jkt-telkomsel-eko purwanto 1 copyPrasetyo Andy Wicaksono menunjukkan smartwatch Samsung Galaxy Gear dengan aplikasi Sigap buatannya. Aplikasi tersebut akan mengirimkan notifikasi real time seandainya terjadi gempa bumi melalui data dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

”Ketika gempa terjadi, jam akan bergetar, memberi peringatan kepada pemakainya,” ujar Prasetyo di Jakarta, Rabu (1/10) silam. Seandainya pun pemakai smartwatch itu berada di kawasan terpencil yang tidak memungkinkan koneksi data (internet), notifikasi tetap bisa dikirim oleh aplikasi Sigap melalui SMS yang menggunakan API (application programming interface) milik Tekomsel.

Kedepannya, Prasetyo berencana memaksimalkan fitur notifikasi pada Sigap agar lebih aplikatif dalam menjawab kebutuhan pengguna di Indonesia. Misalnya orang tua akan mendapat notifikasi di smartphone ataupun wearable device begitu putra-putri mereka sudah tiba di sekolah. Atau sebaliknya, notifikasi akan dikirim ke ponsel orang tua seandainya anak mereka keluar dari lingkungan sekolah sebelum jam pelajaran selesai.

Ketika nantinya fitur di aplikasi tersebut sudah sangat lengkap dan siap dimonetisasi (dijual), Prasetyo kembali akan memakai API Telkomsel untuk memproses sistem pembayaran dengan cara memotong pulsa (Carrier Billing).

jkt-telkomsel-eko purwanto 3 copyAplikasi Sigap adalah satu dari total 7 aplikasi yang lolos seleksi Indonesia Next Apps, program kolaborasi antara Telkomsel dan Samsung yang menjaring 147 aplikasi dari 90 pengembang aplikasi lokal. Kompetisi tersebut mengerucutkan aplikasi lokal terbaik dari berbagai parameter, misalnya ide dan kreativitas, model bisnis, desain UI/UX, problem solving untuk pasar, cara monetisasi, hingga relevansi dan ketahanannya di pasar.

Pemenang utamanya mendapat hadiah uang tunai ratusan juta rupiah, juga mengikuti pelatihan dan kompetisi regional Singtel Group-Samsung Regional Mobile App Challenge. Lebih dari itu, aplikasi pemenang juga dipromosikan di program bundling Telkomsel-Samsung serta toko aplikasi milik Samsung.

Butuh Dukungan

Aplikasi Sigap buatan Prasetyo memang tidak memenangkan Indonesia Next Apps. Namun, Prasetyo sendiri mengaku beruntung bisa menjadi bagian dari Indonesia Next Apps. Sebab, dengan cara inilah aplikasi buatannya bisa mendapat eksposur ke masyarakat luas.

Karena jumlah aplikasi di Apple Store maupun Google Play sudah mencapai ratusan ribu, mudah sekali aplikasi berkualitas buatan developer lokal tenggelam dan hilang begitu saja sebelum ditemukan oleh pengguna.

Hal itu dibenarkan oleh CEO Dycode Andri Yadi, developer yang memenangkan Indonesia Next Apps melalui aplikasi Jepret Story. Andri mencontohkan bagaimana Dycode yang sudah berkecimpung lebih dari 7 tahun di industri aplikasi lokal berulang kali gagal untuk membuat aplikasi untuk konsumen (business to consumer/B2C).

Itulah mengapa 90 persen fokus Dycode sendiri lebih banyak berkecimpung pada solusi Business to Businesss (B2B) yang dianggap lebih profitable. “Misalnya membuat aplikasi untuk klien (perusahaan) tertentu yang sudah jelas pendapatannya,” katanya.

Alasan utama kegagalan itu, menurut Andri, adalah soal awareness. Bukan hanya dalam hal mempromosikan sebuah aplikasi kepada pengguna, tapi juga meyakinkan pengguna untuk membeli aplikasi.

”Mempromosikan aplikasi adalah satu hal,” ujar Andri. ”Membuat pengguna yang telah mengunduh aplikasi mau mengeluarkan uang untuk mendapatkan misalnya additional value tertentu dari sebuah aplikasi, menjadi problem yang tak kalah besar untuk dipecahkan,” tambahnya.

Menjadi Enabler

Ekosistem aplikasi di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir memang tumbuh pesat. Jumlah produksi aplikasi lokal juga meningkat. Tapi, ternyata ekosistem itu masih jauh dari sempurna.

“Aplikasi lokal berkualitas banyak sekali. Tapi, tantangan di pasar pun tidak kalah majemuk. Misalnya soal kedalaman kualitas, bagaimana aplikasi sampai ke tangan pengguna, kemampuan bisnis para developer yang kurang baik, hingga cara monetisasi,” ujar Vice President Digital Lifestyle Telkomsel Marina Kacaribu.

Karena itu, Telkomsel menurut Marina, berupaya langsung menjadi enabler agar ekosistem digital di Indonesia lebih cepat mencapai tahap mature. Telkomsel berupaya untuk menstimulus dengan ikut turun tangan langsung untuk mendistribusikan, memasarkan, hingga menyediakan sistem pembayaran kepada developer lokal.

Termasuk juga membawa aplikasi lokal ke level regional seperti yang dilakukan melalui Indonesia Next Apps, yang membuka jalan developer untuk memasarkan aplikasi di negara seperti Singapura, Thailand, Filipina, hingga Australia.

”Kami tidak ingin nantinya pengguna smartphone justru kesulitan menemukan aplikasi buatan anak negeri di Google Play atau Apple Store,” ujar Marina yang menyebut upaya meningkatkan ekosistem digital dalam negeri sejalan dengan strategi Device, Network dan Applications (DNA) yang diusung Telkomsel.

Akselerasi Ekosistem Digital

CEO Dycode Andri Yadi mengatakan, walau penetrasi smartphone di Indonesia terus meningkat, namun kesadaran untuk mengadopsi dan membeli aplikasi masih rendah. Menurutnya, ini karena ekosistem digital di Indonesia saat ini masih belum “mature”.

”Memang perlu waktu agar ekosistem digital kita bisa beranjak dewasa,” ujar Andri. Namun, upaya yang dilakukan oleh stakeholder seperti Telkomsel inilah yang dinilainya sangat efektif dalam mempercepat akselerasi ekosistem digital yang ada di Indonesia. Harapannya adalah tak butuh waktu lama agar aplikasi lokal buatan developer Indonesia dapat dominan dan menempati posisi paling atas aplikasi paling banyak diunduh di Google Play ataupun Apple Store.

Sambil menunggu saat itu tiba, Andri mengaku hanya bisa berusaha memaksimalkan sumber daya yang sudah disediakan oleh Telkomsel yang dapat memberi direct impact kepadanya. Misalnya saja API untuk memproses operator billing, promosi lewat SMS blast, hingga kurasi lewat portal Teman Dev.

Dukungan terhadap ekosistem digital tidak hanya dilakukan oleh operator seperti Telkomsel, namun juga vendor penyedia handset Samsung. Director Service Innovation Samsung Andreas W. Djiwandono mengatakan, Samsung memberikan dukungan terhadap para developer dengan membuka SDK (software development kit) seperti fitur fingerprint di ponsel Samsung. Sebab, ”kami percaya bahwa perangkat smartphone yang canggih pun harus didukung oleh konten yang menarik dan dapat dimanfaatkan sesuai kebutuhan konsumen Indonesia. Itu akan menjadi nilai tambah,” ujar Andreas.

Iklan