passport_deskTidak hanya di Indonesia, handset BlackBerry juga ditinggalkan konsumen di berbagai negara. Hanya tinggal menunggu waktu hingga BlackBerry meninggalkan bisnis handset mereka dan sepenuhnya beralih fokus ke lini bisnis lain.

Passport, handset terbaru BlackBerry itu, memang aneh. Bentuknya dirancang sesuai namanya: persegi (bujur sangkar) seperti sebuah paspor. Bukan persegi panjang seperti umumnya ponsel pintar.

Ulasan terhadap Passport cenderung beragam. Ada yang memuji, tapi tidak sedikit yang mengkritik dan menjelek-jelekan desain yang disebut tidak nyaman digenggam itu.

Situs seperti The Verge menyebut banyak sekali sisi negatif BlackBerry Passport. Mulai tidak nyaman dipegang, lebih berat dari iPhone 6, keypad terlalu pendek dan kecil, hingga sulitnya menjalankan aplikasi Android di handset tersebut.

Yang menarik, dalam sebuah wawancara dengan Financial Times, CEO John Chen, 59, mengatakan bahwa dirinya mengaku tidak bisa meyakinkan istrinya untuk mau menggunakan BlackBerry Passport. ”Saya lebih suka Samsung (Galaxy),” Chen menirukan istrinya. Chen menilai sang istri terlalu banyak membaca ulasan buruk tentang Passport di berbagai media di internet.

Fitur Passport sendiri sebenarnya lumayan. Misalnya prosesor Snapdragon 801, RAM 3 GB, memori internal 32 GB, kamera 13 MP, sistem operasi BlackBerry 10.3, serta resolusi 1440×1440 di layar 4,5 inci-nya.

Namun, harga Passport yang di Amazon dibanderol hanya USD599 itu melonjak hingga Rp9,6 juta ketika dipasarkan di Indonesia. Bahkan di situs e-commerce Lazada handset tersebut dijual hingga Rp11 juta.

Tentu saja, harga tersebut tidak masuk akal dan sangat berlebihan mengingat BlackBerry sama sekali tidak memiliki gengsi maupun pesona seperti halnya iPhone keluaran Apple yang juga memasang label dua digit. ”Terlalu mahal, terlalu kaku, dan sulit diterima oleh pasar Indonesia,” tulis akun @_denbaguse_ di Twitter.

Market Share Merosot Tajam

blackberrypassport_977559cd61857db03ab4d6547f0cae64BlackBerry adalah bukti bagaimana jika perusahaan teknologi gagal atau terlambat berinovasi. Maka, dalam waktu yang sangat cepat perusahaan tersebut akan ditinggalkan konsumennya.

Pada 2011, market share BlackBerry di Indonesia mencapai 43%. Tapi, sejak itu terus merosot tajam.

Dari sisi OS, shipment BlackBerry diprediksi IDC Indonesia hanya 4% hingga akhir tahun 2014. Padahal, pada 2013 market share mereka 13%, dan di 2012 market share mereka diatas 25%.

Head of IDC Indonesia Operations Sudev Bangah mengatakan, penurunan BlackBerry di Indonesia terjadi sejak 2012. Penyebabnya, menurut Sudev, adalah kurangnya inovasi di sistem operasi mereka dan kemampuan OS tersebut untuk mendukung semua jenis aplikasi yang diminta oleh end user.

Ditambah lagi pada saat itu berbagai handset Android mulai memasuki pasar Indonesia dan end user diberikan berbagai jenis pilihan dengan user interface yang baru.

Namun, Sudev juga menggarisbawahi bahwa penurunan drastis market share BlackBerry pada 2013 dan 2014 juga terjadi karena arah perusahaan dibawah nahkoda John Chen dirubah. Kini, BlackBerry lebih berfokus pada Business to Business (B2B) dan enterprise mobility management (EMM).

”Strategi BlackBerry saat ini tidak lagi membanjiri pasar Indonesia dengan handset mereka. Dominasi market share dari sisi penjualan handset sudah dianggap tidak begitu penting,” tandas Sudev. ”Prediksi kami tahun ini tidak berubah. BlackBerry masih akan tetap disekitar 3%-4% dari sisi shipment OS,” ia menambahkan.

Dikenalkannya BlackBerry Passport sebagai ”business tool” dan menyasar business end-user (bukan lagi konsumen sehari-hari), Sudev mengatakan, salah satunya untuk mendukung strategi B2B BlackBerry.

Iklan