Otomotif · Teknologi · Narasi di baliknya

PC Baru Huawei Diklaim 100 Persen Buatan China

Dua unit komputer desktop Huawei Qingyun HM650 di samping monitor.

Pagi ini saya menyalakan laptop. Mengetik di lounge keberangkatan bandara, menunggu panggilan boarding untuk sebuah peliputan. Saya menatap perlahan antarmuka Windows yang sedang memuat di layar.

Rasanya sulit membayangkan kerja lapangan jurnalis tanpa sistem operasi ini. Tapi di Tiongkok, Huawei sedang mencoba melawan kemustahilan itu.

Mereka baru saja memperkenalkan sebuah komputer meja. Namanya seri Qingyun HM650. Ada juga varian HM650G. Keduanya diluncurkan awal November 2026 ini. Target pasarnya jelas. Instansi pemerintah dan perusahaan.

Klaim peluncurannya sangat berani. Mereka menyebut seluruh komponen PC ini seratus persen buatan Tiongkok. Seratus persen. Tanpa kompromi. Tanpa campur tangan perangkat Intel atau AMD di dalam mesinnya.

Pemeriksaannya pun dilakukan oleh lembaga resmi di sana. Namanya Zhejiang Kezheng Electronic Information Product Inspection.

Tapi tunggu dulu. Klaim mentereng ini butuh pembacaan yang lebih jeli. Keterangan itu sebenarnya memberi satu batas yang sangat penting. Yang dinilai murni asal komponen fisiknya. Tempat suku cadang itu dirakit dan diproduksi.

Apakah kekayaan intelektualnya juga murni domestik? Belum tentu.

Mari kita bedah cara kerjanya. Komputer ini memakai otak Kirin X90. Ia menendang keluar dominasi Intel dan kawan-kawan. Tetapi kita harus memisahkan antara pabrikan pembuat cip dan arsitektur instruksinya.

Prosesor itu ibarat mesin ketik. Arsitektur adalah bahasanya. Intel dan AMD adalah perakit mesin. Keduanya memakai keluarga bahasa x86-64. Kesamaan bahasa inilah yang membuat program Windows biasa bisa berjalan mulus di laptop Anda.

Lalu bagaimana dengan platform Kirin milik Huawei? Cip ini ternyata menggunakan lingkungan ARM64. Halaman spesifikasi Huawei memang tidak merinci detail arsitektur instruksi X90. Tetapi logikanya sederhana. Cip rancangan sendiri tidak otomatis membuang bahasa dari luar. ARM sendiri adalah keluarga arsitektur instruksi yang digunakan secara global.

Dua perusahaan bisa saja merakit mesin yang benar-benar berbeda. Namun keduanya tetap tunduk pada aturan bahasa instruksi yang sama. Jadi, raga komponennya memang dicetak di Tiongkok, tetapi jiwa instruksinya tetap mengandalkan fondasi arsitektur ARM.

Namun masalah sesungguhnya bukan di dalam rakitan perangkat keras. Melainkan di layar yang ditatap pengguna. Perangkat lunaknya.

Bagi orang kantoran biasa, pergantian merek prosesor itu hanya urusan teknisi di balik layar. Pergantian sistem operasi baru terasa di ujung jari. Komputer HM650 ini menjalankan HarmonyOS. Bukan Windows.

Mentang-mentang prosesor dan bahasanya canggih, bukan berarti aplikasi Windows bisa langsung berjalan. Aplikasi itu butuh dukungan sistem operasi. Bukan sekadar butuh prosesor yang paham kodenya.

Solusi daruratnya memang ada. Pengguna bisa memakai perangkat lunak mesin virtual. Salah satunya disediakan oleh Kaï Master. Mesin ini akan memaksa Windows versi ARM untuk berjalan di dalam kerangkeng HarmonyOS.

Tapi ini seperti menyuruh Honda Freed putih saya melaju kencang di lintasan off-road. Pasti banyak hambatannya. Kaï Master sendiri mengakui ada banyak keterbatasan. Terutama untuk memutar gim atau aplikasi yang berat di pengolahan grafis.

Klaim seratus persen domestik ini memang terdengar gagah di brosur pemerintah. Namun komponen lokal tidak otomatis membuat HM650 melesat lebih kencang dari racikan Intel atau AMD.

Bagi calon pengguna, pertanyaannya hanya tersisa satu. Bisakah semua tenggat pekerjaan diselesaikan tanpa aplikasi Windows yang biasa mereka pakai? Nasionalisme teknologi itu memang membanggakan. Namun mengorbankan kenyamanan aplikasi harian ternyata urusannya bisa jauh lebih melelahkan.

(Cakdan)