20170614_170551

Ini saya buktikan sendiri: ternyata beralih dari transaksi tunai ke transaksi non tunai tidak seberat mengikuti diet ketogenic.

Saya memang mencoba dua hal baru sejak awal Agustus 2017. Pertama, ikut-ikutan teman berhenti mengonsumsi nasi untuk menerapkan pola makan rendah karbohidrat dan tinggi lemak yang akrab disebut diet keto. Kedua, mencoba mengurangi transaksi tunai dan memperbanyak transaksi non tunai lewat aplikasi Doku.

Hasilnya, diet keto saya hanya bertahan selama dua pekan. Itu pun lebih banyak cheating-nya. Sebaliknya, kegiatan transaksi non tunai saya jauh meningkat dibanding bulan-bulan sebelumnya. Bahkan begitu semangatnya, sampai-sampai saya mengambil alih tagihan bulanan yang biasanya dibayarkan oleh istri saya. Mulai membayar tagihan listrik, telepon, air/PDAM, bahkan membeli pulsa dan paket data.

Setidaknya ada dua alasan mengapa saya ingin beralih ke transaksi cashless. Pertama, karena kemudahan. Sebagai orang yang memiliki aktivitas sangat tinggi (heavy user) di ponsel, saya ingin bisa melakukan lebih banyak hal. Tidak hanya mengonsumsi atau memproduksi konten saja, tapi juga melakukan berbagai aktivitas finansial.

Dan setelah mulai terbiasa, bertransaksi non tunai (cash less) terasa sekali kemudahannya. Saya hanya perlu sering-sering melakukan top up (mengisi ulang) saldo saya di aplikasi Doku. Itu juga mudah. Bisa melalui anjungan tunai mandiri (ATM). Saya sendiri lebih banyak melakukan top up lewat internet banking BCA. Selebihnya tinggal bertransaksi ini dan itu.

Untuk berbelanja di toko online, misalnya, juga sangat mudah. Belum lama ini saya bertransaksi menggunakan Doku di platform e-commerce Lazada.co.id. Hanya perlu memilih Doku di pilihan cara bayar, kemudian saya di alihkan ke aplikasi Doku untuk proses selanjutnya.

 

Tidak Perlu Punya Rekening

Ada banyak hal yang membuat transaksi non tunai di Indonesia penting. Pertama, bisa dilihat dari kepemilikan akun bank ataupun kartu kredit di Indonesia yang masih sangat rendah. Bayangkan, hanya 36% orang dewasa yang memiliki rekening di Lembaga Keuangan Formal seperti bank. Itu pun cuma 27% yang punya tabungan.

Fakta itu berbanding terbalik dengan jumlah pengguna smartphone serta pengakses internet yang tercatat mencapai 132,7 juta orang pada 2016 (Survei APJII). Nah, sekarang bayangkan jika sebagian besar dari pengguna internet itu bisa bertransaksi langsung dari ponsel mereka.

Mereka tidak perlu lagi memiliki rekening bank. Sebab top up di rekening Doku dapat dilakukan di gerai seperti Alfamart dan Alfamidi yang tersebar di berbagai pelosok Indonesia. Ini tentu sangat memudahkan. Dan seperti yang sudah saya sebut di atas, setelah top up, Anda hanya perlu membayar tagihan ini itu dengan beberapa langkah mudah di ponsel. Berbelanja online ini itu juga bisa dilakukan tanpa perlu keluar rumah.

Sekadar gambaran, kemenkominfo memprediksi akan terjadi pertumbuhan nilai transaksi di bidang e-commerce hingga USD130 miliar pada 2020 nanti. Hal itu tentu lebih cepat tercapai jika semakin banyak netizen bertransaksi lewat ponsel mereka. Walau masih kecil, kedepannya e-commerce ini akan memiliki berkontribusi besar terhadap perekonomian Indonesia. Terutama dengan melahirkan UKM-UKM baru yang mampu bergeliat lewat bisnis online.

Saat ini Doku sendiri telah dipakai oleh lebih dari 25,000 merchant, mulai dari segmen korporat, UKM, start-up, sampai online seller perorangan dengan lebih dari 1.6 juta pengguna. (*)

 

Iklan