Vice President of Xiaomi Global, Hugo Barra gestures during the launch of Xiaomi's Mi4i smart phone in New Delhi on April 23, 2015.  AFP PHOTO / MONEY SHARMA
Vice President of Xiaomi Global, Hugo Barra gestures during the launch of Xiaomi’s Mi4i smart phone in New Delhi on April 23, 2015. AFP PHOTO / MONEY SHARMA

HTC dan LG menjadikan selot microSD sebagai fitur standar di varian M8 dan LG G4. Sebaliknya, Samsung justru menghapusnya di Galaxy S6. Adapun Xiaomi meniadakan fitur tersebut di model flagship tapi justru menjadikannya andalan di varian Redmi yang terjangkau. Ada apa?

Pengguna iDevice baik iPhone maupun iPad mungkin sudah terbiasa memindah dan menyalin foto atau video mereka ke laptop atau sistem penyimpanan awan iCloud. Dengan konsumsi dan produksi konten yang semakin tinggi, memori internal 16 GB acap tidak lagi cukup.

Disitulah selot microSD yang hanya ada di perangkat Android terasa sangat bermanfaat. Sebab, pengguna bisa menambah kapasitas penyimpanan eksternal melalui microSD yang jumlahnya mencapai 64 GB, 128 GB, bahkan 200 GB!

A hostess displays the Galaxy S6 and S6 edge smartphones at the Samsung Galaxy Unpacked event in BarcelonaLogikanya, di model ponsel flagship yang notabene membidik para tech savvy dengan konsumsi konten yang sangat tinggi itu selot memori eksternal/microSD wajib ada untuk memudahkan mereka menambah kapasitas sesuai kebutuhan. Tapi, yang terjadi sejumlah vendor seperti Samsung dan Xiaomi justru memangkas fitur ini.

Apa alasannya? ”Untuk perangkat dengan performa tinggi, kami kontra dengan selot microSD,” tegas Vice President International Xiaomi Hugo Barra. Barra berdalih, ia dan engineer Xiaomi tidak ingin mengorbankan kapasitas baterai, ergonomis, hingga tampilan dari model terbaru Mi 4i yang segera masuk Indonesia itu lewat keberadaan selot microSD.

Menurutnya, kartu microSD menjadi sumber dari banyaknya smartphone yang gagal fungsi. ”Apalagi banyak sekali kartu memori yang palsu dan berkualitas rendah,” ujar Barra. ”Anda merasa membeli Kingston atau SanDisk, tapi itu ternyata barang palsu berkualitas rendah, lambat, dan membuat aplikasi crash, data hilang, serta komplain dan keluhan dari konsumen,” tambahnya.

Jika terjadi crash, kata Barra, yang disalahkan konsumen pertama kali adalah (manufaktur) smartphone. ”Karena memang butuh beberapa lama sebelum mereka (konsumen) mencoba melepas kartu microSD, dan menyadari kesalahan ada disana,” katanya.

Bisa jadi Barra akan mengutarakan alasan yang sama jika masih menjabat sebagai VP dari divisi Android Google. Sebab, semua perangkat Google Nexus tidak memiliki selot micro SD. Menurut VP Design Google Matias Duarte juga pernah menyebut bahwa selot microSD sangat membingungkan bagi user.

”Tren kedepannya seperti itu,” beber Barra. ”Nantinya kartu SD akan menghilang. Sekarang pun semua flagship Xiaomi tidak akan memiliki selot microSD,” tambahnya.

Bukan hanya selot microSD, Barra juga menyebut bahwa baterai removable yang dapat dilepas-pasang pun semakin ditinggalkan. ”Logikanya jika Anda membuat kover belakang bisa dilepas untuk meletakkan selot microSD, maka seharusnya baterai juga removable. Begitupun sebaliknya,” katanya.

Alasan Margin

Jika selot microSD ditiadakan, bagaimana jika konsumen merasa memori internal bawaan ponsel tidak cukup besar? Ada dua cara yang bisa dilakukan. Pertama, rajin melakukan backup ke laptop atau PC dan memakai layanan cloud seperti Dropbox (yang biasanya dalam paket pembelian diberikan bonus kuota selama jangka waktu tertentu).

Alasan kedua, mau tidak mau membeli ponsel dengan kapasitas memori lebih besar, yang sudah pasti lebih mahal. Adrian Kingsley-Hughes dari ZDNET menilai, alasan utama mengapa manufaktur smartphone meninggalkan selot microSD—khususnya di model flagship—adalah soal uang. ”Mereka (vendor) tidak bisa mematok harga premium untuk selot microSD. Tapi, mereka bisa menambah lebih dari USD100 untuk flash storage yang lebih besar,” katanya.

Adrian mencontohkan Apple yang sukses dengan strategi ini. iPhone 6 128 GB dibanderol Rp3 juta lebih mahal dibanding versi 16 GB walau spesifikasinya sama persis. iPhone 6 128 GB dibanderol Rp12,4 juta, sedangkan versi 16 GB hanya Rp9,2 jutaan. Karena itu, konsumen harus memastikan dari awal seberapa besar mereka butuh kapasitas simpan selama memakai sebuah ponsel premium. Apakah 16 GB, atau malah 128 GB.

Bandingkan dengan misalnya ponsel dibawah Rp2 jutaan yang memiliki memori internal 8 GB, tapi bisa ditambah microSD hingga 64 GB dengan beberapa ratus ribu rupiah. Dan kualitas memori tersebut walau tidak secepat memori internal, tapi lebih dari cukup untuk memutar musik, video, dan menyimpan file. Ini juga yang jadi alasan mengapa microSD akan tetap ada di ponsel middle-end hingga low-end.

Iklan