Otomotif · Teknologi · Narasi di baliknya

Mobil listrik laris, laba Volkswagen malah ambrol 98,7 persen

Pekerja merakit mobil Volkswagen di lini produksi pabrik

Laba Volkswagen anjlok 98,7 persen dalam sembilan bulan 2026, padahal penjualan mobil listriknya naik 39 persen. Kok bisa? Penyebabnya berlapis.

Menurut laporan TopGear, laba operasi grup tinggal EUR71 juta. Periode sama 2025: EUR5,4 miliar. Hitungan redaksi: EUR71 juta itu hanya sekitar 1,3 persen dari laba tahun lalu.

Pengiriman kendaraan turun 10,6 persen, dari hampir 6,6 juta unit jadi 5,9 juta unit. Biaya sekali-jalan EUR8,7 miliar ikut menggerus laba. Seperti dilansir Reuters, kuartal ketiga saja rugi operasi EUR5,9 miliar. Menurut Forbes, itu lebih dari dua kali perkiraan analis.

Direktur Keuangan dan Direktur Operasional Grup Volkswagen, Arno Antlitz, tidak berputar-putar. Grup kini menghasilkan laba lebih kecil dari mobil listrik dibanding dari mobil bermesin pembakaran, katanya. Forbes, yang mencatat penjualan mobil listrik naik 39 persen, mengutip penjelasannya: “Peningkatan pangsa mobil listrik jauh lebih cepat daripada penurunan biaya.”

Ibaratnya warung yang antreannya mengular, tetapi untung per porsi lebih tipis daripada menu lama. Mobilnya laris. Untungnya yang lari.

Rincian mereknya timpang. Porsche naik ke EUR1,5 miliar sebelum bunga dan pajak. Merek “progresif” –Audi, Bentley, Lamborghini, dan Ducati– turun 26 persen jadi EUR1,2 miliar. Sebabnya penjualan di China dan Amerika Utara melemah. Skoda yang kuat menutup lemahnya merek Volkswagen.

Awal 2026 grup mengumumkan rencana menutup hingga empat pabrik dan memangkas sekitar separuh dari 150 model. Kata Antlitz: “Hasil sembilan bulan ini menegaskan satu hal: kita tidak boleh kehilangan waktu dan harus bertindak cepat dan tegas.”

Di sisi lain, mobil listrik sudah 40 persen dari buku pesanan. UBS memperkirakan margin operasi stabil sekitar 4 persen tahun depan. Model kecil baru –ID Polo, ID Cross, Skoda Epiq, dan Cupra Raval– diharapkan membantu laba mulai 2027.

Hitungan redaksi: rugi kuartal ketiga USD6,6 miliar, menurut Forbes, sekitar Rp118,1 triliun. Itu bukan rugi kios pulsa. Dugaan paling masuk akal: pabrikan yang terjepit di China dan tipis margin di kandang sendiri akan lebih pelit diskon dan lebih pilih-pilih model. Bagi pembeli Indonesia, tanyakan harga jual kembali, biaya servis, dan suku cadang sebelum tergiur kata “terjangkau”.

Laris dan untung ternyata dua urusan berbeda. Volkswagen membayar mahal pelajarannya: penjualan listrik naik 39 persen, laba ambrol 98,7 persen.

Ringkasan

Laba operasi Grup Volkswagen turun 98,7 persen menjadi EUR71 juta dalam sembilan bulan 2026, menurut laporan TopGear. Penjualan mobil listrik naik 39 persen, tetapi biaya sekali-jalan, pengiriman yang turun, dan untung tipis dari mobil listrik menekan hasil. Pemulihan margin diharapkan bertahap, dengan model kecil baru membantu laba mulai 2027.

Fakta Kunci

FAQ

Kenapa laba Volkswagen anjlok padahal penjualan mobil listrik naik? Biaya sekali-jalan EUR8,7 miliar, pengiriman yang turun, dan pasar China serta Amerika Utara yang melemah menekan laba. Menurut Direktur Keuangan Arno Antlitz, laba dari mobil listrik juga masih lebih kecil daripada dari mobil bermesin pembakaran.

Berapa rugi operasi Volkswagen pada kuartal ketiga 2026? EUR5,9 miliar, atau sekitar USD6,6 miliar menurut Forbes. Dengan kurs 1 USD = Rp17.900, itu sekitar Rp118,1 triliun (hitungan redaksi).

Kapan Volkswagen berharap labanya pulih? UBS memperkirakan margin operasi stabil sekitar 4 persen tahun depan, dan model kecil baru diharapkan membantu laba mulai 2027. Margin dan paritas biaya mobil listrik diharapkan sekitar 2030.