Visitors look at Android One based mobiles after its launch in New DelhiPertama diumumkan di Google I/O pada Juni 2014 silam, platform Android One akan segera dirilis di Indonesia dan Filipina pada akhir tahun. Adapun India menjadi negara pertama yang merasakannya. Apa dan bagaimana dampaknya?

Sepintas, Android One tidak berbeda dengan sistem operasi Android biasa. Perbedaan utamanya adalah di harga. Oleh Google, platform tersebut di desain untuk dapat berjalan di ponsel low budget atau yang memiliki harga terjangkau.

Android One dapat bekerja di spesifikasi hardware yang minimum. Sehingga biaya pembuatan ponsel bisa dipangkas sangat rendah. Google juga bekerja sama dengan operator lokal untuk memberikan paket data hemat.

Menurut SVP, Android, Chrome & Apps Google Sundar Pichai, skema Android One memungkinkan vendor membuat smartphone dengan harga terjangkau, sehingga lebih banyak orang terhubung ke internet.

“Kami memberikan para OEM (original equipment manufacturers) menu yang efektif,” kata Pichai dalam peluncuran platform Android One di New Delhi, India, tempat kelahirannya.

”Mereka bisa memilih CPU (central processing unit), GPU (graphics processing unit), ruang simpan, tipe baterai, dan tipe kamera,” ia melanjutkan.

Dengan cara ini, lanjut Pichai, para vendor tidak perlu lagi memilih dan mengetes hardware mana yang tepat untuk berjalan di sebuah software. ”Kami sudah menyetelnya, menghindari bugs, memastikan keamanan, serta membuat update berkala,” katanya.             

Skema yang dirancang untuk negara berkembang ini memang diawali di India. Tapi, akan digunakan juga di Indonesia, Filipina, Pakistan, Bangladesh, Nepal, dan Sri Lanka.

Ponsel Android One pertama dibuat oleh Micromax–pabrikan ponsel terbesar di India–, Karbonn, dan Spice.

Spesifikasi standar ponsel Android One adalah memiliki layar berukuran 4,5 inci, RAM 1 GB, kamera utama 5 MP dan 2 MP (di depan), prosesor quadcore dari perusahaan Taiwan Mediatek. Ponsel tersebut berjalan dengan sistem operasi Android L dan bisa dilego dengan harga USD105.

Di India, ada beberapa aplikasi Google yang dikostumisasi sesuai kebutuhan lokal. Antara lain pembelian tiket kereta api, skor olah raga cricket di Google Now, dan versi offline YouTube. Vendor bisa merombak wallpaper atau menambahkan aplikasi. Tapi, tidak bisa melakukan perubahan pada user interface. ”Karena kami ingin memberikan pengalaman yang serupa dan konsisten,” kata Pichai.

Seperti halnya Indonesia, di India ponsel terlaris berada di rentang harga Rp1 jutaan. Bedanya, di rentang harga tersebut menurut analis Mohammad Chowdhury ponsel yang dijual tidak memiliki spesifikasi yang mumpuni.

Di Indonesia, dengan harga Rp1 jutaan pun pengguna sudah mendapat spesifikasi yang sangat baik. Lalu, bagaimana adopsi Android One ini?

Menurut Pichai, Android One adalah platform fleksibel. Artinya, standar minimum spesifikasi yang diberikan Google bisa sangat berbeda, menyesuaikan kebutuhan pasar masing-masing negara. Pichai mengatakan bahwa vendor global seperti Lenovo, Acer, HTC, Asus, Panasonic, dan Alcatel sudah bergabung dengan Android One, bersamaan dengan pabrikan chip Qualcomm.

Android One hanyalah satu bentuk skema untuk menjangkau pasar menengah kebawah. Jika di Indonesia hanya dilakukan oleh Android, di India persaingannya lebih ramai. Misalnya saja sistem operasi Firefox milik Mozilla yang sudah meluncurkan low cost smartphone pada Agustus 2014 silam.

Kemudian, Samsung juga berencana untuk merilis ponsel bersistem operasi Tizen yang memiliki harga terjangkau. Tizen saat ini digunakan di smartwatch Samsung Gear 2.

Chris Green, analis dari Davies Murphy Group menilai bahwa India dan pasar negara berkembang menjadi target bagi platform low cost. ”Google membuat Android One untuk melindungi basis pasar mereka di negara-negara ini. Sebab, pengguna ponsel low cost sekarang ini bisa berganti menjadi pengguna premium 10 tahun lagi,” katanya.

Ternyata, apa yang diharapkan Pichai mengingatkan pada slogan milik Nokia: menghubungkan empat miliar orang berikutnya ke internet (dengan Android).

Iklan