Perusahaan AI pencipta Claude mematok valuasi Rp27 kuadriliun saat IPO padahal masih mencatat kerugian operasi.
Berapa Avanza untuk Beli Satu Pencipta Claude?
Saya menyerah menghitung jumlah nol di layar. Kalkulator bawaan iPhone 16 Pro Max saya rasanya hampir kehabisan ruang.
Berita itu melintas di linimasa saat saya sedang rehat di sebuah kafe di Bogor. Laporannya membahas soal Anthropic. Anda mungkin familier dengan nama ini. Mereka adalah raksasa pembuat kecerdasan buatan pencipta Claude. Pesaing tangguh di kancah perang AI global. Kabarnya, perusahaan ini sedang bersiap melantai di bursa saham. Penawaran umum perdana.
Target valuasi yang dipatok benar-benar di luar akal sehat. Nilai yang sedang dibicarakan menjelang IPO tersebut menembus angka 1,5 triliun dolar AS.
Coba kita rupiahkan perlahan. Kita pakai asumsi kurs Rp18.000 per dolar AS untuk kemudahan ilustrasi. Hasilnya mencengangkan. Nilainya setara Rp27.000 triliun. Atau dalam bahasa matematika tingginya: Rp27 kuadriliun.
Kepala saya yang setiap hari lebih sering memikirkan kapasitas baterai mobil listrik rasanya mau pecah. Angka itu terlalu abstrak. Kita harus membumikannya.
Mari kita pakai standar ukur paling merakyat di jalanan Indonesia. Toyota Avanza. Mobil keluarga sejuta umat. Harga awal Avanza saat ini adalah Rp244,2 juta. Angka tersebut tercantum di situs Daya Toyota.
Jika uang Rp27 kuadriliun itu dibelikan Avanza, kita akan mendapat sekitar 110,6 juta unit mobil. Tentu ini hitungan matematis kasar di atas kertas. Hitungan yang menganggap harganya tetap dan mengabaikan keterbatasan kapasitas produksi pabrik.
Tetapi coba bayangkan saja bentuk fisiknya. Seratus sepuluh juta Avanza. Kalau dijejerkan rapat bumper ke bumper di sepanjang jalan tol Trans Jawa, antreannya pasti tidak akan muat. Ruang jalannya akan habis tersita. Seluruh pabrik otomotif mungkin butuh waktu berpuluh tahun hanya untuk memenuhi pesanan fiktif tersebut. Ini adalah level nilai ukur yang rasanya sudah terputus dari realitas fisik.
Masih terlalu sulit dibayangkan? Mari kita geser pembandingnya ke skala negara.
Kementerian Keuangan telah menetapkan belanja APBN Indonesia untuk tahun 2026 sebesar Rp3.842,7 triliun. Artinya apa? Target valuasi satu perusahaan pembuat Claude ini setara dengan sekitar tujuh kali lipat total belanja seluruh negara kita dalam satu tahun.
Tujuh tahun anggaran negara. Anggaran triliunan untuk membangun jalan tol, mensubsidi energi, sampai menjalankan birokrasi raksasa. Angka kumulatif raksasa itu menyamai nilai harga satu perusahaan perangkat lunak.
Logika waras kita pasti menduga satu hal. Perusahaan sebesar ini pasti mencetak uang tunai layaknya mesin fotokopi. Pertumbuhan pendapatan mereka memang menjadi daya tarik utamanya. Keuntungannya pasti gila-gilaan sampai berani mematok harga setinggi langit.
Ternyata dugaan kita salah.
Anthropic ini faktanya masih mencatat kerugian operasi. Ya, Anda tidak salah baca. Perusahaan kecerdasan buatan dengan valuasi kuadriliun itu masih merugi. Kemampuan mereka untuk mencetak keuntungan yang berkelanjutan di masa depan masih harus dibuktikan di lapangan.
Hebat sekali. Masih berdarah-darah di laporan keuangan, tetapi berani minta dihargai setara seratus juta mobil keluarga. Di dunia teknologi masa kini, jualan masa depan memang selalu dibanderol kelewat mahal. Mereka menjual mimpi bahwa kelak kecerdasan buatan akan menjadi tulang punggung segalanya.
Sayangnya, tidak semua pihak di pasar saham mudah dibuai mimpi. Uang bernilai triliunan dolar tidak bisa diselamatkan hanya dengan narasi canggih.
Laporan The Wall Street Journal pada 5 November 2026 kemarin membuka kenyataan baru. Sejumlah investor besar rupanya mulai meragukan target valuasi selangit tersebut. Angka 1,5 triliun dolar AS itu toh memang belum menjadi valuasi final. Keraguan ini muncul bukan tanpa alasan kuat.
Pasar saham rupanya saat ini sedang tertekan. Penyebab utamanya adalah pelepasan investasi yang terkait dengan kecerdasan buatan. Bulan madu para investor dengan teknologi AI rupanya mulai menemui fase koreksi.
Para pemodal mulai kembali rasional. Mereka mulai menyaring ambisi mana yang benar-benar bisa mencetak uang nyata, dan mana yang sekadar pamer kepintaran semu. Membangun fasilitas kecerdasan buatan itu membakar modal yang sangat masif. Kebutuhan daya dan pemeliharaannya sangat tinggi.
Pada akhirnya, merangkai mimpi inovasi memang selalu memikat. Tetapi di dunia nyata, perusahaan tetap dituntut membukukan laba. Mesin Claude boleh saja sangat cerdas menelaah dokumen apa pun. Namun, kalau mesin canggih itu tidak sanggup menghasilkan uang untuk menutup biaya operasionalnya sendiri, valuasi fantastis puluhan kuadriliun itu lama-lama hanya akan menjadi halusinasi pasar.
(Cakdan)
