Pernah jadi nomor satu di segmen smartphone, BlackBerry di Indonesia gagal beradaptasi terhadap kedinamisan pasar. Akibatnya, penjualan hardware mereka terjun bebas. Bahkan penggemar QWERTY pun beralih ke sepenuhnya ke layar sentuh.

Berbeda dengan dulu, menggunakan perangkat BlackBerry saat ini tidak lagi dianggap keren, gaya, atau bergengsi. Hanya ada dua alasan yang pas untuk menggambarkan pengguna BlackBery saat ini. Pertama adalah mereka yang belum bisa ”move on” dengan masa lalu. Sedangkan kedua adalah konsumen yang menjadikan ponselnya untuk satu fungsi: menyelesaikan pekerjaan.

Karena itulah gambaran dari BlackBerry Classic, ponsel yang mengadopsi desain Bold 9900 itu. Di Indonesia, Bold 9900 dirilis pada 2011 atau 4 tahun lalu, ketika BlackBerry masih cukup berjaya. Mungkin BlackBerry Classic diharapkan bisa menggamit kembali pengguna Bold 9900 kala itu yang mungkin sudah berpindah ke iPhone atau ponsel Android untuk bernostalgia.

Terlepas dari dukungan kibor fisik yang diklaim ”terbaik” itu, BlackBerry Classic masih memakai navigasi trackpad, prosesor usang dual-core 1.5 GHz keluaran dua tahun lalu, layar sentuh 3.5 inci 720×720 yang seolah lupa bahwa smartphone 5 inci dianggap normal saat ini, serta kamera 8 MP dengan fokus yang terbilang lambat.

Selain aplikasi native di BlackBerry World, memang pengguna dapat mengakses aplikasi Android lewat Amazon Appstore. Misalnya Candy Crush Saga atau Cut the Rope 2. Namun, jangan berharap banyak.

Aplikasi Android memang kompatibel di BlackBerry, tapi tidak berjalan di perangkat native-nya. Begitupun hardware yang tidak mendukung. Akibatnya, PocketNow menyebut bahwa aplikasi Android berjalan patah-patah, membuka lebih lama, bahkan menutup otomatis (forced closed) baik saat sedang melakukan instalasi atau saat aplikasi sedang dibuka.

Selain itu, konsumen harus siap dengan penurunan harga BlackBerry Classic yang dibanderol Rp5.599.000 itu cukup drastis. Ini melihat rekam jejak model BlackBerry Passport yang harganya bebas hingga Rp3 juta dalam waktu kurang dari 4 bulan.

BlackBerry Passport dirilis November 2014 dengan banderol Rp9,59 juta. Sekarang, ponsel yang diklaim premium tersebut kini hanya dilego Rp7.049.000 di situs ritel online Lazada.co.id.

Ditinggalkan Pengguna Setia
Blackberry classic (1)Dede Semiawan, 25, mengaku sudah kehilangan minat terhadap BlackBerry walau sudah hadir tipe terbaru. ”Karena fitur utama yang awalnya membuat saya tertarik adalah BlackBerry Messenger (BBM). Sedangkan BBM sudah bisa digunakan di Android dan iOS,” ungkapnya. Selain itu, Dede menganggap smartphone Android menawarkan lebih banyak fitur menarik yang sesuai kebutuhan konsumennya.

Alasan serupa juga diungkapkan Bernat, 29, yang berprofesi sebagai audio engineer. Mantan pengguna BlackBerry Gemini tersebut menyebut bahwa ponsel Android memberikan banyak keleluasaan dalam hal eksplorasi. Baik untuk bekerja maupun mengakses hiburan.

Devi Larasati, 25, yang memakai handset BlackBerry Torch sejak 2011 akhirnya resmi meninggakan kibor fisik dan beralih ke layar sentuh. Pilihannya jatuh pada Sony Xperia T2 Ultra. ”Dengan harga terjangkau, saya mendapat layar HD yang berukuran besar, kamera 13 MP, hingga fitur Walkman,” katanya.

Menurut Devi, pamor BlackBerry yang asal Kanada itu sudah jauh tergeser dibanding merek keluaran Jepang dan Korea seperti Sony dan Samsung, serta vendor Android asal China. ”Kalau BlackBerry punya aplikasi yang seru serta kamera lebih baik mungkin saya akan mempertimbangkan lagi,” katanya.

Nurul Sakinah mulanya juga pengguna BlackBerry. Sejak 2010 hingga 2013 ia memakai BlackBerry Curve 9300 dan 9320. Tapi, pada 2013 itu akhirnya ia resmi berganti ke Android. Alasannya? ”Android membuat hidup saya lebih mudah. Aplikasi banyak yang gratis, kompatibel ke mana saja, dan banyak pilihan,” katanya.

Saat ini market share smartphone BlackBerry global dibawah kepemimpinan CEO John Chen tidak berubah. Menurut IDC, pada 2014 BlackBerry mengapalkan 5,8 juta perangkat, turun 70% dibanding tahun sebelumnya. Secara total market share smartphone global didominasi oleh perangkat Android dan iOS (penetrasinya mencapai 96%).

Strategi Chen sendiri memang tidak berorientasi pada penjualan hardware. Melainkan mengalihkan fokus pengembangan produk di peranti lunak, terutama produk keamanan. BlackBerry, misalnya, telah bekerja sama dengan Samsung terkait manajemen keamanan di ponsel dalam rangka menyambut tren bring your own device (BYOD).

Iklan