CEO dan pendiri Netflix Reed Hastings di Singapura. 

Sebelum masuk ke kesalahan Netflix, saya mau mengakui kesalahan saya dulu. Yakni, memilih menggunakan penerjemah untuk bertanya kepada CEO Netflix Reed Hastings di acara See What’s Next: Asia di Singapura pekan lalu. 

Pertanyaan saya agak panjang. Takut Bahasa Inggris yang gugup dan belepotan malah membuat konteks pertanyaan kurang dipahami atau meluas. Salahnya, justru si interpreter menerjemahkan pertanyaan saya terlalu pendek. Sehingga konteksnya hanya tersampaikan separuh. Kzl.

Sekarang masuk ke kesalahan Netflix. Menurut saya Netflix gagal memahami Indonesia. Pada Januari 2016 mereka membuka keran layanan secara global. ”Karena kami ingin berekspansi global dengan cepat,” ujar Hastings. Cara itu memang efektif. Dalam dua tahun subscribers internasional mereka sudah mengalahkan total pelanggan Netflix Amerika yang sudah ada sejak 1997. Saat ini pelanggan Netflix 138 juta di 190 negara. 

Tapi tidak semua operator di pasar mau ditabrak dengan cara itu. Utamanya Telkom, yang memblok layanan Netflix di seluruh jaringan mereka. Ini wajar, kesel nggak kalau tiba-tiba ada orang jualan di depan garasimu tanpa ijin?

Dua pasar paling menjanjikan di Asia adalah ini: India dan Asia Tenggara. Maka, mereka bikinlah 17 produksi original (Netflix Original Production) di India, Jepang, Thailand, Taiwan, dan Korea. Sayang, tidak ada Indonesia. 

Padahal, dalam beberapa tahun terakhir produksi film Indonesia yang diminati internasional semakin banyak. Termasuk The Night Comes for Us arahan Timo Tjahjanto yang bikin film action Hollywood mirip tontonan anak-anak. 

Netflix juga tidak kunjung membereskan urusan mereka dengan Telkom Group. Tentu saya tanyakan itu ke Reed Hastings. Jawabannya normatif saja, ”mengenai Telkom kami serahkan kepada mereka. Kami sudah bekerja sama dengan provider lain seperti XL,”. 

Menafikan Telkomsel dan pelanggan Indiehome adalah kesalahan terbesar Netflix di Indonesia, karena profil penonton mereka ada disana. 

Absennya tayangan original Netflix Indonesia menurut saya secara nggak langsung meremehkan Indonesia yang konsumsi streamingnya semakin tinggi dan konsumennya semakin terbiasa menonton on demand. Secara statistik pun, pelanggan Netflix Indonesa terbesar dibelakang India dan Thailand. Padahal mereka belum ngapa-ngapain disini. 

Banyak perusahaan Amerika yang jumawa, merasa layanannya sudah paling hebat, sudah paling cepat tumbuh, sudah paling besar kapitalisasi pasarnya (Netflix adalah perusahaan media terbesar dengan valuasi lebih dari USD150 miliar). 

Tapi ingat, pasar Indonesia nggak bisa disamakan dengan negara lain di Asia. Sudah berapa banyak perusahaan Amerika yang angkat kaki dari sini karena nggak bisa “melokal”? Jargon Netflix “global to local” lewat belanja kontennya tahun 2018 yang USD8 miliar itu ternyata malah nggak dipake di Indonesia.

Pertanyaan terakhir saya ke Reed Hastings cuma ini: “Anda harus lebih banyak invest di Indonesia!”. Dan dia jawab, ”ya, kedepannya kami akan invest di Indonesia,”. Ok Bosque, tak tunggu janjimu!

Iklan