Surfing, Kegiatan Nirfaedah?

Anak saya berhasil berdiri dan mengendarai ombak dalam percobaan pertama.

Saya sudah berulang kali mewawancarai surfer. Mengikuti mereka berburu ombak. Juga mendatangi pantai-pantai terpencil di pelosok yang katanya punya ombak terbaik.

Tapi, baru akhir pekan lalu saya mencoba surfing. Di pantai yang tidak jauh dari Pelabuhan Ratu: Cimaja. Inilah lokasi terdekat dan paling favorit para surfer di Jawa Barat.

Saya pun membuat taruhan ke istri dan anak saya: siapa paling cepat berdiri di papan dialah pemenangnya.

Langit lebih mudah menjaga keseimbangan karena badannya yang kecil.

Ternyata saya di posisi buncit. Juara pertama adalah anak saya Langit yang bahkan berhasil berdiri dalam percobaan pertama. Karena badannya kecil dan ringan, lebih mudah baginya menjaga keseimbangan. Sayangnya, setelah beberapa kali digulung ombak ia mutung. Ombak terakhir terlalu besar, membuatnya tergulung sambil dihantam papan surfing 😅😅😅.

Juara keduanya istri saya Leyana Riesca. Yang awalnya harus dipaksa ikutan, malah jadi bintang hari itu. Bisa berdiri berkali-kali, walau harus jatuh berkali-kali pula.

Karena ternyata surfing itu nggak hanya sulit, tapi juga melelahkan dan berisiko.

Istri saya mendapatkan ombak yang bagus.

Mulanya kita harus paddle untuk sampai ke “line up”. 80–90 persen surfing adalah paddle. Padahal paddle itu capek sekali.

Lalu kita menunggu ombak datang di atas papan. Bisa cepat. Bisa lama sekali sampai bikin kering dijemur di atas laut seperti keripik.

Ketika sudah memilih ombak yang tepat, kita paddle out sambil mencoba berdiri. Dan ini pun sangat sulit. Bisa berdiri saja susah, apalagi menjaga keseimbangan mengikuti ombak yang datangnya tidak pernah sama.

Kalaupun beruntung bisa berselancar di atas ombak, durasinya cuma beberapa detik. Lalu jatuh. Lalu harus paddle kembali ke awal lagi. Sekalinya saya apes, jatuh digulung ombak besar hingga salto berputar-putar 3x di dalam air. Pantesan Langit mutung. Hahaha.

Sepintas kayaknya surfing kok seperti nirfaedah. Ngapain bersusah payah dan bercapek-capek mengejar sensasi beberapa detik meluncur di atas ombak? Nggak masuk akal! Ya. Bagi yang belum merasakannya.

Karena di beberapa detik diatas ombak itu adrenalin mentok. Tubuh dalam kondisi ‘survival mode’, merespons perasaan takut dan kondisi bahaya. Saat itu juga dopamine dilepas. Dopamine ini sumber rasa senang, ‘narkoba’ alami tubuh. Dirasakan juga saat kita ber-skidipapap.

Karena itu ada yang bilang gini : “Surfing is very much like making love. It always feels good, no matter how many times you’ve done it.”

“Waktu berdiri di atas papan itu rasanya memang luar biasa,” kata istri saya. “Sebanding dengan capek paddle kembali ke tengah dan menanti ombak datang sambil panas-panasan,” tambahnya.

Perasaan surfing memang beda. Beda dengan baik naik motor trail, beda dengan nyelam, main skateboard ataupun sepeda. Ada takut, capek, tapi juga kebahagiaan dan kedamaian. #azg

Ombak di pantai rahasia ini memang pas untuk latihan surfing. Kalau kata instruktur surfing kami, ombaknya “mellow”.

Nah, nggak kebayang kan gimana perasaan surfer di ombak yang nggak cuma tinggi, tapi juga kenceng. Riset membuktikan bahwa dopamine bikin surfing itu jadi sesuatu yang nagih. Seperti narkoba.

Kemegahan surfing saat mendapatkan barrel.

Lantas jadi masuk akal kenapa banyak bule jauh-jauh datang ke Indonesia, bawa-bawa papan surfing yang besar-besar itu, hanya untuk mencari pantai dan ombak yang belum pernah diselancari sebelumnya.

Kepada saya, banyak yang mengatakan iri dengan Indonesia, yang punya banyak ombak bagus bergulir sepanjang tahun.

Yang pasti segala hal tentang surfing akan menjadi masuk akal ketika kamu berdiri di atas papan dengan ombak mengayun di bawah kakimu. Sedap.



Tinggalkan komentar...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.