Otomotif · Teknologi · Narasi di baliknya

Listrik Toyota Naik Dua Kali Lipat, Lubang China Belum Tertutup

Mobil listrik Toyota bZ4X tampak depan samping

Penjualan global Toyota turun 3,4 persen sepanjang Januari sampai September, padahal mobil listrik baterainya laku 309.766 unit, naik 127,4 persen. Angka itu gabungan Toyota dan Lexus.

Kok bisa naik dan turun sekaligus? Satu kata: China.

Seperti dilansir Reuters, penjualan global September 860.107 unit, turun 2,2 persen. Itu penurunan bulanan ketiga berturut-turut. Di China, penjualan September turun 19,7 persen. Bulanan kedelapan berturut-turut.

Menurut Electrek, sembilan bulan di sana hanya sedikit di atas 1,05 juta unit, turun 18,9 persen. Jepang lebih besar: 1,19 juta unit.

Hitungan redaksi: turun 3,4 persen dari 7,51 juta unit berarti tahun lalu sekitar 7,77 juta. Selisihnya sekitar 264 ribu. Di China, turun 18,9 persen dari 1,05 juta berarti hilang kira-kira 245 ribu. Hampir seluruh lubang ada di satu negara.

Mobil listrik baterai –yang dicas dari colokan, bukan diisi di pom bensin– menambal sebagian. Hitungan redaksi: naik 127,4 persen berarti tahun lalu sekitar 136 ribu unit. Tambahannya sekitar 174 ribu. Tambalan 174 ribu melawan lubang 245 ribu: kalah. Pangsanya baru sekitar 4,1 persen. Dari 100 mobil, empat berbaterai.

Dalam pernyataan tertulis, seperti dikutip Electrek, Toyota menyebut “pasar kendaraan bensin dan hibrida terdampak terutama”. Menurut CBT News, harga bensin yang lebih tinggi di China menekan permintaan. Ironinya rapi: bensin mahal, yang rugi justru penjual mobil berbensin.

Di sisi lain, Toyota tidak rontok di semua tempat. Penjualan di Amerika Serikat naik 8,4 persen. Jepang pada September naik 1,8 persen. Timur Tengah turun 29,8 persen. Volkswagen Group lebih parah –penjualan kuartal III di China turun 38 persen menjadi 405.800 unit, menurut Electrek.

Bagaimana dengan Indonesia? Datanya tidak ada di bahan ini, jadi yang ada hanya opini. Dugaan paling masuk akal: Toyota makin giat menjual mobil listrik di pasar lain. Di sini Toyota pemain besar, pembeli masih banyak bersandar pada bensin dan hibrida, dan mobil China sudah masuk. Pembeli dan diler layak bersiap melihat pilihan listrik yang kian ramai.

Skornya begini: listrik naik dua kali lipat, lubang China belum tertutup.

Ringkasan

Penjualan global Toyota dan Lexus turun 3,4 persen pada Januari sampai September 2026 menjadi 7,51 juta unit, meski penjualan mobil listrik baterai naik 127,4 persen menjadi 309.766 unit. Penurunan terutama datang dari China, tempat penjualan turun 19,7 persen pada September. Toyota menyebut pasar kendaraan bensin dan hibrida terdampak terutama.

Fakta Kunci

  • Penjualan global Toyota (termasuk Lexus) September 2026: 860.107 unit, turun 2,2 persen, penurunan bulanan ketiga berturut-turut.
  • Penjualan mobil listrik baterai Toyota dan Lexus Januari-September 2026: 309.766 unit, naik 127,4 persen.
  • Penjualan total Januari-September: 7,51 juta unit, turun 3,4 persen.
  • Penjualan di China September turun 19,7 persen, penurunan bulanan kedelapan berturut-turut.
  • Penjualan di Amerika Serikat naik 8,4 persen, di Timur Tengah turun 29,8 persen.

FAQ

Mengapa penjualan Toyota turun padahal mobil listriknya naik? Karena penurunan di China dan wilayah lain lebih besar daripada tambahan penjualan mobil listrik; pangsa mobil listrik baru sekitar 4,1 persen dari total (hitungan redaksi).

Apa penyebab turunnya penjualan Toyota di China? Toyota menyebut pasar kendaraan bensin dan hibrida terdampak terutama; menurut CBT News, harga bensin yang lebih tinggi di China menekan permintaan.

Apakah ada data penjualan Toyota di Indonesia? Tidak ada data Indonesia dalam laporan ini.