TRIKOMSEL (2)Kendati belanja elektronik secara online terus meningkat, namun Trikomsel yakin gerai ritel offline (disebut brick and mortar) tidak akan tergeser. Menurut Direktur Trikomsel Januar Chandra, konsumen Indonesia termasuk konservatif dalam membeli ponsel. ”Mereka (konsumen) merasa harus mencoba langsung, mencoba fiturnya, merasa cocok, lantas bayar dan bawa pulang,” katanya.

Karena itu, salah satu distributor sekaligus peritel produk telekomunikasi terbesar di Indonesia tersebut masih merasa perlu untuk memperbanyak gerai offline sekaligus meningkatkan kualitasnya. Seperti yang dilakukan saat membuka Samsung Experience Store (SES) seluas 80 m2 di Mal Emporium Pluit, Sabtu (2/5).

Menurut Januar, SES yang tahun ini ditargetkan mencapai 200 gerai di seluruh Indonesia itu selalu berada di mal premium yang strategis, memiliki customer service terlatih, serta live demo unit yang bisa dicoba.

”Konsumen menengah keatas dengan daya beli yang baik sangat menyukai eksperiens seperti ini dibanding beli di toko online. Karena itu penjualan di SES selalu menguntungkan,” katanya. Samsung sendiri mengakomodir hingga 50 persen penjualan Trikomsel.

Terkait tingginya penetrasi e-commerce, Trikomsel sendiri mengaku tidak berdiam diri. Belum lama ini mereka telah bermitra dengan perusahaan logistik elektronik/online SingPost, dan mengintegrasikannya dengan toko online milik Trikomsel seperti Oke.com dan Globalteleshop.com.

Kedepannya, menurut Januar, bukan tidak mungkin Trikomsel juga akan melayani pasar di wilayah Asean. ”Misalnya Trikomsel mendapatkan hak eksklusif untuk menjual perdana sebuah produk ponsel di wilayah Asean. Maka, kami dapat melayani pembelian melalui online dan shipping ke luar negeri,” paparnya.

Samsung Indonesia: S6 Akan Ungguli Sukses S5

Konsumen yang sedang mengambil unit Galaxy S6 Edge setelah sebelumnya melakukan pre-order.
Konsumen yang sedang mengambil unit Galaxy S6 Edge setelah sebelumnya melakukan pre-order.

Dua model flagship terbaru Samsung, Galaxy S6 dan S6 Edge, menyasar segmen premium dengan harga masing-masing Rp9,499 juta dan Rp12,499 juta. Jauh lebih mahal dibanding ketika Galaxy S5 masuk Indonesia yang mengusung label harga Rp8,5 juta itu.

Dengan banderol harganya lebih mahal itu, Samsung Indonesia justru optimistis bahwa S6 dan S6 Edge akan jauh lebih sukses dibandingkan S5. ”Bukan hanya lebih premium dibanding S5, tapi S6 dan S6 Edge adalah smartphone yang sangat berbeda,” ungkap Egidius Situmorang, Retail Marketing Director IM Business Samsung Indonesia.

Egidius menyoroti perbedaan desain bodi yang terbuat dari logam, teknologi fast charging di baterai, kamera 16 MP dengan smart optical image stabilization (OIS), dan masih banyak lagi.

Selama masa pre-order pada 13 April-26 April 2015 silam, misalnya, S6 Edge telah mencatat sebanyak 3.000 pemesanan. ”Sengaja kami batasi untuk menjaga eksklusivitas. Supaya mereka punya waktu untuk menikmati menjadi pemilik pertama ponsel tersebut,” ungkap Egidius.

Sejumlah konsumen yang sudah memesan tampak mengambil ponsel mereka di Samsung Experience Store, Mal Emporium Pluit, yang baru diresmikan Sabtu (2/5) silam.

Di Indonesia, S6 dan S6 Edge dipasarkan secara terbatas di mal-mal tertentu pada 8 Mei, dan serentak di seluruh Indonesia pada 11 Mei. Dengan banderol harga yang tinggi itu, S6 dan S6 Edge dibanding-bandingkan dengan iPhone 6 dan 6 Plus.

Iklan