Jari jempol saya lumayan pegal. Gara-gara menggulir fail PDF. Isinya rilis spesifikasi mobil listrik baru. Saya membacanya di layar iPhone 16 Pro Max. HP ini memang diklaim punya layar ”raksasa”. Tetapi rasanya terlalu jangkung. Lebarnya terasa sangat kurang.
Kalau mau membaca tabel spesifikasi secara utuh, saya harus menggeser layar ke kanan.
Ribet.
Apalagi saat mengerjakannya sambil berdiri berdesakan di dalam Commuter Line rute Bogor-Jakarta.
Rupanya, keluhan ini mulai ditangkap oleh pabrikan. Tren ponsel pintar tahun 2027 berpeluang berubah arah. Arahnya bukan lagi berlomba membuat layar yang memanjang ke atas. Tetapi melebar ke samping. Bentuk bodinya akan semakin pendek dan mendekati kotak.
Huawei sudah curi start. Lewat produk bernama Pura X View. Layarnya berukuran 6,39 inci. Rasio layarnya 16:9,5. Sangat berbeda dengan proporsi ponsel kekinian yang rata-rata memanjang di angka 20:9. Tingginya cuma 144,1 milimeter. Bodi Pura X View itu pendek secara tinggi, tetapi lebar saat digenggam.
Pabrikan asal Tiongkok lainnya bersiap menyusul. Laporan GSMArena awal November lalu mengonfirmasi hal ini. Kabarnya vivo sedang meracik ponsel layar lebar untuk diluncurkan pada 2027. Laporan pembocor ulung Digital Chat Station menyebut bentang layar perangkat itu di bawah 6,5 inci. Xiaomi dan OPPO konon sedang menyiapkan racikan serupa.
Apa sih enaknya memakai HP kotak?
Pertama, soal matematika ruang. Angka diagonal layar itu sering menipu. Dua ponsel dengan ukuran 6,4 inci bisa punya luas bidang yang jauh berbeda.
Mari berhitung kasar. Bayangkan layar 6,4 inci dengan rasio jangkung 20:9. Luas bidangnya sekitar 66,7 dikali 148,2 milimeter. Coba bandingkan dengan rasio 16:10 di diagonal layar yang sama. Bidangnya melebar jadi 86,2 dikali 137,9 milimeter.
Luasnya bertambah tajam. Naik sekitar 20 persen. Lebarnya bertambah hampir dua sentimeter. Sementara tingginya susut satu sentimeter. Singkat kata: Anda mendapat layar yang jauh lebih lega tanpa harus membawa-bawa talenan berdiagonal raksasa.
Kedua, nikmatnya menonton video mendatar. Kalau Anda memutar HP untuk menonton ulasan mobil di YouTube, layar 20:9 yang jangkung akan menyisakan area hitam di sisi kiri dan kanan. Gambar videonya setara layar 5,36 inci.
Mubazir.
Bandingkan bila Anda menontonnya di layar lebar 16:10. Diagonal gambar melesat menjadi sekitar 6,23 inci. Luas area pandang Anda bertambah hingga 35 persen.
Ketiga, urusan baca-membaca. Ini yang paling saya tunggu. Membaca manga Chainsaw Man di layar lebar pasti memanjakan mata. Tabel Excel memuat kolom lebih banyak. Halaman peta digital otomatis terasa lebih luas.
Tetapi, ini bukan jalan tol tanpa lubang. Perangkat keras baru wajib didukung perangkat lunak. Aplikasi harus disesuaikan ulang. Kalau tidak, tombol-tombol antarmuka akan tertutup di sudut layar. Huawei bahkan sampai merilis panduan khusus agar para developer tidak kebingungan.
Lalu, mengapa tidak sekalian beli ponsel lipat saja?
Jawabannya klasik.
Harga.
Ponsel lipat memang memberikan kepuasan layar besar. Engsel dan panel tekuknya canggih. Tetapi biaya produksinya masih mengerikan. Laporan Omdia Agustus lalu memproyeksikan pengiriman ponsel lipat mencapai 36 juta unit pada 2028. Namun pangsa pasar pada 2030 diprediksi masih di bawah tiga persen.
Nah, ponsel lebar ini hadir sebagai jalan tengah. Memberikan bidang tampilan lapang tanpa kerumitan engsel yang rapuh.
Spesifikasinya pun tidak lantas dikorbankan. Lihat saja profil Pura X View. Ketebalan bodinya cuma 6,68 milimeter. Bobotnya ringan di angka 201 gram. Hebatnya, di dalam bodi itu ditanamkan baterai badak 7.000 mAh dan panel OLED 120 Hz.
Tantangan tersulitnya menanti di tangan para pengguna. Bodi selebar 87 milimeter itu sangat menantang. Jangkauan ibu jari Anda dipaksa lebih melar. Mungkin butuh sedikit peregangan jari ekstra sebelum mulai membalas pesan.
Apakah tren ponsel kotak ini akan berumur panjang? Kita tunggu saja pembuktiannya tahun depan. Kuncinya hanya ada tiga. Enak digenggam, aplikasinya rapi, dan harganya sepadan dengan manfaatnya.
(Cakdan)
5 Fakta Kunci
1. Huawei Pura X View memiliki layar 6,39 inci dengan rasio 16:9,5, berdimensi 144,1 milimeter (tinggi) dan 87 milimeter (lebar).
2. Layar 16:10 memberikan penambahan luas sekitar 20 persen lebih besar ketimbang rasio 20:9 pada ukuran diagonal layar 6,4 inci yang sama.
3. Luas gambar untuk video horizontal (16:9) bertambah sekitar 35 persen bila diputar di layar 16:10 (diagonal gambar 6,23 inci) dibandingkan layar 20:9 (diagonal gambar 5,36 inci).
4. Spesifikasi Huawei Pura X View dibekali dengan baterai 7.000 mAh, layar OLED 120 Hz, ketebalan 6,68 milimeter, dan bobot 201 gram.
5. Omdia memproyeksikan pengiriman ponsel lipat mencapai 36 juta unit pada 2028, namun dengan pangsa pasar global pada 2030 diprediksi di bawah 3 persen.
FAQ
Apa yang membedakan HP desain baru di 2027 dengan desain saat ini?
Ponsel baru ini memangkas tinggi bodi dan menambah dimensi lebarnya, sehingga layar memiliki proporsi yang semakin mendekati kotak (format candy bar tanpa tekukan).
Apakah HP berlayar kotak ini bisa dilipat?
Tidak. Bidang tampilannya diperbesar murni dengan cara mengubah proporsi panel tanpa menggunakan engsel atau mekanisme lipat.
Merek apa saja yang sedang mengembangkan ponsel tipe kotak ini?
Selain Huawei yang sudah memulainya lewat seri Pura X View, laporan menyebut vivo, Xiaomi, dan OPPO dikabarkan tengah menyiapkan lini produk serupa untuk diluncurkan pada 2027.
Apa tantangan utama saat memakai ponsel berbentuk kotak melebar?
Dengan lebar yang bisa mencapai 87 milimeter, ibu jari pengguna akan bekerja lebih ekstra saat dioperasikan dengan satu tangan. Aplikasi juga harus didesain ulang agar antarmukanya tidak terpotong di sudut layar.
