IMG_3920_OKAda sejumlah perubahan tren teknologi yang bisa dicermati selama 2014. Yang pertama dan paling terasa ada pada bidang data center dan cloud computing.

Saya melihat kebutuhan data center dalam negeri terus meningkat, sementara perusahaan mulai tergerak untuk memanfaatkan public cloud, private cloud, ataupun hybrid.

Tren menarik di industri data center selama 2014 adalah metode data center active-active. Dengan metode ini, fungsi kedua data center dapat dimaksimalkan. Data dapat disalin dan di-backup secara real time, kapasitasnya juga bisa di-load balance, yang ujungnya akan meningkatkan total cost of ownership karena tidak menjadi infrastruktur pasif.

Migrasi aplikasi dari data center lama ke yang baru jadi salah satu tantangan terbesar. Sebab, ada aplikasi yang diletakkan di data center. Tapi, ada juga aplikasi yang letaknya di public cloud seperti Salesforce.com.

Selain itu, harus dijaga juga performa, latency, serta behaviour dari aplikasi itu sendiri dalam proses migrasi. Terutama bagi perusahaan telekomunikasi atau perbankan yang harus 24 jam online. Itulah pentingnya service-level agreement (SLA).

Tren komputasi awan sendiri kedepannya semakin baik.

Dalam 1-2 tahun terakhir ini banyak sekali edukasi terhadap keuntungan menggunakan cloud. Tapi, banyak perusahaan yang masih ragu.

Saya lihat ada beberapa bentuk adopsi cloud computing yang banyak dipakai. Pertama, sebagai temporary capacity enhancement. Ini terjadi ketika di akhir bulan perusahaan tutup buku dan butuh computing power yang sangat besar hingga infrastruktur mereka tidak cukup.

Maka cloud menawarkan teknologi yang disebut capacity management, dimana kelebihan konsumsi power itu dipindahkan ke cloud. Dengan cara itu, mereka tidak perlu menambah infrastruktur baru yang mungkin hanya akan dimaksimalkan di akhir bulan saja.

Kedua, tidak semua orang merasa nyaman dengan public cloud. Karena itu, akan ada kombinasi antara private cloud yang mereka miliki sendiri dengan public cloud, bahkan hybrid cloud. Misalnya saja aplikasi core banking tetap berada di private cloud sebuah bank, tapi aplikasi seperti email dan lainnya diletakkan di public cloud.

Tren lain berkaitan dengan colaboration dan communcation. Ini terkait semakin maraknya penggunaan video dalam berkomunikasi yang teknologinya semakin terjangkau. Komunikasi video sangat efektif digunakan oleh regional office dan branch office daripada harus business trip yang berbiaya mahal.

Selain itu, dinamika terjadi pada industri contact center yang dulunya hanya sekadar customer services, sekarang masuk ke telemarketing. Perusahaan berupaya untuk memberikan customer experience yang semakin menarik kepada pelanggan. Misalnya dengan menambah channel seperti chatting, email, web, bahkan video.

Perubahan tren yang tidak kalah penting ada pada end user computing (EUC). Tren mobilitas merubah bagaimana orang beranjak dari laptop ke tablet, hingga smartphone. Muncul kebutuhan akses aplikasi darimana saja. Dirumah dikantor, atau dijalan. Dan itu butuh manajemen berbeda dibanding desktop tradisional.

Ini jadi tantangan. Karena selain harus memperhatikan keamanan, harus ada webification dari aplikasi Desktop supaya dapat dilihat dan diakses dengan mudah di smartphone atau tablet. Misalnya tampilan menunya dikemas jadi lebih user friendly.

Nah, aplikasi itu sendiri harus diproteksi supaya keamanannya terjamin. Sehingga ketika sebuah perangkat hilang, datanya dapat langsung dihapus sebelum dimanfaatkan ke pihak yang tidak berkepentingan.

Keamanan sendiri tetap menjadi isu yang sangat menarik untuk disimak. Banyak orang terlalu fokus pada inovasi. Setelah selesai, baru mereka berpikir bagaimana membuatnya secure.

Padahal, security itu harus dipikirkan di depan, dijadikan fondasi konsep. Apapun teknologi yang akan diimplementasikan, harus secure.

Kesalahan yang banyak terjadi di Indonesia adalah mereka menganggap selama memiliki firewall dan antivirus saja sudah cukup. Padahal, begitu rentannya isu keamanan di Indonesia, hingga menjadi target bagi organisasi hackers di dalam ataupun diluar negeri.

Di dalam sebuah perusahaan, isu keamanan tu berasal dari tiga muara: teknologi, manusia, dan proses. Teknologi saja tidak cukup jika manusianya tidak ikut ditraining dan tidak ada proses yang dijalankan.

Satu teknologi lagi yang menarik untuk disimak adalah virtualisasi desktop. Dengan teknologi ini, harga desktop PC yang mahal itu dapat disederhanakan. Desktop PC standar hanya berfungsi sebagai terminal, karena computing power dilakukan di pusat atau bahkan data center.

Teknologi ini sangat cocok dengan letak geografis Indonesia yang sangat luas dan jaringan terbatas. Katakan ada sebuah perusahaan memiliki 25.000 desktop di kantor perwakilannya di seluruh Indonesia, tentu tidak mungkin mengirim teknisi ketika harus mengupdate antivirus, security patches, dan program lainnya. Nah, lewat virtual desktop, hal itu akan dimenej langsung dari pusat.

Iklan