Screenshot_2016-07-10-12-58-26

“Sebagai cowok, apa perasaan lo ngeliat cewek-cewek cantik memvideokan dirinya secara live sedang berada di kamar sendirian?”

“Ya biasa aja keles. Otak lo aja yang mesum.?”

“Kalau ngeliat video live cewek cantik ngerook di tempat dugem?”

“Ya, mungkin mereka mau pamer kalo mereka itu cewek-cewek gaul yang hits banget. Gak masalah.”

“Kalo liat video live cewek di kasur tengah malem sambil pake baju mini dan ngomong jorok?”

“Cabul!”

Banyak orang yang nggak paham, apa sih asyiknya aplikasi Nono Live atau Bigo Live? Biasanya setelah mengunduh dan mencoba sebentar, mereka langsung meng-uninstall-nya.

Saya juga sudah meng-uninstall kedua aplikasi tersebut. Tapi, setelah dua minggu melakukan “riset”, menyelami apa sebenarnya yang ditawarkan dari aplikasi seperti Nono dan Bigo. Hasilnya adalah adiksi yang jauh lebih hebat daripada Pokemon Go yang membuat saya merasa harus menguninstallnya karena dampaknya ini: merusak otak.

Kok bisa?

Nono atau Bigo lahir dari konsep yang sudah ada sejak video streaming dapat di akses oleh pengguna internet. Yakni “pertunjukkan” video secara live oleh seseorang yang ditonton oleh orang lain, dengan embel-embel sesuatu. Lebih tepatnya disebut saweran.

[KAMUS BESAR BAHASA INDONESIA]

sa·wer /sawér/ v, me·nya·wer v Jk 1 meminta uang kpd penonton atau penonton memberi uang kpd pemain (pd pertunjukan keliling, spt kuda kepang, topeng); 2 Sd menebarkan uang, beras, dsb kpd undangan oleh pengantin 

Di luar negeri, sejak bertahun-tahun lalu pun sudah ada konsep serupa. Seseorang, pasangan, atau beberapa orang sekaligus melakukan kegiatan seksual dalam lewat streaming TV dan penonton memberikan sawerannya untuk meminta si “penyiar” melakukan sesuatu sesuai keinginannya.

Misalnya, penyawer pertama yang memberikan saweran sejumlah tertentu boleh menyuruh “penyiar” melakukan hal-hal yang sesuai keinginannya.

Bisnis modelnya sederhana: “penyiar” mendapatkan panggung dan uang. Penonton mendapatkan harapan, imajinasi, pelampiasan, dan apapun itu. Sementara penyedia layanan seperti Nono dan Bigo mendapat bagi hasil dari saweran berupa virtual gift yang dibeli oleh penonton.

Mengapa kemudian Nono dan Bigo tiba-tiba memiliki pengguna yang sangat besar dalam sekejap (Nono Live mengklaim memiliki 1.5 juta pengguna saat ini), karena infrastrukturnya tersedia. Koneksi 4G LTE dan penetrasi smartphone yang sangat tinggi membuat akses terhadap live video streaming jadi terbuka lebar tanpa hambatan. Anda bisa bangun tidur dan langsung melihat “penyiar” favoritmu live saat itu juga.

Kesan Negatif? Udah Pasti

Hal-hal seksual yang ada di luar negeri tentu tidak akan bisa dilakukan di Indonesia. Atau, ehm, tidak sevulgar yang ada di luar negeri. Silahkan ketik Nono Live atau Bigo Live di YouTube dan temukan bermacam-macam “penyiar” yang melakukan hal-hal yang tidak senonoh. Saya tidak mau bercerita lebih panjang soal ini.

Ya, pihak Bigo dan Nono memang sudah melakukan langkah-langkah dengan memblok penonton yang berkata-kata mesum atau kotor maupun host nya sendiri yang bertingkah laku vulgar dan cabul.

Tapi ya, aplikasi seperti ini emang tidak akan jauh-jauh dari hal-hal seperti itu. Host-host cantik akan menarik semut untuk datang. Kemudian apa? Ya, bisa banyak hal. Di Cliponyu, banyak host yang bisa menghibur dengan bernyanyi. Tapi, mengapa Cliponyu tidak semenarik Nono atau Bigo (bahkan saya lihat ada sejumlah penyiar Cliponyu yang pindah ke Nono atau Bigo)?

Ya karena bawaan Nono dan Bigo memang seperti itu: membuat berpikir mesum. Nggak jauh-jauh dari situ. Jadi, mendingan hindari aplikasi ini karena seperti yang saya tulis di judul. Aplikasi mesum yang sama sekali nggak ada manfaatnya.

 

Iklan