snapchat-augmented-reality-100705778-largeCEO Snap Inc Evan Spiegel mungkin lebih gila dari CEO perusahaan IT mana pun. Ia menolak tawaran akuisisi Snapchat dari pemilik Facebook Mark Zuckerberg senilai USD3 miliar (Rp40 triliun) pada 2013, di saat usianya masih 23 tahun!

Tentu saja langkah Spiegel langsung jadi sorotan media. Bayangkan, “bocah” berusia 23 tahun yang juga mahasiswa tidak lulus kuliah menolak tawaran CEO Facebook Mark Zuckerberg untuk menjual perusahaan yang bahkan tidak menguntungkan senilai USD3 miliar.

Mengapa? Kepada Forbes, Spiegel berujar seperti ini: ”Hanya ada sangat sedikit orang di dunia yang bisa membangun bisnis seperti ini. Menurut saya menukar hal tersebut hanya untuk keuntungan singkat tidaklah menarik,” katanya.

Dan bisa jadi keputusannya (yang luar biasa berisiko itu) benar. Sebab, bulan ini juga Evan sedang menyiapkan Snapchat untuk segera melantai di bursa saham (IPO). Nilainya sama dengan tawaran Zuck tiga tahun lalu: USD3 miliar.

Bedanya, sekarang nilai Snapchat ditaksir mencapai USD25 miliar (Rp335 triliun), valuasi tertinggi di perusahaan Amerika sejak Facebook.

Dan Spiegel pun berencana mengikuti langkah Zuckerberg, CEO Tesla Elon Musk, serta Larry Page dan Sergey Brin di Alphabet: tidak lagi menerima gaji (dibayar USD1 per tahun). Selain karena sudah sangat kaya dengan kepemilikan saham, itu menunjukkan kepercayaan diri terhadap perusahaan mereka.

Spiegel memiliki 22% saham Snapchat kelas A. Setelah IPO dimana valuasi Snapchat akan mencapai USD25 miliar, nilai saham yang dimiliki Spiegel bakal melonjak menjadi USD5,5 miliar (Rp73 triliun). Itu artinya, di usia 26 tahun, kekayaan Spiegel sama dengan CEO Salesforce Marc Benioff dan CEO Starbucks Howard Schultz.

Ia tetap belum menandingi kekayaan Zuckerberg ketika Facebook melakukan IPO pada 2012 silam. Saat itu nilai kekayaan Zuckerberg mencapai USD19,1 miliar dalam semalam.

 

Berbagi Momen Nyata

snapchat            Spiegel berharap agar Snapchat menjadi platform media sosial dimana dapat merasakan momen secara langsung, otentik, dan tanpa di poles. “Pandangan sosial media terhadap identitas saat ini cukup radikal. Semua harus ada fotonya, harus di posting di Instagram, kalau tidak Anda tidak keren,” kata Spiegel.

Nah, apa yang dilakukan Snapchat adalah bukan menujukkan identitas yang lampau, melainkan sesuatu yang terjadi saat itu juga. ”Kita berbagi dan berkomunikasi dalam momen bersamaan,” katanya.

Dan ide Spiegel itu beresonasi. Snapchat memiliki 161 juta pengguna aktif harian secara global, dengan 60 juta diantara di Amerika dan Canada. Setiap hari pengguna mereka menghabiskan 25 menit-30 menit di platform tersebut.

 

Dibayangi Facebook

58aca00801fe581d008b5c91            Langkah Evan Spiegel menolak tawaran Zuckerberg ini memang bisa berujung bumerang baginya. Pada akhir 2016, Facebook mengenalkan Instagram Stories di Instagram. Fitur itu mengundang respons beragam karena sangat mirip dengan fitur Snapchat baik dari sisi desain maupun fungsinya. Bahkan namanya pun dimirip-miripkan antara “Snap” dengan “Stories”.

Tapi, Facebook pun tidak malu-malu mengakui bahwa Instagram Stories memang terinspirasi oleh Snapchat.

Yang jelas, kehadiran Instagram Stories berpengaruh besar pada kelangsungan bisnis Snapchat kedepannya. ”Kompetitor kami meniru produk dan bisa melukai user engagement dan pertumbuhan perusahaan,” beber Spiegel kepada Times of London. “Ketika Anda langsung meniru sesorang, namanya bukan inovasi,” tambahnya.

Di Amerika, memang rata-rata remaja yang jadi pengguna Snapchat masih setia. Namun, pertumbuhan pengguna Snapchat sendiri saat ini stagnan. Bahkan, cenderung menurun sejak kehadiran Instagram Stories.

Instagram Stories juga seolah menutup ekspansi Snapchat di luar Amerika. Di Indonesia di mana pengguna Instagram sangat tinggi, misalnya, Instagram Stories cepat sekali mendapatkan traksi. Sebaliknya, Snapchat tidak pernah mendapatkan traksi signifikan.

Ini menjadikan tantangan besar bagi pengembangan bisnis Snapchat kedepannya, mengingat selama ini mereka sendiri belum menguntungkan dan masih kebingungan bagaimana melakukan monetisasi. Selama 2016 silam, misalnya, Snapchat merugi hingga USD514,6 juta.

Pertanyaan lain adalah, sampai kapankah premis “Snap” akan relevan, sementara saat ini fitur “live video” di Instagram juga terlihat sangat menarik dan mendapat respons antusias.

Bahkan saat ini pun Facebook juga tetap “mengganggu” Snapchat lewat layanan baru WhatsApp, dimana pengguna bisa mengirim foto yang telah di “dekorasi”, video, hingga GIF yang akan menghilang dalam waktu 24 jam. Jelas jalan kedepan Snapchat akan berat dan berliku.

Yang pasti, hingga 2020 mendatang, Snapchat berniat meningkatkan kapitalisasi pasar mereka bisa mencapai USD100 miliar atau setara dengan Tesla, Netflix, dan General Motors saat ini.

 

Sangat Tertutup

f91c089f3182b6abcd86243d95da4326            Sebelum Snapchat akan melantai di bursa saham, nama Evan Spiegel sudah menjadi pemberitaan karena bertunangan dengan supermodel asal Australia Miranda Kerr, 33. Kerr adalah model Victoria Secret, sebelum akhirnya “gantung sayap” pada 2013. Ia memiliki seorang anak, Flynn Christopher Blanchard Copeland Bloom, berusia 6 tahun, dari pernikahannya dengan aktor Orlando Bloom yang kini berpacaran dengan Katy Perry.

Sebagai seorang entrepreneur yang membangun kerjaan sosial media untuk mendorong orang saling berbagi kehidupan pribadi mereka, nyatanya kehidupan nyata Evan Spiegel sangat tertutup. Bahkan, bisa dibilang ia terobsesi dengan privasi.

Spiegel tidak memiliki akun Twitter atau Instagram. Publik mengetahui jejak digitalnya justru dari sang tunangan, Kerr.

Selain tertutup, Spiegel juga sangat tradisional. Sebab, Kerr menyebut bahwa Spiegel mengaku tidak akan memiliki anak sebelum resmi menikah.

Sedari kecil Spiegel adalah anak yang cerdas. Ayah ibunya adalah dua pengacara yang kaya, dan ia tinggal di kawasan mewah Los Angeles. Selepas SMA ia berkuliah di Stanford, tapi tidak lulus karena sibuk dengan Snapchat yang berlokasi di Venice Beach, California, bukan di Silicon Valley. ”Saya suka LA. Kantor kami dekat pantai, sehingga menyenangkan,” beber Spiegel.

 

Snapchat Spectacles

Rekam Snap Lewat Kacamata

phpq0lbuj

Semua tahu Google Glass adalah produk gagal. Tapi, Snapchat merasa masih ada kesempatan di perangkat wearable tersebut. Pada Oktober 2016, mereka mengenalkan kacamata dilengkapi kamera yang disebut Snapchat Spectacles. Seperti apa?

 

Kacamata Gaya

Snapchat Spectacles berupa kacamata fashion mirip Ray-Ban, terbuat dari plastik dan tidak anti air. Warnanya ada tiga, hitam, merah dan biru.

 

Video Pendek          

Snapchat Spectacles dapat merekam video pendek berdurasi 10 detikan yang disimpan di Snapchat Memories, salah satu fitur di aplikasi Snapchat. Kameranya memiliki lensa 115 derajat seperti mata manusia.

 

Mudah Dipakai

Menurut Snapchat, merekam gambar atau video Spectacles hanya perlu menekan tombol di ujung kiri kacamata. Kamera merekam video per 10 detik.

 

Android dan iOS

Pengguna Android dapat mentransfer video via Wifi. Tapi, pengguna iPhone bisa lewat Bluetooth atau Wifi. Anda bisa menyimpan 200 Snap sebelum harus ditransfer ke ponsel.

 

Tahan Sehari

Baterai Snapchat Spectacles tahan seharian. Untuk menchargenya hanya perlu menghubungkan ke charging case bawaan.

 

Sudah Mulai Dijual

Saat ini Snapchat Spectacles sudah dijual secara terbatas di pasar Amerika secara online dengan banderol USD123.

 

phpnigpq8snapchat-spectaclessnapchat2

Iklan