Dihujat. Dicibir. Lalu dipesan.
Itu nasib Ferrari Luce sepanjang 2026.
Mei lalu, mobil listrik pertama Ferrari itu diperkenalkan. Lima kursi. Dirancang Jony Ive, mantan kepala desain Apple. Internet langsung bersidang, dan putusannya cepat: jelek. Saham Ferrari ikut turun sekitar 8 persen setelah debut.
Sekarang November. Jatah produksi Luce untuk 2027 sudah habis.
CEO Benedetto Vigna menyebutnya “fully allocated”: setiap unit yang akan dibuat sudah punya pembeli. “Kalau ada yang datang sekarang, dia harus menunggu satu tahun,” ujarnya saat memaparkan kinerja kuartal III, Selasa (3/11/2026). Buku pesanan Ferrari secara keseluruhan kini menjangkau 2028, seperti dilansir Reuters.
Siapa pembelinya? Vigna tidak mau membuka. Ia hanya menyebut campurannya baik, dari sisi klien maupun negara. Saya tidak tahu siapa mereka. Ferrari memang jarang bercerita soal pelanggannya.
Harganya mulai sekitar USD615.000. Dengan kurs Rp17.900, itu sekitar Rp11 miliar. Itu harga awal, belum kustomisasi.
Kolom komentar memang ramai. Bukti setor uang mukanya, tidak ada satu pun.
Berapa unit yang dibuat? Ferrari tidak pernah mengumumkan. Menurut Financial Times, rencananya kurang dari 500 unit tahun ini dan 2.500 unit pada 2030. Analis BofA menduga sekitar 900 unit setahun pada 2027–2028.
Mari berhitung sederhana. Pakai 600 unit setahun: dugaan saya, bukan angka Ferrari. Kali USD615.000 jadi USD369 juta, sekitar Rp6,6 triliun. Dalam euro, sekitar 317 juta. Itu kira-kira 4 persen dari target pendapatan Ferrari tahun ini yang sekitar 7,65 miliar euro.
Empat persen. Jadi Luce, untuk sementara, bukan tiang utama. Lebih mirip topi mahal di atas kepala.
Tiang utamanya ada di tempat lain. Laba inti kuartal III (EBITDA, yakni laba sebelum bunga, pajak, dan penyusutan: ibarat uang di dompet sebelum dipotong cicilan dan servis) naik 12 persen menjadi 753 juta euro. Perkiraan analis hanya 739 juta euro. Target laba inti setahun dinaikkan menjadi minimal 3 miliar euro dari 2,97 miliar euro. Saham sempat naik 4,7 persen.
Pendorongnya personalisasi: sentuhan akhir sesuai selera pembeli, dibayar ekstra. Bayangkan memilih sendiri warna cat dan serat karbon, lalu menerima tagihannya. Porsinya lebih dari 21 persen pendapatan mobil dan suku cadang. Ditambah hypercar F80 seharga 3,6 juta euro per unit, sekitar Rp75 miliar. Hampir tujuh Luce dalam satu bodi.
Pengiriman sendiri turun 33 unit menjadi 3.368. Ferrari untung bukan karena menjual lebih banyak, tapi karena menjual lebih mahal.
Adil dulu: antrean panjang tidak otomatis berarti cinta. Sejumlah pengamat mengingatkan, sebagian pemesan bisa jadi kolektor yang menjaga posisi di daftar tunggu model edisi terbatas. Ferrari sendiri berhati-hati. Target mobil listrik dalam lini produknya dipangkas menjadi 20 persen pada 2030, dari semula 40 persen. Pengiriman perdana Luce pun baru dimulai kuartal ini, dan uji coba media serta pelanggan baru dijadwalkan awal 2027.
Laris di buku pesanan belum tentu laris di garasi.
Antrean KRL jam tujuh pagi di Manggarai pun kalah rapi dari ini. Bedanya, tidak ada yang rela menunggu setahun di peron.
Kalau tujuannya membaca selera pasar, jangan mulai dari kolom komentar. Mulailah dari buku pesanan.
Netizen punya kolom komentar. Pembeli punya nomor antrean.
