ini juga ada program pensiun sukarela untuk sekitar 9.000 karyawan Amerika Serikat. Pada Juli, sekitar 4.800 pekerjaan dipangkas, menurut Fox Business.
Hitungan redaksi: 60.000 dibagi 223.000 sama dengan sekitar 26,9 persen. AFP menyebut sekitar 27 persen. Berarti lebih dari satu dari empat karyawan kini ditanya soal babak berikutnya.
Di sisi lain, juru bicara Microsoft menyatakan tidak ada rencana buyout lain saat ini. Jumlah yang diharapkan menerima belum disebut. Partisipasi, tulis Coleman, “bervariasi menurut prioritas tiap bisnis, komitmen pelanggan, dan kebutuhan tenaga kerja”.
Dugaan paling masuk akal: bahasa memo ramah, hitungan di baliknya dingin. TechCrunch dan AFP mengaitkan langkah ini dengan penghematan dan belanja AI, yakni pusat data dan cip. Itu kerangka media, bukan isi memo. Dampak ke Indonesia belum ada datanya. Pekerja teknologi di sini tetap patut mencatat arahnya: uang pindah ke mesin, tawaran pindah ke manusia.
Sukarela, kata Microsoft. Tapi tawaran untuk 60.000 orang sekaligus bukan lagi pilihan pribadi: itu kebijakan.
Ringkasan
Microsoft menawarkan program keluar sukarela kepada sekitar 60.000 karyawan di Amerika Serikat, Inggris, Kanada, dan India, atau lebih dari seperempat tenaga kerjanya. Memo Chief People Officer Amy Coleman bertanggal 26 Oktober menyebut program ini sukarela dan terbatas waktu. Batas keputusan awal Desember, dan yang menerima keluar pada akhir tahun.
Fakta Kunci
FAQ
Siapa yang memenuhi syarat program keluar sukarela Microsoft?
Sekitar 60.000 karyawan di Amerika Serikat, Inggris, Kanada, dan India dengan level 70 ke bawah, termasuk pemimpin senior. Tim yang ikut berbeda antarlaporan.
Kapan batas keputusannya?
Awal Desember. Karyawan yang menerima tawaran keluar pada akhir tahun.
Apakah ada rencana buyout lain?
Juru bicara Microsoft menyatakan tidak ada rencana buyout lain saat ini. Microsoft juga belum menyebut berapa orang yang diharapkan menerima.
Baca juga:
