Suasana pengemasan unit smartphone Xiaomi Mi 4i di fasilitas e-fulfillment center milik Erajaya Group yang berlokasi di Cakung, Jakarta Utara.
Suasana pengemasan unit smartphone Xiaomi Mi 4i di fasilitas e-fulfillment center milik Erajaya Group yang berlokasi di Cakung, Jakarta Utara.

Tanpa adanya sistem logistik yang baik, ramainya tren penjualan online terbatas dan waktu yang singkat (flash sale) tidak mungkin bisa dilakukan. Apa dan bagaimana sistem logistik itu?

Dalam waktu yang sangat singkat flash sale produk terbaru Xiaomi yakni Mi 4i terjual sebanyak 8.000 unit pada 26 Mei dan 15.000 unit pada 2 Juni 2015 silam. Tanpa adanya dukungan logistik yang baik, tentu akan kesulitan untuk memproses ribuan pesanan tersebut dan mengantarkannya ke tangan pembeli.

Berbeda dengan sebelumnya, proses penjualan Mi 4i memang dilakukan langsung lewat situs resmi http://www.mi.com/id yang didukung oleh oleh Erajaya Group.

Direktur Marketing & Communication Erajaya Group Djatmiko Wardoyo mengatakan, pihaknya sudah memiliki fasilitas e-fulfillment center guna mendukung flash sale yang dilakukan vendor asal Tiongkok tersebut di situs resmi mereka http://www.mi.com/id. ”Kami satu-satunya pihak yang dipercaya untuk mendistribusikan unit Xiaomi Mi 4i yang dipesan melalui portal Xiaomi Indonesia,” ungkap Koko, sapaan akrabnya.

JpegSaya memang sempat datang dan mengamati langsung warehouse e-fulfillment center milik Erajaya Group ada di bilangan Cakung, Jakarta Utara.

”Fasilitas ini tidak hanya dibangun untuk menunjang order Xiaomi Mi 4i, melainkan juga aksesoris dan produk Xiaomi lainnya,” beber CEO Erajaya Group Hasan Aula.

Fasilitas seluas lapangan futsal tersebut, menurut Hasan, dapat memproses order hingga 5.000 unit per hari dengan 30 staf yang bekerja 8 jam. ”Tapi, jika diberlakukan 3 shift maka dalam sehari bisa memproses 15.000 unit,” ungkapnya.

Bagaimana cara kerjanya? Pertama, order yang dari http://www.mi.com/id diterima. Kemudian, unit ponsel dikemas dengan bundling kartu perdana serta label invoice berisi informasi order dan unit. Setelah dipacking dan disegel, lantas disiapkan untuk didistribusikan oleh pihak logistik rekanan, yakni RPX, JNE, dan First Logistic.

Menurut Hasan, Erajaya Group mengurus mulai masuknya barang, persiapan sesuai order, hingga siap didistribusikan. Hal ini bagian dari persiapan Erajaya Group menuju mode bisnis e-commerce yang nanti akan dipegang oleh anak perusahaan yakni Erafone.com.

”Kami berkomitmen untuk beradaptasi dengan model bisnis distribusi dan ritel saat ini. Kita mash belajar. Tapi, kedepannya kami juga menerima brand lain yang mempercayakan Erajaya untuk memasarkan produk secara online,” ungkap Hasan.

Koko juga menyebut bahwa Erajaya Group saat ini memang berdiri diatas dua kaki. Yakni satu di ranah offline dan satu lagi di online. ”Kami memiliki 509 gerai. Sayang jika produk yang kami bantu penjualannya hanya dipasarkan lewat offline. Oleh karena sudah lama kami ingin mewujdukan strategi O2O (online to offline maupun offline to online),” tutur Koko.

Menurutnya, jalur offline tetap harus dikelola dengan baik karena kebiasaan orang Indonesia adalah melihat langsung barangnya dan baru membelinya. Selain itu angka penjualan online biasaya rendah saat hari libur. Sedangkan offline justru sebaliknya. ”Dua jalur penjualan yang disediakan Erajaya tentu menjadi nilai tambah di mata vendor,” ungkap Koko.

Jpeg(Ditulis oleh cahyandaru kuncorojati)

Iklan