Ketua Umum Perkumpulan Industri Kendaraan Listrik Indonesia (Periklindo) Moeldoko memperingatkan: bila kendaraan listrik melonjak tanpa SPKLU memadai, antrean panjang hampir pasti terjadi.
Ia menyampaikannya di Jakarta, Senin (2/11/2026), seperti dilansir Suara.com. Situasi itu ia sebut “chaos”. Soal SPKLU –stasiun pengisian kendaraan listrik umum, pom bensinnya mobil listrik– ia menilai ketersediaannya belum baik.
Listriknya juga jadi soal. Menurut Moeldoko, pemakaian kendaraan listrik besar-besaran menaikkan kebutuhan listrik nasional. Ketahanan energi, katanya, bisa terganggu bila tak diantisipasi. Ia menegaskan: “Begitu masif-nya kita menggunakan EV, maka elektrifikasi PLN harus siap-siap. Tidak akan cukup.” Pemerintah dan PLN ia minta menghitung tambahan pembangkit dan jaringan sejak dini.
Seberapa siap SPKLU hari ini? Menurut Kontan, PLN punya 5.000 unit di 3.162 lokasi. Antrean nasional rata-rata 1,3 kendaraan per konektor per hari.
Hitungan redaksi: sekitar 223.000 mobil listrik dibagi 5.000 unit SPKLU, hasilnya sekitar 45 mobil per unit. Tiga catatan. Angka mobil per April 2026 dari GridOto, mengutip Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita. Angka SPKLU per Mei 2026. Motor listrik juga memakai SPKLU.
Di sisi lain, PLN bernada berbeda. Dalam liputan Kontan soal peresmian SPKLU Center Tanjung Priok pada 20 Mei 2026, Direktur Retail dan Niaga PLN Adi Priyanto berkata: “Pengguna kendaraan listrik tidak perlu khawatir kehabisan daya di tengah perjalanan.”
Data PLN sampai April 2026: sekitar 34 persen pengguna mengisi daya di SPKLU. Sekitar 66 persen di rumah. Berarti SPKLU bukan satu-satunya tumpuan.
Moeldoko pun melihat sisi terang: momentum memperkuat industri nasional dan membangun industri otomotif baru. Ia mengakui persaingan dengan kendaraan konvensional berat. Pasarnya sendiri tancap gas. Menurut Kontan, data Gaikindo mencatat penjualan seluruh mobil wholesales Januari-September 2026 sebanyak 679.020 unit, naik 21 persen.
Dugaan paling masuk akal: yang dikhawatirkan Moeldoko bukan antrean hari ini, melainkan selisih kecepatan. Mobil bisa dijual tiap hari. Colokan dan pembangkit tidak. Rapi juga urutannya kalau dibiarkan: mobil dulu, colokan kemudian, pembangkit belakangan. Tapi ini peringatan, bukan laporan kejadian.
Cukup atau cukup sabar? Hari ini sabarnya masih ringan: antrean rata-rata 1,3 kendaraan per konektor per hari. Besok tergantung siapa yang bertambah lebih cepat: mobil atau colokan.
Ringkasan
Ketua Umum Periklindo Moeldoko meminta pemerintah dan PLN mengantisipasi lonjakan kendaraan listrik, terutama ketersediaan SPKLU dan tambahan kapasitas listrik. Ia memperingatkan antrean panjang dan gangguan ketahanan energi jika ekosistem tidak siap. PLN sebelumnya menyatakan pengguna tidak perlu khawatir kehabisan daya di tengah perjalanan.
Fakta Kunci
- PLN punya 5.000 unit SPKLU di 3.162 lokasi se-Indonesia (Kontan, Mei 2026).
- Antrean nasional rata-rata 1,3 kendaraan per konektor per hari.
- Sekitar 34 persen pengguna mengisi daya di SPKLU dan sekitar 66 persen di rumah (data PLN sampai April 2026).
- Penjualan mobil wholesales Januari-September 2026 sebanyak 679.020 unit, naik 21 persen (data Gaikindo).
- Hitungan redaksi: sekitar 223.000 mobil listrik dibagi 5.000 unit SPKLU menghasilkan sekitar 45 mobil per unit (campuran data April dan Mei 2026; SPKLU juga melayani motor listrik).
FAQ
Apa yang diperingatkan Moeldoko? Bila kendaraan listrik bertambah pesat tanpa SPKLU memadai, antrean panjang hampir pasti terjadi dan kebutuhan listrik nasional naik besar sehingga bisa mengganggu ketahanan energi.
Apakah antrean SPKLU sudah parah sekarang? Belum ada laporan kejadian semacam itu dalam bahan. Menurut Kontan, antrean nasional rata-rata 1,3 kendaraan per konektor per hari.
Apa tanggapan PLN? Direktur Retail dan Niaga PLN Adi Priyanto berkata: “Pengguna kendaraan listrik tidak perlu khawatir kehabisan daya di tengah perjalanan.” Sekitar 66 persen pengisian daya juga dilakukan di rumah.
