Layar 10,4 Inci di Wuling Almaz, Berguna atau Tidak?

Dashboard video screen yang dipamerkan di mobil listrik Byton M-Byte di CES 2019 dengan ukuran layar yang sangat besar

”Layar adalah jendela ke dunia digital,” kata Gorden Wagener, chief design officer Daimler AG, induk Mercedes-Benz. Di pamera Consumer Electronics Show (CES) 2019 di Las Vegas memang ada tren baru di dunia otomotif. Yakni, layar mobil yang semakin besar.

Menurut lembaga riset IHS Markit, ukuran rata-rata layar di kendaraan secara global pada 2018 adalah 7,7 inci. Lalu trennya diproyeksikan membesar 8,4 inci di 2024. Yang menarik, ukuran layar SUV terbaru Wuling, Almaz, yang dikenalkan di Sirkuit Sentul, Bogor, kemarin sudah jauh lebih besar dari rata-rata. Mencapai 10,4 inci, dengan posisi vertikal.

Pertanyaan berikutnya adalah, adakah faedah dari layar yang besar itu? Diluar dugaan ternyata banyak. UI-layar di Wuling Almaz cukup intuitif. GUI-nya juga elegan, nggak asal bikin. Resolusi layarnya pun tajam, juga sangat responsif. UX-nya bisa dibilang mengasyikkan. Blower AC, misalnya, bisa diatur senyaman menaikturunkan kecerahan layar di smartphone dengan ujung jari.  

Manfaat paling terasa adalah fitur kamera 360. Di layar 10,4 inci, kita bisa tau kondisi sekeliling kendaraan dengan sangat detil. Sangat memudahkan untuk parkir di ruang sempit.

Fungsi terpenting lainnya, tentu integrasi ke ponsel. Sejauh ini, terbatas di 10 aplikasi yang bisa diintegrasikan. Tapi sudah mencakup semua yang biasa digunakan pengemudi. Seperti Google Maps dan Spotify yang paling penting saat berkendara (sayang nggak termasuk Waze). Bahkan ada Gmail, WhatsApp, Line, dan Instagram yang menurut saja bisa jadi sumber distraksi saat menyetir. Nggak bisa juga dipake untuk browsing web, dan nggak papa juga sebenarnya.

Di CES, pabrikan mobil meyakini layar yang lebih besar justru dapat meningkatkan keselamatan berkendara karena dengan memberikan informasi yang lebih bermanfaat. Terutama nanti ketika jaringan 5G sudah berjalan dan antar mesin dapat saling berbicara (machine to machine). Misalnya mengirimkan notifikasi soal peringatan kecelakaan atau kondisi jalanan yang akan dilalui.

Harapannya, distraksi berkurang karena pengemudi tidak lagi berjuang melihat informasi dan banyak menu di layar yang kecil. “Anda perlu tempat untuk menampilkan informasi visual kepada pengemudi dengan cara yang efektif dan tidak mengganggu,” kata Abe Chen, VP teknologi di Byton. Di CES, Byton ini mengembangkan purwarupa mobil M-Byte dengan layar 48 inci, yang bahkan lebih besar dari rata-rata TV yang dijual di Indonesia.

Pada 2012, Tesla adalah pabrikan pertama yang menggunakan layar LCD 17 inci di Model S mereka. Nah, bagaimana menurut netijen, layar besar di mobil ini butuh dan fungsional, atau malah nggak butuh dan mengganggu?


Tinggalkan komentar...



Categories: Otomotif, Test Drive Mobil

Tags: , ,

4 replies

  1. Nggak nyangka 300 jutaan udah dapet bird eye 👍

  2. Cak, itu yang gak bisa support aplikasi apa ya? (gambar yang ada smartphone nya)

    • Itu waktu buka browser. Jadi kita bisa search pake Google Search, cuma sebatas sampai muncul hasil pencarian. Setelah di klik lagi, dia nggak bisa buka situs karena browser (peramban webnya) nggak support.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: