Biaya personel Anthropic melampaui USD1,7 miliar pada kuartal ketiga 2026, rata-rata USD322.000 per pekerja. Pekerjanya 5.300 orang.
Angka itu tercatat di S-1 –berkas pendaftaran IPO– amandemen yang dirilis Senin, 2 November. Penawaran sahamnya dijadwalkan akhir bulan ini, menurut Business Insider. Tanggal pastinya masih kosong. Rentang harganya juga.
Hitungan redaksi: USD322.000 dibagi tiga bulan, sekitar USD107.000 sebulan. Dengan kurs Rp17.900, itu sekitar Rp1,9 miliar per orang. Setiap bulan. Bandingkan dengan slip gaji sendiri. Selisihnya lebih mudah dirasakan daripada dihitung.
Berarti gajinya Rp1,9 miliar sebulan? Bukan. Biaya personel mencakup gaji tunai, bonus, tunjangan, dan pajak penggajian pemberi kerja. Bagian terbesarnya kompensasi berbasis saham: USD1,1 miliar pada kuartal itu.
Hitungan redaksi: USD1,1 miliar dari USD1,7 miliar sekitar 65 persen. Hampir dua dari tiga dolar berupa jatah saham, bukan uang tunai. Opsi saham itu hak membeli saham di harga lama –makin mahal harga barunya, makin tebal selisihnya. Menurut Business Insider, opsi karyawan yang baru dua tahun bekerja sudah bernilai beberapa kali lipat. IPO akan melahirkan kelompok jutawan baru.
Di sisi lain, rasio terhadap pendapatan justru mengecil. Pada 2023, biaya personel lebih dari dua kali pendapatan. Sekarang? Selama sembilan bulan pertama 2026, biaya personel USD4,8 miliar dari pendapatan USD33,2 miliar. Itu sekitar 15 persen, menurut Business Insider.
Pendapatan tahunan per karyawan Anthropic: USD6,6 juta. Perkiraan Meta USD3,2 juta dan Google USD2,5 juta, menurut laporan Business Insider pekan lalu. Jumlah karyawan Anthropic naik lima kali lipat sejak akhir 2024. Meta tetap jauh lebih besar: sekitar 67.000 orang.
Angkanya bisa naik lagi. Per akhir September, ada lebih dari USD32 miliar biaya kompensasi saham yang belum dibukukan. IPO yang sukses akan mendorong biaya personel kuartal berikutnya.
Dokumen S-1 Anthropic itu menulis: “Kepadatan talenta lebih penting daripada massa talenta.” Padat talenta, belum bisa dibuktikan dari dokumen itu. Padat tagihan, sudah: Rp1,9 miliar per orang sebulan, sebagian besar berupa saham, bukan tunai.
