foto 2Walau tahun ini diprediksi ada perpindahan besar-besaran dari pengguna feature phone ke smartphone, tapi faktanya pengguna feature phone masih tetap tinggi.

Mengapa? Cukup banyak alasannya. Bisa saja dari fitur-nya yang memang simpel. Tidak semua orang suka dengan smartphone yang dibenamkan berbagai fitur dan antarmuka serba wah.

Ada sebagian yang ingin berkomunikasi dengan cara sederhana: SMS dan menelpon saja. Dan mereka bisa mendapatkan hal tersebut dari feature phone.

Alasan lainnya adalah soal baterai dan dan harga. Dibandingkan smartphone yang sangat boros baterai, feature phone memiliki baterai yang jauh lebih hemat. Begitupun harganya yang jauh lebih terjangkau (walau belakangan jeda harga antara smartphone-feature phone semakin kecil).

IDC memperkirakan bahwa pengapalan (shipment) feature phone di dunia diperkirakan masih cukup besar sampai tahun 2017. Diprediksi pada 2017 mendatang pengapalan smartphone secara global akan mencapai 66,4 persen, sementara feature phone 33,6 persen.

Adapun untuk pasar Indonesia, pada 2014 diperkirakan bahwa pengapalan ponsel secara total akan menembus angka 63,4 juta unit. Dari angka tersebut 26% (16 juta unit) di antaranya berasal dari smartphone. Tapi, sekitar 74% atau 46-48 juta unit masih dikuasai oleh feature phone.

Direktur Marketing Advan Tjandra Lianto menilai, dari 100% fungsi yang dimiliki oleh smartpone, diyakini hanya sekitar 20%-30% yang sering digunakan. ”Berbeda dengan feature phone, dimana 99% fitur yang ditawarkan ponsel tipe itu pasti terpakai. Sebab fitur-fitur yang ada di feature phone sangat spesifik,” katanya.

Karena itu, Advan yang sebelumnya banyak bermain di smartphone dan phablet, kini justru merilis tiga model feature phone sekaligus. Yakni Hammer R1, Hammer R3, dan Hammer R7.

Hamer R1 dan R3 dibenamkan fitur seperti dual SIM GSM, Bluetooth, dan baterai 800 mAh. Sementara Hammer R7 memiliki layar 2,8 inci dan kamera 1.3 MP. Dengan banderol harga mulai Rp200 ribu-Rp300 ribuan, tentu saja ketiga ponsel Hammer ini sangat menarik bagi mereka yang memiliki bujet terbatas.

Tapi, harus diingat walau secara kuantitas/jumlah smartphone di Indonesia sangat sedikit dibandingkan feature phone, namun secara nilai/value smartphone sudah jauh lebih tinggi dibandingkan feature phone.

Screenshot 2014-04-02 12.59.44

Iklan