Gd. Data Center Sentul - CopyStrategi agresif Telkomsigma terhadap bisnis data center berbuah manis. Anak perusahaan Telkom tersebut menjadi The Indonesia’s Most Admired Companies untuk kategori data center.

Bagi CEO Judi Achmadi, brand image perusahaan berhubungan erat dengan kepercayaan. ”Image yang bagus akan menjadi modal kepercayaan bagi perusahaan yang menitipkan sesuatu ke Telkomsigma, bahwa mereka akan mendapat benefit. Misalnya layanan prima dan jaminan data tidak akan hilang,” ungkap Jac, sapaan akrabnya.

Menurut Jac, klien yang memilih penyedia data center tidak selalu melihat produk yang ditawarkan. Melainkan juga kekuatan finansial dan kelanggengan bisnis. ”Dua hal itu memberi nilai besar pada corporate image. Misalnya dalam 10-20 tahun kedepan perusahaan tidak akan kolaps,” papar Jac. ”Banyak perusahaan yang besar revenue-nya, tapi tidak memiliki corporate image yang bagus,” tambahnya.

Yang dilakukan Telkomsigma untuk terus meningkatkan corporate image, lanjut Jac, adalah dengan menggunakan standar-standar yang dipakai internasional. Misalnya saja penggunaan ISO (Organisasi Internasional untuk Standardisasi), layanan data center yang mengusung standar TIER III dan TIER IV, serta cara kerja yang sesuai SLA (service level agreement) dan diatas ekspektasi.

corporatesimageaward 4 - Copy”Sebelum 2010 Telkomsigma tidak masuk dalam hitungan 10 besar pemain IT di Indonesia. Kini, kami selangkah lagi menjadi the best IT company di Indonesia. Sekarang kita nomer dua. Pada akhir 2015 nanti diharapkan jadi nomer 1,” paparnya.

Faktor utama yang dihitung dalam corporate image index (CII) di IMAC 2015 meliputi quality, performance, responsibility, hingga attractiveness, dimana perusahaan yang mengklaim sebagai ”raja data center dan cloud” tersebut meraih angka tertinggi dari survei yang dilakukan Frontier Consulting Group terhadap responden publik, industri, serta media.

Tahun ini, Telkomsigma yang telah memiliki 300-350 klien dari berbagai industri itu terus melakukan pemenuhan kapasitas total 100 meter persegi (sekarang 65 ribu) untuk data center berspesifikasi tier 3 dan tier 4, ekpansi wilayah, serta penyediaan data center bagi UKM lewat program Star DC.

”Dalam kondisi ekonomi seperti sekarang, banyak perusahaan berpikir untuk melakukan penghematan. Sehingga biaya hanya dikeluarkan jika benar-benar dibutuhkan,” ungkap Jac. Karena itu, investasi secara on demand (butuh-pakai) menjadi populer.

”Misalnya perusahaan butuh storage yang investasinya dihitung 100 persen. Padahal, pemakaiannya hanya 50 persen. Nah, sistem on demand di cloud memungkinkan perusahaan hanya mengeluarkan uang jika tumbuh (pay as you grow),” katanya.

Tren pasar data center di Indonesia terus tumbuh, dengan market size menurut Spire Consulting terhadap Internet Data Center (IDC) dan Enterprise Data Center (EDC) akan terus meningkat pada 2016-2018 ke angka Rp1,355 miliar hingga Rp2,318 miliar. Saat ini Telkomsigma sendiri menguasai 40-45 persen pasar data center. Data center juga ditargetkan mencapai 45 persen dari pendapatan Telkomsigma tahun ini.

Menurut Jac, pihaknya sedang menyasar sektor UKM yang walau sebagian besar memiliki literasi teknologi dan adopsi rendah, tapi potensi pasar yang besar. ”Mereka (UKM) butuh sekali layanan cloud, tapi banyak tidak sadar. Karena itu, pendekatan kami seperti ini: bagaimana membuat teknologi mampu menaikkan revenue dan menurunkan cost mereka,” paparnya.

Layanan andalan Telkomsigma, Always On, juga direspon positif karena tahun ini sudah digunakan oleh perusahaan diluar Telkom Group. ”Ini membuktikan bahwa solusi data center setara TIER 4 itu memang dibutuhkan di Indonesia,” ungkapnya.

Kedepannya, menurut Jac, pihaknya akan mengenalkan layanan Always On ke perusahaan yang lebih luas lagi. ”Kita akan terus ujicoba sampai 5 pelanggan, me-review, dan terjun komersial besar-besaran pada 2015. Ini tantangan sekaligus pembuktian,” paparnya.

Yang terbaru, Telkomsigma juga terjun di bisnis software Big Data Analytics lewat Digital Operation Center (DOC) yang merupakan pengembangan dari sistem pengolahan data. ”Saat ini sedang digunakan oleh Telkom Group. Diharapkan tahun depan sudah bisa dikomersialkan,” ungkap Jac. ”Kita menyediakan data center dan cloud sebagai penyimpanan data, tapi kita juga menawarkan layanan pengolahan data diatasnya. Sehingga data internal dan eksternal perusahaan dapat diolah dan menjadi input yang bermanfaat,” ia menambahkan.

Iklan