Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Kunjungan saya ke Palembang awal bulan ini singkat tapi sangat berkesan. Begitu datang langsung menyantap pindang patin khas Palembang yang sedikit pedas tapi sangat segar. Belakangan istri saya baru ngasih tahu bahwa ada pindang udang yang lezat dan gemuk, hanya dia lupa tempatnya.

Dari bandara hingga jalan-jalan protokol, umbul-umbul dan banner Asian Games 2018 sangat meriah. Saya datang tepat pada pembukaan Light Rail Transit (LRT) Palembang (1 Agustus). LRT Palembang menghubungkan Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II ke stadion Jakabaring, melewati 13 stasiun, dengan tarif hanya Rp10 ribu dan waktu tempuh 45 menit.

Lalu saya ke Jembatan Ampera yang jadi ikon landmark Palembang. Mengambil timelapse dan mencoba menerbangkan drone tapi keder karena kondisi gelap, angin sedikit kencang, dan takut nyangkut di kabel yang nggak terlihat.

Keesokan paginya saya sarapan di depan pasar Kuto. Menikmati Nasi Minyak, yang mengingatkan saya pada Nasi Kebuli. Di pasar Kuto saya bertemu tim Tata Motors Jelajah Pasar Nusantara, yang menggunakan Tata Super Ace HT (High Torque) dan Tata Xenon HD (Heavy Duty) untuk menjelajah pasar-pasar di wilayah Sumatera sejak 20 Juli 2018, melewati 7 provinsi yakni Peunayong, menuju Lhoksukon, Binjai, lanjut ke Pekanbaru, Jambi, Palembang, Lampung, lalu menyeberang hingga Jakarta.

Di pasar Kuto saya bertemu ibu Zara, pedagang pakaian dan beras. Ia mengambil beras dari dusun-dusun dan membawanya ke kota. Mobil pick up miliknya sekarang hanya mampu mengangkut beban 500 kilogram. “Lebih dari itu sudah goyang,” katanya. Rupanya ia tertarik dengan Tata Super Ace HT yang mudah menggendong beban lebih dari 1 ton. Bagi ibu Zara, kemampuan dan harga mobil lebih penting dari pada merek.

Saya lanjut masuk ke dalam pasar Kuto. Di dalam pasar becek, kotor, bau amis dan anyir. Tapi saya justru suka liputan ke tempat seperti ini. Tanpa diminta pak Abdul, pedagang pasar, menjelaskan ikan-ikan apa saja yang dijual disana. Mulai ikan bawal, ikan kucing, ikan kacau-kacau, sampai ikan kucing. ”50-50 lah antara ikan laut dan air tawar,” katanya.

Sebagian pedagang tampak sedang menguliti ikan. Kemudian menggilingnya dengan mesin. Ternyata, inilah bahan untuk membuat empek-empek. Orang Palembang makan empek-empek tak kenal waktu, pagi, siang hingga malam. Saya bukan penggemar empek-empek, tapi baru tahu di Palembang ini empek-empek begitu banyak varian, rasa, dan bentuknya. Bukan cuma kapal selam saja. Tentu saya bawa oleh-oleh karena istri saya suka empek-empek.

Iklan