HL.jpg

Oleh: Cahyandaru Kuncorojati

Industri digital berusaha menjawab beragam masalah yang belum tersolusikan dengan baik. Termasuk juga soal cinta dan perjodohan.

Perjodohan acap di anggap rumit dan pelik, karena menyangkut masalah perwatakan, kepribadian, budaya, serta cara pandang dua insan yang mungkin sangat berbeda.

Tapi, bagaimana jika berbagai kriteria tersebut—melalui algoritma tertentu—dapat dicari kecocokannya antara dua orang yang mungkin belum saling kenal. Secara sederhana, bayangkan jika ada sebuah mesin yang dapat mencari seseorang yang mungkin menjadi jodoh Anda.

Itulah yang terjadi dengan maraknya aplikasi online dating yang ada saat ini. Orang semakin akrab dengan internet, semakin tidak punya waktu untuk bersosialisasi karena sibuk bekerja, semakin dikejar waktu untuk segera menikah, dan semakin tidak ragu atau malu-malu lagi mereka untuk bergabung dengan berbagai layanan online dating.

Tujuannya tentu mulia, berharap dapat dipertemukan dengan jodoh mereka yang berada di luar sana. Tapi, seberapa efektif aplikasi ini dalam mencarikan jodoh?

Gaya Hidup Mobile dan Serbasibuk

Sebelum internet dan teknologi meledak seperti saat ini kita mengenal istilah mak comblang hingga jasa perjodohan/biro jodoh sifatnya offline. Nah, hal tersebut telah direvolusi lewat layanan di laman internet atau dalam bentuk aplikasi di ponsel.

CEO Lunchclick dan Co-founder Lunch Actually Group Violet Liem mengatakan, kehadiran layanan online dating app semata-mata mengikuti tingkah laku masyarakat saat ini. ”Tujuannya sama, yakni mempermudah pengguna untuk mendapatkan pasangannya,” ungkap Violet.

Hanya saja, kebanyakan warga urban saat ini memiliki gaya hidup yang sangat padat dan sangat berfokus pada karir. Jadi, tidak sedikit yang mengaku menaruh kehidupan percintaannya bukan pada prioritas utama. ”Padahal mereka masih aktif mengakses internet. Nah, kita berikan medianya,” beber Violet.

Kesibukan ternyata hanya satu hal. CEO Wavoo Yudhi Mandey menilai, banyak pribadi yang pemalu jika harus berkenalan langsung. Nah, di media online, orang dapat sedikit mengurangi rasa malu mereka, bahkan lebih berani. Wavoo merupakan online dating app asal Indonesia. ”Kita ingin pertemukan mereka yang sibuk dan yang pemalu demi mendapat kehidupan percintaan lebih baik,” ujarnya.

Mulai Menggeser Jejaring Sosial

Sosial media memang media pertemanan. Tapi, tak sedikit netizen yang menggunakannya untuk berkenalan dan berharap bertemu jodohnya. Dengan adopsi online dating app yang tinggi, bukan tidak mungkin sosial media mulai ditinggalkan sebagai platform untuk “mencari jodoh”.

”Sudah banyak cerita orang berkenalan lewat Facebook terus berpasangan. Tapi, harus diingat, bahwa lingkungan Facebook terbatas. Misalnya satu kantor atau di lingkungan pergaulan tertentu,” tegas Yudhi Mandey.

Yudhi yang akrab disapa Domex ini mengatakan, online dating app memberikan ruang lingkup yang jauh lebih luas. ”Karena tujuannya mencari pasangan, bukan pertemanan, jadi peluang kecocokan juga tinggi karena terukur,” beber Domex.

Violet Liem menyebut bahwa layanan miliknya sangat ketat dalam menyaring anggota. Antara lain dengan memberikan tarif alias berbayar. Sehingga member sudah tersaring bagi mereka yang serius mendapat jodoh atau pasangan. Peluangnya pun lebih besar.

Lantas, Bagaimana Tingkat Keberhasilannya?

Dating App 50 CountriesSistem serta algoritma online dating app dirancang untuk membantu user mereka bertemu dengan calon pasangan yang sesuai kriteria. Meski demikian, saat ditanya soal keberhasilan, Domex maupun Violet sepakat bahwa keputusan terakhir tetap pada user.

“Pengguna harus mengisi informasi yang diperlukan secara lengkap dan betul. Informasi ini di olah sistem sehingga diperoleh beberapa pengguna lain yang sekiranya memiliki kecocokan. Pengguna kita banyak sekali, tidak mungkin memilih satu per satu secara acak,” beber Domex.

”Kami menyediakan calon pasangan yang sekiranya memiliki kecocokan sekitar 75%, jika di bawah itu biasanya kami akan beritahu pengguna alasan mereka tidak cocok,” ungkap Violet.

Keberhasilan di layanan online dating apps bukan di ukur semata-mata ketika pengguna mereka berpacaran dan berlanjut menikah. Tapi, sampai pada tahap di mana pengguna dirasa sudah memperoleh kecocokan dengan pengguna lainnya.

Sistem kecocokan pun sebetulnya berbeda-beda di setiap aplikasi online dating app. Mulai location based (GPS), berdasarkan kecocokan kritera, serta data dari tes psikologis. Location based sistem yang diterapkan Wavoo memungkinkan pengguna menentukan radius pencarian pasangannya.

Aplikasi lain, eSynchrony menentukan kecocokan pasangan berdasarkan sejumlah rangkaian pertanyaan yang harus di isi. Melalui algoritma  tertentu, pengguna akan mendapat kabar jika “kandidat jodohnya” ditemukan.

 

Aplikasi Online Dating di Indonesia:

tinder-logoTinder

Berdiri pada 2012, memiliki basis pengguna cukup banyak di Indonesia. TInder juga dianggap sukses secara global, mengilhami banyak aplikasi serupa lewat fungsi “swipe left and swipe right” serta fitur location based.

WAV_Logo_R0Wavoo

Aplikasi lokal buatan Gema Megantara dan Yudhi ‘Domex’ Mandey. Berdiri pada 2014, dengan konsep seperti Tinder. Pengguna mereka di klaim sudah mencapai 1,8 juta orang.

SetipeSetipe

Setipe mengharuskan Anda untuk mengisi pertanyaan tes psikologi yang nanti hasilnya akan terlihat dan oleh algoritma tertentu. Aplikasi buatan lokal ini didirikan oleh Razi Thalib.

PaktorPaktor

Online dating app asal Singapura buatan Joseph Phua ini tahun lalu resmi masuk ke Indonesia. Saat ini mereka aktif melakukan berbagai kegiatan di Indonesia.

IndonesiaCupid

Indonesian cupidMasih berbentuk web, disini pengguna akan diberikan beberapa pilihan keanggotaan dengan bentuk akses yang berbeda (berbayar).

 

Dating App AsiaAplikasi Online Terbanyak Diunduh di 50 Negara:

  1. Badoo: 21 negara
  2. Tinder: 18 negara
  3. Lain-lain: 11 negara

Sumber: AppAnnie

 

Aplikasi Dating Kontorversial:

Grindr: dating app LGBT

Luxy: dating app untuk konglomerat

Down Dating: dating app khusus seks

Ashley Madison: dating app untuk selingkuh