DJI SPARKSize does matter. Di pasar UAV (unmanned aerial vehicle), multirotor, atau drone, ukuran menjadi penentu fungsi, segmentasi pengguna, bahkan keberhasilan sebuah produk. Kuncinya: semakin kecil semakin baik.

Merekam foto dan video aerial (udara) bagi penyuka traveling seperti saya memang penting. Foto/video udara membuat dokumentasi perjalanan jadi lebih berkesan, bahkan dramatis. Tapi, hal itu acap harus dikalahkan dengan ini: kepraktisan.

Memang berat DJI Phantom Advance milik saya–beserta baterai LiPo 6.000 mAh dan empat baling-baling—hanya 1,3 kg atau sama seperti sebuah laptop. Tapi, dimensinya itu yang lumayan besar. Membawanya pun harus menggunakan tas ransel khusus. Isinya mulai dari baling-baling cadang, charger, filter lensa, remote, hingga kabel USB.

Selain kurang praktis juga butuh niat dan upaya yang besar. Jika dalam sebuah acara traveling saya tidak yakin punya waktu cukup dan tempat yang memang indah untuk mengambil gambar udara, maka lebih baik tidak membawanya sama sekali. Menambah satu ransel lagi yang isinya hanya sebuah drone menurut saya merepotkan. Itu pula yang membuat drone saya sekarang lebih banyak tersimpan dibalik lemari.

Kebutuhan Drone Kompak

052617-dji-spark-droneSejak tahun lalu perusahaan drone terbesar saat ini Dà-Jiāng Innovations (DJI) memang berfokus untuk menciptakan drone sekompak mungkin. Namun tidak hanya kecil—karena quadcopter kecil banyak sekali dipasaran–. Tapi, kecil yang tidak meninggalkan berbagai fungsi canggih yang sudah ada di produk mereka sebelumnya.

Akhir tahun lalu mereka merilis Mavic Pro yang mendapat respons positif dari konsumen. Tidak lain karena ukurannya yang kompak. Dengan Mavic Pro, seorang pilot bisa mendapat kualitas gambar atau video tak jauh beda dengan model profesional seperti DJI Phantom 4, namun lewat form factor yang jauh lebih kompak. Jika DJI Phantom 4 harus dibawa dengan tas ransel, maka Mavic Pro yang keempat lengannya bisa dilipat cukup ditenteng di tas selempang

Sebesar Telapak Tangan

170524214143-dji-spark-thumbnail-780x439Melalui sebuah event bertajuk Seize the Moment di New York, akhir Mei 2017 silam, DJI kembali membuat kejutan dengan dirilisnya DJI Spark yang ukurannya bahkan jauh lebih kecil dibanding Mavic Pro.

Dimensi Spark hanya selebar telapak tangan. Bahkan drone tersebut tidak perlu dibawa dengan tas. Begitu mungilnya hingga bisa dikantongi. Berbeda dengan seri Phantom atau Inspire yang digunakan untuk keperluan profesional dan Mavic Pro untuk pehobi serius, Spark menargetkan segmen entry level. Termasuk mereka yang belum pernah menerbangkan drone sama sekali.

Tetap Canggih

a-promotional-video-for-the-dji-spark-shows-a-recent-graduate-launching-the-droneWalau ukurannya sangat kecil, tapi fitur Spark tetap lengkap dan sangat mumpuni. Kamera 12 MP-nya mampu merekam video full HD 1080p dalam 30 fps, jarak maksimalnya 2 km (menggunakan remote), waktu terbang 16 menit, kecepatan maksimal 50 km/jam, serta gimbal 2 axis.

Spark diklaim bisa digunakan oleh mereka yang belum pernah menerbangkan drone sebelumnya karena teknologi Vision Positioning System (VPS) yang dapat mengenali wajah pengguna dan isyarat tangan, serta 3D sensing. terArahkan telapak tangan ke Spark untuk menyetir dan buka ke atas maka drone akan mendarat di telapak tangan pengguna. Dengan 3D sensing drone dapat mengenali rintangan sehingga tidak mudah menabrak.

Spark juga memiliki sejumlah fitur otomatis seperti Rocket, Droning, Circle, dan Helix agar pengguna secara otomatis mendapat gerakan merekam video seperti film-film profesional. Fitur tersebut, berikut GPS dan Glonass hingga Return To Home (RTH) diwariskan dari drone kelas high end.

Harapannya tentu saja konsumen dapat lebih mudah memanfaatkan drone yang hadir dalam warna-warna seperti merah, kuning, putih dan hitam untuk mengambil foto selfie, groupie, atau bahkan dronie (berfoto dengan drone) saat liburan di pantai, hotel, hingga gunung.

Ukuran, Ukuran dan Ukuran

cma_3648Memang lebih pas menyebut Spark sebagai flying camera atau kamera udara/terbang dibanding sebuah quadcopter/drone. Ukurannya yang mungil dengan tetap mempertahankan sejumlah fitur penting telah mengubah tren dari industri UAV saat ini. Sebuah drone yang seharusnya bisa relevan untuk konsumen yang lebih luas.

Menurut saya ada dua hal yang membuat ukuran dalam sebuah drone penting. Pertama, tentu saja kemudahan dibawa. Terutama saat traveling. Bayangkan Anda membawa DSLR dan sekarang kamera ponsel dengan kualitas yang bersaing.

Kedua, Form factor kecil juga membuat Spark tidak tampil mengintimidasi atau mengganggu saat diterbangkan di lingkungan tertentu. Kalaupun menabrak, drone tersebut tidak terlalu membahayakan orang lain.

Jelas sekali bahwa kehadiran Spark akan menjadi pemicu tren flying camera. Banderol Rp7.660.000 (pre-order, tanpa remote) memang tidak bisa disebut murah. Tapi, fitur Spark jauh lebih unggul dibandingkan kompetitor di pasar.

Bukan tidak mungkin kehadiran Spark nantinya akan semakin membuat drone semakin relevan ke masyarakat lebih luas. Sehingga, ketika akan melakukan wefie di pantai, Anda tidak lagi mengeluarkan ponsel. Tapi, drone dari dalam tas, lantas melemparkannya ke udara. Tak lama lagi dronie akan jauh lebih seru dibanding selfie.  (*)

 

Perbandingan Bentuk dan Fungsi Drone

Berikut adalah perbandingan antara sejumlah produk DJI yang menargetkan segmen yang sangat berbeda.

 

Segmentasi:

DJI Spark : pemula, mulai Rp7,6 juta-Rp10 jutaan

 

DJI Mavic Pro : pehobi serius, Rp15 juta dan Rp19 juta (combo)

 

DJI Phantom : pehobi serius/profesional, Rp20 juta

DJI Inspire : profesional, Rp47 juta

 

 

Fitur Utama DJI SPARK

DJI SPARK 2

  • Resolusi 12MP dan Video full HD 1080p.
  • Sensor kamera 1/2.3″ sedikit lebih besar dari kamera ponsel.
  • Kecepatan maksimal 50 km/jam.
  • Jarak transmisi video HD dan jarak terbang maksimal 2 km (dengan remote).
  • Waktu terbang maksimal 16 menit.
  • Ukuran kecil, ringkas, dan aerodinamis.
  • Kamera ditopang gimbal 2 axis.
  • Vision Positioning System (VPS), 3D sensing system dan dual-band GPS
  • Dapat terhubung dengan sistem FPV Goggle dari DJI.

 

Kompetitor DJI Spark:

Ternyata sudah cukup banyak drone berukuran kecil yang sudah menyapa pasar Indonesia. berikut beberapa diantaranya:

Zerotech Dobby

ZerotechRp5,5 juta

Menggunakan prosesor Qualcomm Snapdragon 801, RAM 2 GB, memori internal 16 GB, kamera 13 MP/4K, terhubung dengan wi-fi.

Yuneec Breeze

Jual-Yuneec-Breeze-4K

Rp7 juta

Sudah termasuk FPV Goggle, mampu merekam video 4K, streaming video 720p, kamera 13 MP, waktu terbang 12 menit, aplikasi Breeze Cam, memiliki mode pengambilan gambar Selfie, Orbit, dan Journey.

 

Kesan pertama DJI Spark:

Akhirnya ketemu multirotor dengan ukuran, fungsi, dan harga yang pas. Well, harga masih mayan mahal sih.

 

Plus

  1. Fiturnya lengkap (RTH, Vision Positioning System/VPS, 3D sensing, dst)
  2. Mudah diterbangkan (kayaknya)
  3. Form factor kecil (gampang dibawa, nggak menonjol/intimidatif)

 

Minus

  1. No 4K (maks 1080p/30 fps) à Tapi 4K ga penting klo cuma di FB/Youtube/IG doang.
  2. 2 axis gimbal à Yang penting video tetep stabil.
  3. Waktu terbang 15 menit à tinggal nambah baterai.
  4. Jarak maks cuma 2 km à saelah, 500 meter jg udah gemeter tuh tangan.

 

Untuk siapa?

  1. First time drone pilot.
  2. Buat yang suka bikin video/foto di sosmed
  3. Drone nerd, udah punya terus nambah koleksi.
  4. Traveler, ukuran yang portabel ngaruh banget.
  5. Punya bujet dibawah Rp10 juta

Bukan untuk:

fotografer profesional, keperluan industri/inspeksi dst, anak-anak (rekomendasi DJI mulai 14-15 tahun)

 

Iklan