Ketika CEO Amazon Jeff Bezos membeli surat kabar Washington Post pada 2013, sebenarnya saya ikut menaruh harapan. Semoga Bezos dengan kekayaannya, visinya, serta naluri bisnisnya bisa membawa angin segar terhadap industri surat kabar yang terus menerus mendapat “jab” dari digital.

Waktu ke New York saya hanya menemukan satu kios koran, itu pun hampir tidak ada isinya. Di Amerika ratusan penerbit memang tutup berjamaah pada 2009. Sebagian besar beralih sepenuhnya ke digital.

Washington Post beruntung karena dibeli Bezos senilai USD250 juta saat sedang berdarah-darah.

Lalu apa strategi Bezos kepada Washington Post? Pertama, memperbaiki sektor IT. Kepada CIO Shailesh Prakash ia berkata, “jangan takut eksperimen, selalu berpikir jangka panjang. Jangan mengeluh bisnis model koran hancur karena internet. Justru internet memunculkan bisnis model baru,”.

Selanjutnya departemen IT di Washington Post menjadi sama pentingnya dengan redaksi. Bahkan, perusahaan media yang dulu hanya punya beberapa staff IT di tangan Bezos ditarget untuk bisa mengembangkan software sendiri.

Dalam beberapa tahun pelanggan onlinenya bertambah, trafiknya naik, pendapatan iklan digitalnya juga meroket (tumbuh dua digit). Begitu suksesnya ramuan software yang mereka kembangkan sendiri itu, hingga kemudian formula tersebut dijual ke 22 penerbit lain. Termasuk Los Angeles Times, Chicago Tribune, dan The Globe and Mail Toronto. Dari jualan koran, Washington Post kini juga jualan software as a service lewat divisi baru yang disebur Arc Publishing.

Dan dari semua cerita sukses itu, ternyata oplah cetak Washington Post masih terus dan tetap menurun. πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚. Ngedrop juga bacanya.

Tapi saya sih masih sepakat dengan Dahlan Iskan bahwa koran tidak akan mati. Mungkin kedepannya akan jadi hybrid, setengah cetak-setengah online. Atau malah akan menjadi niche, dengan pemain sedikit dan segmentasi jelas. Selalu ada peluang di pasar yang niche itu. Misalnya saja pasti nantinya akan ada orang yang bosan melihat layar melulu (karena terlalu lama screen time) dan merasa nyaman membaca di kertas dan tinta. Koran dan cetak akan tetap punya valuenya sendiri.

Di Indonesia, untuk sampai ke masa itu pun rasanya masih cukup lama. Seperti kata mantan CEO Financial Times Olivier Fleurot, “jumlah sirkulasi koran di seluruh dunia terus menurun kecuali India dan China,”. Dan pasar Indonesia dalam satu dan lain hal sangat mirip dengan kedua negara itu..

Nah, bagaimana menurut Anda? Apakah masih suka membaca koran ato lebih suka menambah screen time?

Iklan