Skynet“Don’t be evil” adalah corporate motto dari raksasa teknologi dunia Google. Tapi, slogan kebaikan itu bisa berubah ketika perusahaan mesin pencari terbesar di dunia itu berkembang diluar bisnis utamanya dan memiliki kemiripan dengan Skynet.

Siapa Skynet? Jika kamu pernah menonton film Terminator pasti pernah mendengar kata tersebut. Ya, Skynet adalah sebuah sistem kecerdasan buatan (artificial general intelligence) yang menjadi musuh manusia.

Skynet diibaratkan sebagai jaringan internet yang dapat berpikir sendiri, dan terhubung di jutaan server komputer diseluruh dunia. Termasuk juga ke berbagai perangkat seperti smartphone, drone, satelit, mesin perang, android (robot, bukan sistem operasi), cyborg (manusia setengah robot), dan sistem komputer lainnya. Skynet menganggap manusia sebagai ancaman dan harus dibinasakan. Nah, apa yang dilakukan Google mirip dengan Skynet.

Perusahaan tersebut saat ini sedang berusaha membenamkan kecerdasan buatan ke berbagai perangkat. Saat ini mereka hampir berhasil membuat mobil yang dapat menyetir sendiri. Selanjutnya, Google juga sedang membeli berbagai perusahaan pengembang robot. Hanya menunggu waktu saja ketika nanti kecerdasan buatan tersebut dibenamkan ke robot dan berbagai perangkat lainnya.

Keinginan Google untuk berkembang dari bisnis awalnya di mesin pencari ini dapat dilihat dari histori kedua pendirinya: Larry Page dan Sergey Brin. Larry Page adalah jenius yang memang lahir dari keluarga terpelajar. Ayah dan ibunya sama-sama profesor Ph.D. di bidang Komputer Sains. Di Google, Page berfungsi menjalankan dan mengembangkan bisnis Google. Ia disiapkan dan sudah menjadi CEO.

Sebaliknya, Sergey Brin, yang merupakan imigran dari Rusia di Amerika itu “dipaksa” ayahnya yang profesor matematika harus jadi terbaik. Sedari awal Brin jarang tampil, karena di Google ia lebih banyak terlibat pada pengembangan produk dan inovasi diluar bisnis utama perusahaan. Mulai Google Glass hingga self driving car.

Nah, tahun ini Google benar-benar ingin membawa departemen Brin ke level baru. Bahkan level yang lebih besar dari Google sendiri. Ya, beberapa waktu lalu Brin dan Page membuat induk perusahaan (holding) yang disebut Alphabet.

Google menginduk pada perusahaan tersebut. Ya, sekali lagi, Google yang pendapatan terbesarnya dari mesin pencari itu menginduk pada Alphabet. Dengan cara ini, maka Brin dan Page bisa lebih bebas mengembangkan proses R&D dari ide dan visi ambisius mereka tanpa harus mengganggu Google.

“Sudah lama kami percaya bahwa setelah sekian lama perusahaan akan menjadi terlalu nyaman melakukan sesuatu yang sama terus menerus. Di industri teknologi, dimana ide revolusioner akan menjadi area pertumbuhan baru, Anda harus terus merasa tidak nyaman agar bisa selalu jadi yang terdepan,” – Larry Page.

”Kami tidak ingin menjadi satu merek (Google) dengan banyak produk. Tapi, inti dari Alphabet adalah setiap perusahaan mengembangkan merek mereka sendiri,” beber Page.

Alphabet berisi perusahaan yang sangat menguntungkan dan perusahaan yang belum, tapi nantinya diharapkan bisa menguntungkan. Seperti Google Auto yang mengembangkan teknologi kendaraan yang bisa menyetir sendiri.

Dibawah Alphabet, CEO Google Auto lebih bebas melakukan IPO atau bekerja sama dengan pihak lain untuk mendapatkan dana (tidak membebankan pada Google).

Nah, Brin dan Page merasa sudah waktunya mereka berdua lebih fokus pada Alphabet. Karena itu, CEO Google dipercayakan pada Sundar Pichai, orang yang mengawasi lahirnya Gmail, Drive, Maps, dan Android. Kapabilitas Pichai dibidang produk dianggap pas menjadi nahkoda Google, sama ketika Microsoft menunjuk Satya Nadela yang memang sangat menguasai produk.

Selengkapnya Soal Perombakan Google

Sundar Pichai, senior vice president of Android, Chrome and Apps at Google Inc., speaks during a keynote session at the Mobile World Congress in Barcelona, Spain, on Monday, March 2, 2015. The event, which generates several hundred million euros in revenue for the city of Barcelona each year, also means the world for a week turns its attention back to Europe for the latest in technology, despite a lagging ecosystem. Photographer: Simon Dawson/Bloomberg *** Local Caption *** Sundar Pichai

CEO: Sundar Pichai, Senior vice-president of product at Google.

Tugas: menjalankan produk Google yang berfokus pada internet, seperti pencarian, peta, Play Store, YouTube, dan Android.

– Larry Page dan Sergey Brin menjadi CEO dan Presiden perusahaan holding Alphabet.

– Perusahaan Naungan Alphabet.

Google-Alphabet

  • Calico, perusahaan kesehatan dan awet muda.
  • Fiber, perusahaan yang menangani internet supercepat.
  • X Lab, perusahaan kurir drone Wing, Google Glass, serta proyek mobil otonom (tanpa pengemudi).
  • Life Science, perusahaan yang berfokus menangani lensa kontak untuk mendeteksi glukosa dalam darah.
  • Nest, perusahaan smart home.

– Semua saham Google kini diperdagangkan sebagai saham Alphabet (holdingnya).

– Setiap perusahaan Alphabet memiliki CEO yang sangat berpengaruh dan mumpuni.

– Masing-masing perusahaan diperbolehkan mengambil risiko, misalnya berinvestasi terhadap proyek tertentu tanpa harus bergantung pada perusahaan lainnya atau pemilik saham.

– Di kuartal pertama 2015, Google mencatatkan penjualan sebesar USD17,7 miliar, 90% diantaranya didapat lewat fitur pencarian, serta YouTube dan Android. Sementara profit yang didapat adalah USD4,3 miliar.

– Google memiliki USD61 miliar dalam bentuk uang tunai.

google-alphabet-infographic

Iklan