12357136_940371216052961_3873434544111404830_oSolo, drone lansiran 3DRobotics resmi dirilis di Indonesia lewat distirbutor resmi Halo Robotics. Meski dijejali segudang fitur, ada sejumlah alasan mengapa “smart drone” ini akan mendapat tantangan berat di Indonesia.

3DRobotics yang asal Amerika itu praktis menjadi pesaing utama DJI, perusahaan China yang menduniakan UAV, helycam, atau drone. Solo, varian terbaru 3DR itu, memang memiliki fitur canggih yang sulit ditemukan di kompetitornya.

Misalnya saja 2 prosesor Linux di remote dan wahana. Lalu, fitur basic seperti Cable Cam, Selfie, hingga Orbit membuat menerbangkan drone jadi lebih mudah. Sesuai klaim Direktur Halo Robotics Eli Mossele yang menyebut bahwa Solo adalah drone paling mudah untuk diterbangkan.

Begitupun rencana mereka untuk memperkuat after sales service resmi, dukungan yang jadi nilai negatif dari DJI. Meski demikian, ada sejumlah alasan mengapa Solo akan mendapat tantangan berat di pasar Indonesia.

 

Tidak Terkenal

12140940_1001371753238048_4430432627461444926_oSolo baru dikenalkan di Amerika pada April 2015. Sementara 3DR walau sudah lama memasarkan drone tidak pernah benar-benar sukses lewat produk seperti Ghost drone. Sejauh ini 3DR belum terbukti memiliki produk kunci. Ini berbanding terbalik dengan DJI yang sudah mendunia dan mendominasi market share drone.

Di Indonesia, nama Solo juga tidak terlalu populer di komunitas. Halo Robotics butuh kerja keras untuk dapat memopulerkan Solo.

Catatan lain, hanya ada 15.000 unit Solo terjual selama April-November 2015. Sedangkan total ada 600.000 unit Phantom 2 dan Phantom 3 terjual, dengan 50.000 unit setiap bulannya.

 

Terlalu Mahal

12362997_1001372819904608_8050538131498162854_oHarga sebuah Solo tanpa gimbal dan kamera (GoPro) adalah Rp17 juta. Dengan harga yang sama, pengguna sudah bisa mendapat DJI Phantom 3 Professional yang siap terbang (ready to fly) lengkap dengan kamera 4K. Lalu, apakah memang fitur-fitur yang dimiliki Solo jauh lebih superior di banding Phantom 3 Professional? Jawabnya tidak. Solo maupun Phantom 3 memiliki plus dan minus masing-masing, dan berkompetisi langsung.

 Kurang Kompetitif

12362786_940370816053001_4587972235747445806_oHarga Solo beserta gimbal adalah sekitar Rp23 jutaan. Pengguna masih harus menambah kamera GoPro Hero 4 seharga Rp6 jutaan. Dengan total biaya hampir Rp30 jutaan, maka secara harga Solo berkompetisi langsung dengan DJI Inspire 1. Itu sama seperti membandingkan Honda HR-V dengan CR-V. Jelas, ini menjadi kekurangan terbesar bagi Solo. Oh ya, Anda masih harus menambahkan Rp2,5 juta untuk backpack dan Rp2,7 juta untuk baterai cadangan.

 

Konektivitas

Solo-Indonesia-Launch-Photo-2-6a9494db20599442a2a0bdd5e41fde9fKetika Solo dirilis pada April 2015, drone tersebut sudah mengalahkan DJI Phantom 2 dalam hal konetivitas Wi-finya karena dirancang untuk dapat digunakan secara seamless dengan GoPro. Namun, DJI sudah selangkah lebih maju dengan membawa teknologi Lightbridge di Phantom 3 (tipe Professional dan Advance).

Lightbridge yang patennya dimiliki DJI itu memungkinkan wahana mengalirkan video beresolusi tinggi (high definition) dengan sangat baik dan stabil, sehingga sangat difavoritkan pilot drone. Adapun Wi-fi yang digunakan Solo memiliki keterbatasan lewat tampilan yang patah-patah.

 

Masalah GPS

Droneflyer.com menyebut bahwa Solo tersebut memiliki problem dengan implementasi GPS yang kurang baik. Ini pernah saya rasakan sendiri ketika tiba-tiba sinyal GPS Solo hilang dan drone jadi tidak terkendali. GPS bisa jadi masalah besar, karena selain berisiko juga dapat membahayakan. Problem GPS ini sudah di atasi oleh DJI di Phantom 3 dengan penggunaan Glonas yang lebih akurat.

 

Target Pasar

Siapa target pasar Solo? Mereka yang sekadar pehobi? Atau yang profesional? Atau malah keduanya? Dengan rentang harganya yang kurang kompetitif, status Solo menjadi “nanggung”. Di rentang Rp17 jutaan, pengguna hobi akan memilih DJI Phantom 3 Professional yang lebih terjangkau dan siap terbang. Tapi, direntang hampir Rp30 jutaan, pengguna profesional jelas lebih memfavoritkan DJI Inspire 1 yang memiliki fitur jauh lebih banyak.

 

GoPro Karma

Solo memang diklaim “future proof” lewat ekspansi berbagai perangkat seperti sistem parasut balistik, gimbal bay, dan accesories bay. Maksudnya, kedepannya pengguna bisa menambahkan berbagai perangkat sesuai kebutuhan sehingga tidak perlu mengganti drone setiap tahun.

Tapi, hal itu tidak membuat Solo kebal terhadap kehadiran Karma, drone buatan GoPro yang rencananya akan dikenalkan pada April 2016 mendatang. Karma dirancang GoPro karena gagal mencapai mufakat dengan DJI. Sejak Oktober silam sudah menjalani tes terbang, dan video pertama Karma (beresolusi 2,5K/1440p) sudah diunggah di YouTube. Kabarnya, Karma akan mengusung banderol USD500-USD1000. Harga lebih terjangkau dan nama besar GoPro bisa jadi masalah bagi Solo.

Iklan