asus3Asus PadFone S adalah contoh smartphone kelas mid-end yang diracik dengan lezat. Desainnya cukup pedas, performanya manis, sedangkan harganya membuat tersenyum.

Inilah ponsel yang paling dicari selama 2014 silam di situs pemanding harga Telunjuk.com: Asus Zenfone 4. Bisa jadi vendor asal Taiwan itu tidak tumbuh secepat dan sepesat Xiaomi yang merangsek ke posisi tiga smartphone dunia. Namun, di Indonesia Asus adalah salah satu merek ponsel yang paling dicari dan diminati oleh pengguna.

Mengapa? Ada banyak alasan. Tapi, salah satu yang terpenting adalah bagaimana vendor asal Taiwan itu berhasil membuktikan kualitas produk mereka di pasar. Mereka dapat meyakinkan konsumen bahwa produk dengan spesifikasi tinggi tidak selalu harus ditebus dengan harga mahal.

Asus Padfone S ini adalah salah satu pembuktinya. Dengan banderol Rp3 jutaan, inilah ponsel kelas mid-end yang fiturnya setara high end. Jika sebuah ponsel dikategorikan ”high end”, seharusnya sudah tidak boleh ada komplain lagi dalam melakukan kegiatan berkomputasi sehari-hari.

Misalnya layar high definition yang menjamin bahwa kegiatan menonton video beresolusi tinggi atau membuka gambar dapat ditampilkan sebaik mungkin di resolusi layar yang tinggi. Atau, kamera dengan fokus cepat dan dapat merekam video dengan baik. Begitupun tidak lagi ada jeda atau lag ketika berganti dari aplikasi satu dan lainnya.

Mengapa demikian? Karena mereka yang berada di segmen high end ini sangat penuntut, sangat rewel, dan mudah sekali berganti merek jika memang dianggap tidak memuaskan.

Ketika konsumen high end ini diminta turun kelas memakai ponsel mid-end. Mereka akan cepat sekali menemukan kekurangan, sesuatu yang kecil namun tidak sesuai dengan standar mereka. Misalnya layar lebar (5 inci) tapi beresolusi qHD yang membuat tampilan tidak tajam, atau prosesor merek tertentu yang walau spesifikasinya tinggi tapi tidak responsif, atau mungkin kualitas kamera yang buruk.

Karena itu, mulanya saya sedikit pesimis ketika mencoba Asus Padfone S. Bisakah ponsel mid end ini memenuhi standar dari para pengguna high end?

Kesan pertamanya saja sudah negatif. Duh, bodinya tebal juga. Semakin tebal pula ketika ditambah casing. Tampilan warna putih di depan dan tepian logam standar saja, tidak mewah. Justru warna putih doff di kover belakang yang kelihatan elegan tidak bisa dipamerkan karena tertutup casing.

Untungnya, saat digenggam ketebalannya masih dibatas yang bisa ditoleransi. Maksudnya, masih proporsional dan nyaman dinavigasikan dengan satu tangan. Asus juga memberikan fitur ini: tahan cipratan air (standar IPX2) serta jatuh dari ketinggian 1,5 meter. Ini fitur yang sangat penting mengingat kedua hal tersebut pasti kita alami sehari-hari.

Favorit saya adalah Full HD 5 inci beresolusi 1920×1080 dan ketajaman piksel 441 ppi itu. Nyaman untuk melihat video dan membaca berlama-lama. Teknologi IPS+ membuat kualitas gambar tidak berubah ketika dilihat sedikit miring ke kiri atau ke kanan. Fitur bawaan Reading Mode yang akan mengurangi warna membuat mata tidak lelah ketika membaca dalam waktu lama di lampu temaram.

Bagaimana dengan kameranya? Beresolusi 13 MP dengan bukaan f/2.4 dan 2 MP (depan), kualitasnya cukup standar. Di pencahayaan terang fokusnya lumayan gesit, tapi entah kenapa menjadi muncul efek ”jello” ketika merekam video di pencahayaan rendah.

Memang ponsel ini bisa merekam video beresolusi 4K Ultra HD (3940×2160 piksel). Tapi, fitur tidak akan berguna jika toh ujung-ujungnya hanya diunggah ke YouTube, Path, atau Instagram. Justru fitur seperti miniature, slow motion, dan high speed yang memungkinkan ruang lebih bagi pengguna untuk berkreasi. Slow motion menarik sekali merekam video kegiatan dengan kecepatan tinggi seperti meloncat atau bersepeda untuk kemudian mengunggahnya ke Instagram.

Ada beberapa hal yang saya manfaatkan, ada beberapa juga yang tidak. Untuk mendengarkan musik saya memilih mengunduh aplikasi seperti Google Play Music. Penawaran file hingga 50 GB juga tidak terpakai karena saya sudah menggunakan Dropbox. Tapi, ada beberapa aplikasi bawaan yang menarik untuk diutak-atik seperti Movie Studio, Splendid, Party Link, dan MicroFilm.

Ketika diajak berinternet, dukungan 4G LTE, serta HSPA 42.2 Mbps dan HSUPA 5,76 Mbps membuat ponsel asyik saat terkoneksi jaringan internet cepat. Prosesor 2.3 GHz berchipset Snapdragon 801, RAM 2GB serta GPU Adreno 330 juga cukup responsif. Tidak ada keluhan. Baterai lithium polymer 2.300 mAh yang tidak bisa dilepas juga tidak ada masalah. Hanya saja, mengapa Asus tidak membuat ponsel ini jadi dual SIM? Seharusnya segmen yang disasar sangat cocok memakai dua kartu SIM sekaligus.

Oh ya, PadFone S ini ternyata dapat dibeli sepaket dengan docking berupa tablet Full HD berukuran 8.9 inci dan baterai 4.990 mAh yang disebut PadFone S Station. Menambahnya pun tidak terlalu mahal. Begitu dikoneksikan, tablet tersebut selain berfungsi sebagai charger juga menampilkan menu di PadFone S (dalam tampilan tablet). Jadi, konsumen akan membeli tablet dan smartphone sekaligus.

Perlukah membeli PadFone S sekaligus tabletnya? Jika memang Anda juga kebutuhan untuk mengakses layar lebih besar, kenapa tidak? Tapi, seandainya Anda sudah cukup menggunakan ponsel saja tidak perlu membuang uang untuk membeli perangkat tambahan yang tidak akan Anda gunakan.

 

Asus PadFone S
asus
Keunggulan:

  • Fitur setara smartphone kelas high end.
  • Sulit mencari tandingan di rentang harga yang ditawarkan.
  • Kualitas produk sangat baik.
  • Paket tablet Asus PadFone S Station jadi nilai tambah.
  • Tahan cipratan air dan goncangan.

Kelemahan:

  • Bodi tebal.
  • Tidak dual SIM.
  • Baterai tidak dapat diganti.

asus2

Iklan