Perkembangan Teknologi yang semakin pesat, membuat semakin banyak pula perangkat teknologi yang memudahkan pekerjaan manusia, salah satu yang paling popular sekarang ini adalah 3D Printer.

Secara istilah 3D Printing adalah proses pembuatan benda padat tiga dimensi dari sebuah desain secara digital menjadi bentuk 3D yang tidak hanya dapat dilihat tapi juga dipegang dan memiliki volume.

Singkatnya jika selama ini kita terbiasa mendengar proses printing hanya dapat mencetak teks atau gambar di sebuah kertas atau media 2 dimensi yang tidak memiliki volume, nah di perkembangan Teknologi yang semakin pesat ini, kita juga dapat mencetak atau melakukan proses printing untuk pembuatan alat atau benda di media 3D (3 Dimensi) yang tidak hanya bisa dilihat, tetapi juga memiliki volume atau bentuk. Printing 3D memungkinkan kalian untuk membuat sebuah karakter-karakter anime, mencetak gelas, mangkuk, peralatan rumah tangga, ataupun benda-benda dengan bentuk sesuai dengan yang kalian inginkan yang tentunya jauh lebih unik dibanding dengan bentuk-bentuk yang sudah ada dipasaran.

Tetapi tidak dapat dipungkiri, masih banyak dari kita yang masih awam dengan istilah Print 3D, walaupun sebenarnya banyak benda atau alat yang ada di sekitar kita dibuat menggunakan Print 3 Dimensi. Peralatan Rumah Tangga. Komponen penyusun Mobil, Bagian Tubuh Manusia Makanan Jasa printer 3D di Indonesia, walaupun terbetas, tapi ternyata sudah ada. Salah satunya adalah Immersa Labs di Bandung.

Penetrasi Teknologi Cetak 3D

Tahun ini akan jadi perubahan besar terhadap industri 3D Printing atau Cetak 3 Dimensi. Sektor otomotif, makanan dan kesehatan menjadi sektor industri yang paling banyak mengadopsi teknologi cetak 3D dalam beberapa tahun terakhir ini.

Analis memperkirakan pasar cetak 3D global akan mencapai 8,6 miliar dolar Amerika Serikat pada tahun 2020 mendatang sejalan dengan meningkatnya pertumbuhan gabungan tahunan (CAGR) sebesar 20,6% antara tahun 2014 hingga 2020.

Pemeran Metrology Asia (MTA) 2015 yang akan berlangsung pada 14-17 April 2015 mendatang di Singapura salah satunya akan menampilkan berbagai aplikasi 3D Printing di berbagai industri, mulai dari Kedirgantaraan, Aneka Perlengkapan, Elektronik, Teknologi Medis dan Kelautan serta Rekayasa Lepas Pantai.

Potensi pertumbuhan bisnis cetak 3D ada di kawasan Asia Tenggara, khususnya di Singapura maupun Indonesia, menjanjikan. Demikian diungkap General Manager Creatz 3D Sean Looi yang sedang melatih tim dari Indonesia itu. ”Di Singapura dengan tenaga kerja mahal, AM bisa meningkatkan produktivitas dan menghemat biaya dalam jangka panjang,” katanya.

AM, menurut Looi, dapat difungsikan untuk mendukung proses manufaktur tradisional. Bagaimana teknologi ini dipakai untuk memperpendek alur proses produksi.
Di Singapura, penggunaan teknologi 3D Printer biasa dipakai di bidang industri yang membutuhkan Kesesuaian (Fit), Bentuk (Form) dan Fungsi (Function). Belakangan, penggunaan AM sudah memasuki areal produksi dan suku cadang.

”AM dapat diaplikasi lintas sektor/industri asalkan para pelaku industri mampu mengubah pola pikirnya untuk bisa menerima AM sebagai pelengkap bagi alur kerja bisnis mereka,” paparnya.

Ia mengakui, saat ini bisnis cetak 3D masih dianggap sebagai gimmick. Misalnya saja pada produk mainan, perhiasan, tempat ponsel dan lainnya. Tapi konsumen tak melihat bagaimana implementasi AM telah mengubah bagaimana sebuah produk dirancang dan diproduksi. “Ada celah pengetahuan antara para produsen dan konsumen dan ini perlu edukasi untuk menjembataninya,” ungkap Sean Looi.

Sistem cetak 3D/AM dinilainya memiliki banyak manfaat. Tapi, masih butuh edukasi. untuk mendorong pengaplikasiannya di berbagai industri. Edukasi bisa dilakukan melalui pelatihan para insinyur sehingga nantinya dapat dikolaborasikan dengan proses bisnis. Industri otomotif menjadi salah satu sektor yang bisa memanfaatkan cetak 3D.

Aplikasi 3D Printer di Indonesia bisa dilihat dari pengalaman Immersa Lab, laboratorium di bawah Bandung Techno Park. Mulanya Immersalab yang kegiatan sehari-harinya melakukan riset di bidang Embedded System itu menggunakan printer 3D untuk mendukung riset dan produksi.

Belakangan mereka melihat kebutuhan di masyarakat akan printing 3D semakin tinggi, sehingga mereka membuka layanan jasa mencetak 3D untuk umum. ”Supaya masyarakat dapat ikut memanfaatkan jasa 3D printer, mengingat harga unitnya masih relatif mahal,” katanya.

Diakui oleh Eko, kendala yang ia temui adalah masyarakat masih banyak yang belum mengenal dan menguasai software 3D. Berbeda dengan desain 2D seperti Corel Draw atau Photoshop yang sudah populer. ”Problemnya, jika mereka ingin mencetak sesuatu dalam bentuk 3D, maka mereka harus memiliki file dalam format 3D yang siap dicetak. Ini jadi masalah karena jumlah animator dan desainer masih terbatas,” katanya.

Untuk dapat melakukan printing, diperlukan data objek 3D dengan format file *.STL. Secara umum software membaca objek 3D per layer. Informasi layer yg terbaca diteruskan ke printer untuk dapat dicetak layer demi layer.

Proses printing dilakukan oleh sebuah komponen bernama extruder, komponen ini memanaskan dan menarik filamen plastik (ABS/PLA/HIBS) yg masih dlm bentuk gulungan kemudian menuangkannya ke papan yangg berada di bawah extruder.

Extruder kemudian bergerak membentuk objek per layer dari bagian paling bawah objek hingga ke layer bagian paling atas sesuai informasi yg sdah dibrerikan oleh software.

Walau marketnya tergolong niche, namun Eko menilai tanggapan dengan munculnya jasa printer 3D ini sangatlah positif. ”Banyak dari mereka yang terbantu kebutuhannya. Latar belakangnya pun sangat berbeda. Ada yang membuat casing, mock up produk, miniatur, mainan, atau maket,” paparnya. Eko menilai, setelah 3D printing lebih populer, lebih terjangkau, dan lebih bisa diakses, maka akan muncul banyak model bisnis-model bisnis baru dengan memanfaatkan printer 3D tersebut.

Saat ini pihak ImmersaLab sendiri terus mencari cara untuk membuat sinergi antara mereka sebagai penyedia jasa 3D printing, para desainer 3D, dan para konsumen. ”Sehingga dari kolaborasi yang baik bisa memberi manfaat yang lebih luas lagi untuk masyarakat. Karena masih banyak kalangan menengah kebawah yang belum terlalu ngeh dengan 3D printer,” paparnya.

Iklan