IMG_3244_1Hari masih pagi ketika kami menginjakkan kaki di Buniayu Adventure & Training , kawasan wisata berjarak 20 km dari kota Sukabumi yang ditempuh dalam waktu sekitar 1 jam. Tepatnya berlokasi di desa Kerta Angsana, Nyalindung, Sukabumi, Jawa Barat.

Ferry Saputra, pengelola Buniayu Cave, hanya memberi “ancer-ancer” ini: “pokoknya kalau mas sudah melewati terminal dan jembatan beratap besi berarti sudah benar,”. Oke deh. Akhirnya kami harus bertanya ke penduduk lokal karena di GPS letak Buniayu tidak terdeteksi.

Setelah melewati jalanan berliku akhirnya kami sampai di papan penunjuk Buniayu Cave di sebelah kanan jalan. Hampir saja terlewati seandainya mata Leya tidak awas. Saya kembali menelepon Ferry.

“mas bener ini masuknya jalannya turun ke bawah gini? ”

” iya benar, mas bawa mobil apa? ”

” City car. Bisa ngga nih? ”

” bisa mas, pelan-pelan saja”.

Dari signage di pinggir jalan, mobil dipaksa turun ke jalanan berbatu yang lumayan terjal. Dari turun, naik lagi, dan sedikit berkelok. Mungkin sekitar 1 km.

Selama bawa mobil dengan ground clearance tinggi seperti Avanza dan SUV dipastikan aman. Tapi, kami harus ekstra hati-hati karena ngeboyong city car.

Kami parkir di depan rumah penduduk. Ternyata Ferry sudah menyambut dengan ramah. Kita langsung turun ke bawah, ngemil dan ngeteh, sambil langsung pasang pakaian berkantung banyak yang acap disebut coverall (wearpack). Pakaian ini tahan air, cepat kering, dan penting untuk melindungi tubuh dari lumpur atau gesekan dengan batu.

Saya sengaja mengambil paket ini: memasuki gua 200 meter dan 400 meter. Keduanya memiliki mulut gua berbeda. Tapi sama sama horizontal. Memang ada paket lainnya yang lebih menantang, yakni turun vertikal dengan rappeling. Tentu saja hal itu nggak mungkin dilakukan dengan Langit.

Saya baru pertama kali masuk ke gua selama dan sedalam ini. Gua pertama punya banyak sekali pemandangan, stalaktit, stalakmit, lumpur purba, fosil tumbuhan, hingga sungai di dalam tanah. Ferry yang lulusan geologi itu menjelaskan dengan semangat dan detil.

Sama semangatnya dengan Langit yang asik memainkan senter, mencari serangga kecil yang hidup di gua. “ada jangkrik dan kalajengking tidak berekor. Keduanya sama-sama buta. Mereka hanya bereaksi dengan getaran, bukan cahaya,” celoteh Ferry.

Di gua pertama kita masuk dan keluar lewat pintu yang sama. Sedangkan pintu masuk gua kedua yang sepanjang 400 meter bersebelahan.

Nah, gua kedua ini lebih menantang medannya. Ada yang mengharuskan kita menunduk, berjongkok, melompat, ngesot, bahkan miring seperti adegan James Franco di film 127 Hours.

Lorongnya sendiri acak, dari sempit tiba-tiba membesar, mengecil lagi, becek, berlumpur, dan masih banyak lagi. Rasanya setiap beberapa meter kita selalu terkejut. Pengalaman yang luar biasa.

Menurut Ferry, gua terbagi dalam 3 Zona. Zona terang ada di mulut gua, zona senja ketika masih ada sinar matahari masuk, dan zona gelap abadi (pitch black) yang berarti kita sepenuhnya mengandalkan cahaya buatan.

Langit, menurut Ferry, resmi menjadi anak termuda yang pernah dibawa masuk ke dalam gua. Ia bersemangat sekali. Tidak mau digendong, nggak mau dibawakan senter nya, nggak ngeluh, nggak takut, nggak bawel. Oh my, im so proud of him. Ia juga antusias mencari serangga dan menunjuk-nunjuk dengan senter nya. Rasanya tidak ada yang lebih enjoy selain dia.

Beberapa kali saya memang harus menggendongnya dan melangkah dengan ekstra hati-hati. Apalagi di gua kedua ini pintu keluarnya berbeda, harus memanjat lewat mulut gua yang sempit dan curam. Dalam hati saya bilang “buset gini amat ya medannya. Hahahaha”.

“Ini yang paling berat mas,” ujar Ferry. Akhirnya kami bertahap menggendong Langit, dan akhirnya dia jadi orang pertama yang keluar dari gua. Hahaha, hebat Langit.

Overall, dua gua dengan kedalaman hingga 32 meter yang kami lalui itu memberikan pengalaman yang luar biasa. Jauh berbeda dibandingkan sekadar ke pantai atau Taman Safari. Hehehe. Rasanya ini adalah tujuan wisata potensial yang terjangkau, dan sangat layak kunjung karena jaraknya sendiri tidak jauh dari Jakarta.

Ferry, warga Sukabumi yang kini total mengurus Buniayu Cave itu mengaku berupaya untuk mengembangkan wisata gua supaya lebih menyenangkan dan atraktif. “Saya mengemas game Treasure Hunt untuk sekolah atau kantor. Jadi mereka harus menemukan harta karun tertentu, supaya lebih menantang,” ungkapnya, ketika menemani kami makan siang.

Kami makan siang dirumah penduduk yang berjarak hanya beberapa puluh meter dari gua. Di rumah penduduk itu kita juga bisa mandi dan bersih – bersih. Sayangnya kamar mandi nya kurang terawat, jadi saya memutuskan untuk tidak mandi. Hehehe. Pukul 12.30 siang kami meninggalkan Buniayu Cave dengan bahagia. Overall, ini adalah pengalaman yang harus dicoba. Dan jelas saya akan datang lagi untuk nyobain gua yang vertical. Hehehe.

Tips:

– Buniayu cave hanya menerima paket minimal 5 orang. Silahkan lakukan reservasi dulu, termasuk untuk memilih ukuran warepack dan boots. Kunjungi situs mereka di Buniayucave.com untuk memilih paket sesuai keinginan.
– Putuskan apakah akan menginap di Buniayu (mereka menyediakan tenda dan penginapan) atau tidak. Jika tidak, bisa menginap di Sukabumi, dan berangkat pagi.
– Bawa celana pendek dan baju longgar yang enak untuk berolahraga saja. Kalian akan menggunakan wearpack.
– Bawa senter LED sendiri sangat berguna dan saya rekomendasikan. Terutama yg berlumens besar atau anti air.
– Untuk gua 200 dan 400 meter aman membawa smartphone karena tidak bersentuhan dengan air. Wearpack juga memiliki kantung di dadanya untuk menyimpan printilan.

Medan turunan agak curam, terutama untuk mobil dengan GC rendah.
Medan turunan agak curam, terutama untuk mobil dengan GC rendah.
Bersiap-siap ngeteh dan ngemil di tenda sebelum menggunakan wearpack.
Bersiap-siap ngeteh dan ngemil di tenda sebelum menggunakan wearpack.
Tangga menuju pintu gua 200 meter dan 400 meter.
Tangga menuju pintu gua 200 meter dan 400 meter.
Langit serius mengamati serangga seperti jangkrik dan kalajengking.
Langit serius mengamati serangga seperti jangkrik dan kalajengking.
Mengamati dinding gua yang bentuknya unik.
Mengamati dinding gua yang bentuknya unik.
serangga kalajengking tanpa ekor yang buta karena berada di zona gelap abadi.
serangga kalajengking tanpa ekor yang buta karena berada di zona gelap abadi.
Stalagtit menggantung di langit-langit gua.
Stalagtit menggantung di langit-langit gua.
Langit menunjuk hewan di dinding.
Langit menunjuk hewan di dinding.
Selfie dulu dong.
Selfie dulu dong.
Langit jalan dengan cuek, hahaha.
Langit jalan dengan cuek, hahaha.
ada ruangan gua yang sangat luas.
ada ruangan gua yang sangat luas.
Selfie lagi.
Selfie lagi.
Penampakan mulut  gua 400 meter yang sempit.
Penampakan mulut gua 400 meter yang sempit.
Eko dan Ferry berfoto bersama kami di depan pintu keluar gua 400 meter.
Eko dan Ferry berfoto bersama kami di depan pintu keluar gua 400 meter.
Selesai mengarungi gua, makan siang sudah tersedia, siap disantap. Bisa ganti baju dan bersin-bersih di rumah penduduk.
Selesai mengarungi gua, makan siang sudah tersedia, siap disantap. Bisa ganti baju dan bersin-bersih di rumah penduduk.
Iklan