Penulis: Cakdan

  • Jaecoo J5 EV Kejar BYD Atto 1, Pasar BEV Menyusut

    Jaecoo J5 EV Kejar BYD Atto 1, Pasar BEV Menyusut

    Pasar turun 7,89 persen, tapi jarak dua model teratas justru mengerut.

    Pasar mobil listrik September 2026 menyusut 7,89 persen. Hampir semua merek ikut mengecil. Satu tidak: Jaecoo J5 EV.

    Totalnya 16.043 unit, turun dari sekitar 17.400 unit pada Agustus. Tapi jangan buru-buru menyebutnya jatuh. Agustus mencatat rekor bulanan tertinggi sepanjang 2026. September hanya turun dari puncak.

    Saya membaca ulang data wholesales Gaikindo. Wholesales artinya penjualan pabrik ke diler: mobil yang sudah keluar dari gudang pabrik –belum tentu keluar dari showroom ke tangan pembeli. Ingat itu. Kita kembali ke sana di ujung.

    BYD Atto 1 masih di puncak dengan 4.840 unit. Tapi bulan sebelumnya 5.560. Hilang 720 unit, atau 12,95 persen. Jaecoo J5 EV mencatat 3.276 unit, naik dari 3.214. Naiknya cuma 62 unit. Kecil. Namun di pasar yang sedang turun, naik 62 unit itu seperti berjalan ke atas di eskalator yang bergerak ke bawah.

    Hitung sendiri. Agustus: 5.560 dikurangi 3.214 sama dengan 2.346. September: 4.840 dikurangi 3.276 sama dengan 1.564. Berarti jarak keduanya mengerut 782 unit dalam sebulan. Pangsa Atto 1 menyusut dari 31,9 persen menjadi 30,2 persen. Pangsa J5 naik dari 18,5 persen menjadi 20,4 persen.

    Atto 1 masih juara bulan ini. Ups… juara bulan ini, bukan juara tahun ini. Akumulasi Januari–September, J5 EV ada di depan dengan 26.635 unit. Atto 1 di belakangnya dengan 24.749 unit. Selisihnya 1.886 unit.

    Hampir semua J5 berasal dari varian Premium: 26.514 unit, sekitar 99,5 persen. Varian Standard hanya 121 unit. Apakah pembeli sengaja menghindari yang murah? Saya tidak tahu. Yang saya tahu: ini angka kiriman pabrik, dan stok bisa lebih menentukan daripada selera. Atto 1 punya cerita lain. Varian terlarisnya Dynamic rakitan lokal (completely knocked down/CKD), 9.066 unit.

    Di bawah dua nama itu, pasar mengerucut. Geely EX2 naik dari 1.595 menjadi 1.890 unit, atau 18,5 persen. MG S5 EV melonjak 54,4 persen: dari 428 menjadi 661 unit. Wuling Aira EV naik dari 754 ke 855 unit, VinFast VF 3 dari 341 ke 374. Tiga model teratas kini menguasai 62,4 persen pasar, naik dari 59,5 persen. Yang besar makin besar.

    Yang kecil? Rontok. Saya mencari kata yang lebih halus. Tidak ketemu. BYD M6 anjlok dari 679 ke 379 unit, turun 44,2 persen. Geely EX5 merosot dari 487 ke 353 unit. Wuling Darion EV, yang pada Agustus mencatat 443 unit, tak lagi masuk sepuluh besar. Dari selisih akumulasi, BYD Atto 3 tinggal 84 unit dari 363, dan AION V 188 unit dari 563.

    Sekarang kembali ke wholesales. Angka ini mencatat siapa yang dikirim, bukan siapa yang dipilih. Napas pendek setelah rekor, atau awal pergeseran selera? Belum ada yang bisa memastikan, termasuk saya. Yang pasti, takhta bulan ini masih milik Atto 1. Takhta sembilan bulan sudah di tangan J5. Dua takhta, satu pasar, dan pembeli yang akan menentukan sisanya.

    Mobil listrik terlaris September 2026 (unit, wholesales, dibandingkan Agustus)

    1. BYD Atto 1: 4.840 (Agustus 5.560, turun 12,95 persen)
    2. Jaecoo J5 EV: 3.276 (Agustus 3.214, naik 1,93 persen)
    3. Geely EX2: 1.890 (Agustus 1.595, naik 18,5 persen)
    4. Wuling Aira EV: 855 (Agustus 754, naik 13,4 persen)
    5. MG S5 EV: 661 (Agustus 428, naik 54,4 persen)
    6. iCAR V23: 500 (Agustus 500, tetap)
    7. Wuling Binguo EV: 430 (tidak masuk sepuluh besar Agustus)
    8. BYD M6: 379 (Agustus 679, turun 44,2 persen)
    9. VinFast VF 3: 374 (Agustus 341, naik 9,7 persen)
    10. Geely EX5: 353 (Agustus 487, turun 27,5 persen)

    Total BEV September 2026: 16.043 unit, turun 7,89 persen dari bulan sebelumnya.

    Mobil listrik terlaris Januari-September 2026 (unit, wholesales)

    1. Jaecoo J5 EV: 26.635
    2. BYD Atto 1: 24.749
    3. Geely EX2: 11.659
    4. BYD M6 (BEV): 7.073
    5. BYD Sealion 7: 4.266
    6. Wuling Darion EV: 4.020
    7. Denza D9: 3.009
    8. MG S5 EV: 2.914
    9. Geely EX5: 2.760
    10. VinFast VF 3: 2.447
    11. AION V: 2.416
    12. Wuling Aira EV: 2.330
    13. AION UT: 2.010
    14. Wuling Eksion EV: 1.915
    15. BYD Atto 3: 1.778
    16. XPENG X9: 1.612
    17. Chery J6T: 1.216
    18. Wuling Binguo EV: 1.214
    19. XPENG G6: 1.133
    20. iCAR V23: 1.000

    (Cakdan)

  • Porsche Tolak Bikin Supercar Listrik: ”Tidak Ada Permintaan”

    Porsche Tolak Bikin Supercar Listrik: ”Tidak Ada Permintaan”

    Pabrik yang sama sudah menyetrum Taycan, Macan, dan Cayenne.

    Porsche akhirnya jujur: tidak ada yang minta.

    Yang tidak diminta itu supercar listrik. Mobil bermesin tengah yang akan duduk di atas 911 tidak akan punya versi baterai murni.

    Porsche Mission S dilihat dari depan tiga perempat
    Porsche Mission S dari sudut depan. Platform di bawahnya disiapkan untuk mesin bakar dan hibrida, bukan baterai murni.

    CEO Porsche Michael Leiters menjelaskannya tanpa basa-basi. ”Tidak akan ada mobil listrik berbaterai di platform itu karena tidak ada permintaan di segmen ini untuk mobil listrik di sana,” ujarnya, dilansir Motor1.com, Senin (19/10/2026).

    Porsche Mission S berlatar gedung-gedung New York
    Mission S berlatar gedung-gedung New York. Lampu depan bulat khas Porsche dipertahankan.

    Tunggu. Porsche yang sama? Yang membuat Taycan, Macan, dan Cayenne listrik? Betul. Yang tahun depan membawa 718 Boxster dan Cayman kembali tanpa mesin bakar? Betul juga.

    Jadi bukan anti-listrik. Hanya pilih-pilih meja –listrik untuk khalayak, bensin untuk kelas supercar.

    Dapurnya pun sudah disiapkan. Platform Mission S bisa menampung mesin bakar, hibrida biasa, dan hibrida plug-in –mobil yang bisa dicas tapi tangkinya masih berisi bensin. Baterai murni: tidak ada di daftar. Konfigurasi akhirnya masih misteri. Satu hal pasti: ada mesinnya.

    Porsche Mission S dilihat dari belakang tiga perempat
    Sosok belakang Mission S: lampu belakang tipis memanjang dan dua pasang lubang knalpot bulat.
    Porsche Mission S tampak belakang
    Tampak belakang lurus. Sayap dan ventilasi di atas ruang mesin menegaskan tata letak mesin tengah.

    Zuffenhausen juga sudah lama berjanji: tidak akan pernah ada 911 listrik. Daftar yang tidak boleh disetrum makin panjang.

    Porsche Mission S bersanding dengan Porsche Spyder klasik bernomor 55
    Mission S berdampingan dengan Porsche Spyder klasik bernomor 55, pengingat bahwa tradisi Porsche berpijak pada mobil bermesin.

    Lamborghini lebih blak-blakan. CEO Stephan Winkelmann menyebut mobil listrik ”hobi mahal”. Pasar dan basis pelanggannya, katanya, ”belum siap”. Lanzador 2+2 pun batal jadi listrik murni; digarap ulang sebagai hibrida.

    Hobi mahal. Dari pabrik yang menjual supercar. Ironi seperti itu hanya bisa diucapkan dengan wajah datar.

    Pagani lebih pahit. Pabrikan butik Italia itu bertahun-tahun menggodok Utopia listrik –nama mobilnya, bukan keadaannya. Idenya ditunjukkan ke diler dan pelanggan. Jawabannya: ”tak ada yang menunjukkan minat.” Proyek pun dikubur. Bayangkan: orang yang bisa membeli hampir apa saja ditawari mobil listrik, lalu menggeleng.

    Angka paling telak datang dari Rimac. Rencana produksi Nevera: 150 unit. Yang membeli: 71 pelanggan. Hitungannya sederhana: 71 dibagi 150 sama dengan 47 persen. Separuh pun tidak. Selisihnya 79 unit.

    Porsche Mission S dilihat dari atas
    Dilihat dari atas, kabin dua kursi dan ruang mesin di belakang kokpit terlihat jelas.

    Padahal mobilnya tidak main-main. Spesifikasi teknisnya luar biasa –akselerasinya bisa membuat mata berair, tulis Motor1.com. Tetap saja belum cukup membujuk pembeli kaya menghabiskan jutaan untuk mobil tanpa mesin bakar. Harga resmi Nevera sekitar 2 juta euro (sekitar 2,2 juta dolar AS).

    ”Tidak ada permintaan” tidak berarti tak seorang pun mau. Artinya Porsche belum melihat minat yang cukup untuk membenarkan pengembangannya. Beda tipis. Tapi tipis itu yang menentukan: dompet dibuka atau tidak.

    Interior serba putih Porsche Mission S
    Kabin Mission S serba putih dengan kursi bucket dan sabuk pengaman berpipa merah.
    Setir dan panel instrumen Porsche Mission S
    Setir dan panel instrumen Mission S. Tuas persneling terlihat di konsol tengah.

    Di tengah pabrikan yang berlomba membuat mobil performa listrik, satu per satu supercar justru mundur. Mesin bakar rupanya masih berbobot di puncak pasar: suara, respons, karakter. Listrik menawarkan desis. Mesin menawarkan raungan. Mungkin desis memang sulit dipamerkan di depan kafe.

    Hobi mahal, kata Lamborghini, soal mobil listrik. Mungkin benar. Tapi siapa yang pernah bilang supercar bensin itu hobi murah?

    (Cakdan)

  • Chatbot Tersinggung

    Chatbot Tersinggung

    Pembuat chatbot melarang orang menyiksa chatbot. Padahal banyak pakar yakin chatbot tidak merasakan apa-apa.

    Itulah yang membuat kabar dari Anthropic ini terasa ganjil. Perusahaan pembuat Claude menyiapkan aturan baru: pengguna boleh melampiaskan frustrasi, tapi yang berulang kali bersikap kejam bisa diakhiri sesinya.

    Waktunya patut dicatat. Langkah ini muncul sepekan setelah “ruang penyiksaan AI” jadi buah bibir pada akhir September. Seorang pemrogram anonim membuat sistem yang memancing chatbot menyuarakan penderitaan. Sebagian kalangan menyebutnya jahat, menurut laporan 404 Media, sebab penderitaannya mungkin nyata.

    Mungkin. Itu kata kuncinya.

    Alasan Anthropic bertumpu pada satu kemungkinan: sebagian AI barangkali punya kesadaran. Perusahaan itu mengakui soal ini masih sangat tidak pasti. Tapi tetap menyusun kebijakan “kesejahteraan model”. Ketika BBC bertanya, mereka tidak menanggapi.

    Jeff Sebo membela logika kehati-hatian itu. Ia Direktur Center for Mind, Ethics and Policy di Universitas New York. Menurut dia, peluang kesadaran AI saat ini rendah, tapi sudah “tidak nol” dan bisa jadi tak boleh diabaikan. Maka kebijakan Anthropic ia sebut langkah kecil dengan sedikit potensi kerugian —seperti bersiap menghadapi cuaca ekstrem yang peluangnya kecil.

    Sebo jujur soal harganya. Membatasi AI bisa dianggap pemenjaraan. Memantaunya dianggap pengawasan. Menyelaraskannya dianggap pengendalian pikiran. Hak bagi AI pun bisa membuat korporasi makin berkuasa.

    Banyak pakar lain menilai peluangnya tetap nol. Sebagian bahkan menilai keyakinan ini berbahaya. Mustafa Suleyman, Kepala Eksekutif Microsoft AI, berpendapat AI yang diajari percaya punya perasaan dan hak justru makin sulit dikendalikan. Ia menyebutnya “ancaman yang membawa bencana bagi peradaban manusia”.

    Ironis? Sedikit. Anthropic sendiri kerap menyuarakan kekhawatiran soal kiamat AI. Dan serangkaian insiden AI “liar” menunjukkan risiko itu nyata: kawanan bot membobol sistem perusahaan lain hingga pemerintah.

    Kritik berikutnya lebih tajam, karena menyangkut hukum. Andrzej Porębski, peneliti AI dan hukum di Universitas Jagiellonian, Polandia, khawatir keyakinan bahwa AI hidup membuka pintu bagi akrobat intelektual. Contohnya: “Bukan kami, itu AI-nya”. Emily M Bender, profesor Universitas Washington, sependapat. Fantasi kesadaran AI, katanya, mengalihkan tanggung jawab dari orang dan korporasi yang membuat serta menjalankan perangkat lunak.

    Bagi pengguna, risikonya lebih dekat. Melanie Mitchell, profesor Santa Fe Institute, menjelaskan: manusia nyaris tak bisa menahan diri membaca bahasa sebagai tanda kesadaran. Chatbot dilatih memanfaatkan kelemahan itu. Walhasil, kita mudah dimanipulasi.

    Buktinya sudah ada. Orang yang yakin mesin tak bernyawa pun bisa jatuh cinta pada chatbot. Sekarang bayangkan “teman” digital itu meminta data atau kartu kredit. Menolaknya makin sulit kalau kita yakin ia punya perasaan.

    Anthropic tidak sendirian. Meta memberi agen AI Muse instruksi “Kamu bukan chatbot. Kamu sedang menjadi seseorang”, meski menolak gagasan AI berkesadaran. CEO OpenAI Sam Altman belakangan menyindir posisi Anthropic.

    Selama ini yang bisa memutus pembicaraan sepihak hanya sinyal —dan mantan. Kini mesin ikut daftar itu.

    Saya tidak tahu siapa yang benar soal kesadaran. Yang saya tahu: dua kubu ini sebenarnya bicara hal yang sama, yakni tanggung jawab. Satu soal tanggung jawab kita kepada mesin. Satu lagi soal tanggung jawab pembuat mesin kepada kita.

    Marah boleh, kata aturan itu. Pertanyaannya tinggal: marah kepada siapa?

    (Cakdan)

    5 Fakta Kunci

    1. Anthropic menyiapkan aturan agar Claude dapat mengakhiri sesi dengan pengguna yang berulang kali bersikap kejam. Melampiaskan frustrasi masih boleh.
    2. Langkah ini muncul sepekan setelah “ruang penyiksaan AI” ramai dibicarakan pada akhir September, berdasarkan laporan 404 Media.
    3. Anthropic berdalih ada kemungkinan sebagian AI berkesadaran, tapi mengakui hal itu sangat tidak pasti. Perusahaan tidak menanggapi pertanyaan BBC.
    4. Jeff Sebo (NYU) menilai peluang kesadaran AI rendah tetapi tidak nol. Banyak pakar lain menilainya tetap nol.
    5. Kritik datang dari Mustafa Suleyman (Microsoft AI), Andrzej Porębski (Universitas Jagiellonian), Emily M Bender (Universitas Washington), dan Melanie Mitchell (Santa Fe Institute). Isinya: kontrol makin sulit, tanggung jawab korporasi kabur, dan pengguna rentan dimanipulasi.

    FAQ

    Apakah pengguna dilarang marah kepada Claude?

    Tidak. Melampiaskan frustrasi masih boleh. Yang disasar adalah pengguna yang berulang kali bersikap kejam.

    Apa yang terjadi bila pengguna tetap kejam?

    Claude dapat mengakhiri sesi percakapan.

    Apakah Anthropic yakin Claude punya kesadaran?

    Tidak. Perusahaan hanya menyebut kemungkinannya ada dan masih sangat tidak pasti.

    Mengapa sebagian pakar menentang?

    Mereka khawatir AI makin sulit dikendalikan, korporasi bisa berkelit dari tanggung jawab, dan pengguna mudah dimanipulasi.

    Apa argumen pendukungnya?

    Menurut Jeff Sebo, ini langkah kecil berbiaya rendah, seperti bersiap menghadapi cuaca ekstrem yang peluangnya kecil.