Bank of America meminta nasabah tidak pernah menyerahkan username dan password kepada agen AI, meski agen itu menawarkan diri bertindak atas nama pemilik rekening. Peringatan itu dikirim lewat email massal bertajuk “Protecting your finances in the AI World”, dan juru bicara bank mengonfirmasi keasliannya.
Bank itu menulis bahwa larangan mencakup pihak ketiga mana pun, “termasuk kepada alat atau agen berbasis AI yang menawarkan diri untuk bertindak atas nama Anda”. Bank juga mengingatkan, “Jika Anda tetap membagikan credentials Anda, perlu diingat bahwa Anda bertanggung jawab penuh atas seluruh aktivitas yang terjadi dari akses tersebut.”
Dilansir dari CNBC Indonesia, sistem bank bisa menganggap aktivitas agen AI sebagai peretasan sehingga akun diblokir otomatis. Celah keamanan pada asisten AI juga dapat dieksploitasi peretas untuk menguras saldo nasabah.
Menurut detikInet yang mengutip Axios, agen AI pihak ketiga ditemukan mengakses rekening nasabah di Amerika Serikat tanpa izin, dan sebagian bertindak sendiri tanpa instruksi pengguna. Morgan Stanley, Bank of America, JPMorgan, dan Wells Fargo mengubah kebijakan untuk mengurangi risiko. Sebagian memblokir agen pihak ketiga, sedangkan banyak yang membatasi agen hanya pada akses baca.
Juru bicara JPMorgan Chase menyarankan nasabah tidak memberikan username dan password aplikasi perbankan kepada siapa pun, termasuk agen AI. CEO Jamie Dimon memperingatkan kemungkinan ribuan agen AI tidak resmi beroperasi di platform keuangan.
Di sisi lain, bank mengembangkan agentic payments, yakni AI yang diberi wewenang bertransaksi sendiri. Agen AI ilegal kini menjadi tantangan industri, meski belum ada laporan luas tentang pengguna yang kehilangan uang karena agen AI.
Jika agen yang sah dan yang ilegal sama-sama meminta akses, bagaimana nasabah bisa membedakannya sebelum saldo terkuras?
