NokiaXstack-624x351Praktis Nokia hanya mengandalkan Asha sebagai backbone penjualan mereka di Indonesia. Penjualan Lumia memang terus membaik, bahkan diprediksikan shipping (pengapalan) Lumia tahun ini sudah sama dengan BlackBerry yang terus merosot itu.

Tapi, sekali lagi, tulang punggung penjualan Nokia yang masih 5 besar di Indonesia itu tetap pada Asha.
Sayangnya, Asha tidak akan bertahan lama. Ya, oke, sebagian besar orang di Indonesia masih butuh feature phone. Masih banyak sekali yang hanya punya bujet membeli ponsel dibawah Rp1 juta.

Tapi, harga Android sekarang ini sudah banyak yang menyentuh angka ratusan ribu. Sedangkan Symbian sendiri adalah sistem operasi uzur yang hampir tidak lagi relevan untuk saat ini. Paling tidak dalam beberapa tahun kedepan.
Maka, Nokia dengan malu-malu akhirnya memakai OS Android di lini produk menengah ke bawah mereka. Tapi, tetap sok jual mahal dengan memodifikasi OS tersebut agar terlihat seperti Windows. Hasilnya? Parah.

Saya lebih memilih menggunakan Nokia Asha dibandingkan Android hasil “tuning” yang ada di Nokia X.
Ketika saya menggenggam Nokia X yang terasa pertama adalah build quality yang sangat baik milik Nokia. Soal ini saya tidak ragu. Nokia adalah vendor yang memiliki ponsel dengan build quality terbaik. Itu nggak perlu diragukan lagi.

Walau ponselnya agak tebal, saya suka sekali dengan inovasi kover belakang Nokia X. Bahannya terbuat dari karet, sehingga mereduksi benturan saat terjatuh, juga tetap enak digenggam. Untuk memasukkan SIM card, cukup tekan bagian tengahnya. Tidak perlu repot ”mengeletek” kover dengan kuku—dan harus minta bantuan orang jika kuku Anda pendek—untuk membuka casing.

Begitu ditekan, casing Nokia X yang sudah dual SIM itu langsung terbuka dengan sendirinya. Praktis.
Oke, begitu menyalakan ponsel dan masuk ke menu utamanya saya mulai mengerinyitkan dahi. Duh, ponsel ini sama sekali nggak responsif. Untuk menggeser saya harus lakukan beberapa kali. Untuk membalas SMS saja saya harus salah memencet beberapa kali. Ah, ribet! Begitupun untuk scrolling ke atas atau bawah, sama sekali nggak nurut.

Duh, tampilan warna-warna di menunya yang terang dan mencolok bikin sakit mata. Seperti melihat menu di ponsel jadul. Kuno dan kampungan.

Menavigasikan menu di Nokia X sama seperti berjalan-jalan di arena JIExpo siang bolong: nggak nyaman dan gampang tersesat.

Nokia, please, biarkan Windows Phone menjadi Windows Phone dan Android menjadi Android! Jangan digabung-gabung!
Bagaimana rasanya jika mencampur rawon dengan soto ayam? Tentu nggak enak kan? Karena kedua makanan itu punya keunggulan masing-masing. Begitu juga dengan kedua OS ini.

Overall, dengan harga Rp1,6 jutaan, Nokia X seperti ponsel yang lahir salah zaman. Kalau ponsel ini lahir minimal 3 tahun lalu mungkin masih relevan. Sekarang, direntang harganya ada banyak sekali ponsel Android yang jauh lebih baik dan fiturnya lebih bagus.

DISCLAIMER: Review ini adalah pendapat pribadi penulis sebagai blogger, tidak mewakili opininya sebagai seorang jurnalis di media.