IMG_1668Semakin baiknya kualitas kamera pada ponsel membuat barrier to entry bagi sineas untuk membuat sebuah karya video atau film menjadi nol. Dengan smartphone dengan harga beberapa juta rupiah, seseorang bisa membuat video pendek untuk diunggah di YouTube atau Instagram yang bisa ditonton ribuan, bahkan ratusan ribu kali.

Membuat video di smartphone dapat dilakukan begitu mudah, begitu cepat. Bahkan tidak perlu bersentuhan dengan komputer/PC. Video disyut, diedit, dan langsung di share ke internet atau sosial media dari smartphone. Sekarang lah saatnya siapapun bebas berkarya membuat video. Sekaranglah saatnya batas seni gambar bergerak tidak lagi dibatasi oleh alat.

Disyut di Smartphone, Berjaya di Festival

Tangerine yang diputar perdana di Sundance Film Festival 2015 pekan lalu bercerita tentang dua orang transgender yang berprofesi sebagai pelacur menghabiskan Malam Natal di Los Angeles. Kisah film itu begitu kuat sehingga menerima banyak pujian.

Tapi, yang paling mengejutkan dari Tangerine datang setelah film itu selesai diputar. Sutradara Sean Baker mengatakan bahwa film tersebut disyut sepenuhnya menggunakan iPhone 5s yang dilengkapi Anamorphic Adapter Lens, yakni semacam aksesori lensa untuk membuat gambar video terlihat seperti film layar lebar.

Sineas dan pemeran film Tangerine.
Sineas dan pemeran film Tangerine.

”Gambarnya terlihat sinematik karena kami memakai aplikasi yang disebut Filmic Pro. Kombinasi keduanya justru membuat film ini tampil sangat unik dan berbeda,” kata Sean Baker.

Sedari awal Baker memang ingin memfilmkan jalan persimpangan antara Santa Monica Boulevard dan Highland Avenue di Los Angeles yang banyak digunakan sebagai tempat nongkrong kaum transgender. ”Dari situ saya mendapatkan ide cerita dan bertemu dengan pemeran utama Mya Taylor,” katanya.

Menggunakan smartphone justru membuat Baker jadi lebih bebas dalam memfilmkan suasana jalanan. Sehingga ia merasa bisa menangkap suasana jalanan Monica Boulevard dengan lebih nyata. ”Tempat itu sangat dramatis, ribut, tapi juga penuh warna. Sehingga indah ketika di-filmkan,” katanya.

Membuat film lewat smartphone bukan sesuatu yang baru. Sudah dilakukan sejak 2005 oleh banyak sutradara. Marcello Mencarini dan Barbara Seghezzi mensyut film New Love Meetings (Comizi d’Amore) lewat ponsel. Pada 2007, sutradara Afrika Selatan Aryan Kaganof menggunakan Sony Ericsson W900i untuk membuat SMS Sugar Man. Nokia N8 dipakai sutradara Hooman Kalili untuk mengabadikan film Olive, sementara sutradara Korea Park-Chan Wook mensyutf ilm pendek Paranmanjang (Night Fishing) memakai iPhone 4.

Uneasy_iPhoneSineas Sascha Ciezata nekad mensyut film When Lynch Met Lucas dengan iPhone karena tidak punya bujet. Tapi, dari situ ia justru mendapatkan banyak kebebasan dalam proses produksi. ”Karena hasilnya bisa dilihat kapan saja, tidak hanya di ruang ediitng. Seperti memiliki studio di kantong,” katanya. Film When Lynch Met Lucas menjadi viral di internet.

Bahkan sineas Indonesia pun tidak kalah dalam menyemarakkan adopsi teknologi ini. Film layar lebar Cai Lai Gong dari rumah produksi Rexinema disyut menggunakan Galaxy Note. Co-producer Sheryl Sheinafia mengatakan bahwa kualitas video di kamera ponsel sudah semakin mendekati dengan kamera konvensional. Ia pun ingin membuktikannya. Cai Lai Gong bergenre horror, terinspirasi dari urban legend di Tiongkok.

Saat ini festival film internasional yang khusus untuk film smartphone sudah banyak sekali ditemukan dan digelar setiap tahun. Mulai Toronto Smartphone Film Festival, iPhone Film Festival, Mobile Film Festival, hingga International Mobil Film Festival.

Kalau pun tidak percaya diri untuk mengikutkan karya ke film itu, cukup bikin film dan mengunggahnya di YouTube atau Instagram.

iphone-slr-mount-e14c

QUOTE:

“Seni mendorong teknologi dan teknologi mendorong seni”

Iklan