Pabrikan mobil Amerika Serikat masih meminta larangan permanen kendaraan China, padahal tarif atas mobil listrik China sudah lebih dari 100 persen. Permintaan itu muncul Senin, 2 November 2026, seperti dilansir Reuters. Pengirimnya: Alliance for Automotive Innovation, wakil hampir semua pabrikan besar. Anggotanya antara lain General Motors, Toyota, dan Volkswagen.
Sasarannya Kongres. Anggota parlemen diminta meloloskannya pekan depan. Kongres kembali untuk sesi singkat setelah pemilu paruh waktu.
Kepala Alliance, John Bozzella, menyebut alasannya. “Kita perlu melindungi pasar AS dari banjir impor China,” ujarnya. Ia juga merujuk “risiko keamanan nasional yang jelas” dan “pola perilaku tidak adil” China.
Untuk apa pagar ketiga kalau pagar sudah dua lapis? Lapis pertama: tarif lebih dari 100 persen. Lapis kedua: aturan era pemerintahan Biden awal 2025. Isinya praktis melarang pabrikan China menjual atau membuat mobil penumpang di AS, dengan alasan data pengemudi sensitif.
Bozzella sendiri, menurut Carscoops, menyebut ancamannya “belum terjadi di dalam AS”. Jadi ini pencegahan. Rajin sekali.
Pada September, Presiden Donald Trump mengatakan kepada Fox News bahwa ia akan menerima perusahaan mobil China membangun mobil di AS. Itu membuat pabrikan khawatir. Dugaan paling masuk akal: mereka ingin pagar yang tidak bisa dibongkar lewat satu wawancara.
Soal banjir, Eropa memberi gambaran. Impor kendaraan China oleh Uni Eropa lebih dari 1,1 juta unit pada delapan bulan pertama 2026. Itu melebihi seluruh 2025.
Di sisi lain, Kementerian Luar Negeri China meminta AS “menghormati hukum ekonomi pasar dan prinsip persaingan yang adil”. Usulan terhadap perusahaan China, katanya, adalah “penekanan yang tidak masuk akal”. Ironi ada di klub sendiri, tulis Carscoops. Anggota Alliance termasuk Volvo, yang dimiliki penuh Geely asal China, dan Mercedes-Benz, yang hampir 20 persen sahamnya dipegang investor China.
RUU itu lolos komite Senat pada Juli. Tapi sebagian staf Kongres dan pelobi khawatir waktunya tidak cukup. Sesi berakhir Desember. Cemasnya bertambah bila Demokrat menguasai Kongres. Hitungan redaksi: Juli ke Desember lima bulan, dan undang-undangnya belum ada.
Dugaan lain, dari Indonesia: banjir? Bagi pembeli di sini –yang sudah akrab dengan merek China– itu cuma pilihan di diler yang bertambah.
Jadi pagar sudah dua lapis. Yang diminta pabrikan Amerika kini gembok permanen: yang tidak bisa dibuka lewat satu wawancara televisi.
Ringkasan
Alliance for Automotive Innovation, kelompok yang mewakili hampir semua pabrikan besar di Amerika Serikat, meminta Kongres meloloskan larangan permanen kendaraan China saat kembali bersidang pekan depan. Tarif atas mobil listrik China sudah lebih dari 100 persen dan aturan era Biden sudah praktis melarang pabrikan China menjual atau membuat mobil penumpang di AS. Pihak China menyebut usulan itu sebagai penekanan yang tidak masuk akal.
Fakta Kunci
- Alliance for Automotive Innovation meminta Kongres meloloskan larangan permanen kendaraan China saat kembali bersidang pekan depan, menurut Reuters pada 2 November 2026.
- AS mempertahankan tarif lebih dari 100 persen untuk mobil listrik China.
- Komite Senat meloloskan RUU larangan itu pada Juli, dan sesi Kongres berakhir Desember.
- Impor kendaraan China oleh Uni Eropa lebih dari 1,1 juta unit pada delapan bulan pertama 2026, melebihi seluruh 2025.
- Volvo dimiliki penuh Geely, dan hampir 20 persen saham Mercedes-Benz dipegang investor China, menurut Carscoops; keduanya anggota Alliance.
FAQ
Siapa yang meminta larangan permanen kendaraan China di AS? Alliance for Automotive Innovation, kelompok yang mewakili hampir semua pabrikan besar di AS. Kepalanya, John Bozzella, menyebut risiko keamanan nasional dan pola perilaku tidak adil China.
Bukankah mobil China sudah dibatasi di AS? Ya. AS mempertahankan tarif lebih dari 100 persen untuk mobil listrik China, dan aturan era Biden awal 2025 praktis melarang pabrikan China menjual atau membuat mobil penumpang di AS dengan alasan data pengemudi sensitif.
Apa tanggapan China? Kementerian Luar Negeri China meminta AS menghormati hukum ekonomi pasar dan prinsip persaingan yang adil, serta menyebut usulan terhadap perusahaan China sebagai penekanan yang tidak masuk akal.
