about_pono_update_01Di usia 68 tahun, gitaris/penyanyi Neil Young ingin ”mengoreksi” cara kita mendengar musik. Yakni, menghadirkan solusi untuk mendengarkan musik yang kualitasnya mendekati rekaman studio.

Neil Young benci file audio MP3. Menurutnya, kompresi format berkas pengodean suara MP3sangatlah buruk. ”Kualitas lagu yang Anda dengar dalam format MP3 hanya 5% dari kualitas rekaman studio aslinya,” ujar Young kepada New York Times.

Musisi asal Kanada itu tidak salah. Format MP3 yang jadi standar di industri musik digital saat ini adalah file audio yang telah terkompresi. Audio dari format CD dimampatkan sedemikian rupa agar ukurannya cukup kecil untuk disimpan dalam perangkat portabel seperti smartphone atau pemutar MP3 lainnya yang memiliki kapasitas simpan terbatas.

Tapi, karena ukurannya yang sangat kecil itu maka banyak informasi atau data lagu yang dihilangkan. Walau sebagian besar konsumen merasa ”cukup puas” dengan MP3, sebenarnya apa yang mereka dengar sangat jauh kualitasnya dari CD. Padahal, CD pun hanya sanggup menyimpan 50% kualitas rekaman asli (master recording).

Itulah yang mendasari Young untuk membuat perubahan. Ia ingin industri musik digital tidak terpaku pada MP3. Tapi, lebih membuka mata terhadap format ini audio standar ini: Free Lossless Audio Codec, atau FLAC.

FLAC diibaratkan mendengar musik dalam format High Definition (HD). Jika format audio AAC yang digunakan di iTunes adalah 256 kbps, maka audio di format FLAC di-encode hingga 9.216 kbps atau 36 kali lebih besar.

stm2448-bigTapi, adakah orang yang ingin, butuh, dan perlu mendengar musik dalam resolusi “beresolusi tinggi” ini? Jawabanya adalah ada, ada, dan ada. Logikanya sederhana saja. Mari kita berkaca pada perkembangan video high definition (HD). Jika video HD saat ini sudah sebegitu banyak yang mengakses, sudah sebegitu banyak yang terbiasa, maka seharusnya hal serupa juga bisa terjadi di musik.

”Inilah ’real music’,” tutur Young. ”Saya ingin membawa musik masuk ke abad 21,” tambah pria yang sempat menyebut bahwa mendiang Steve Jobs pun punya visi sama untuk menghadirkan musik berkualitas ke pasar.

Selama bertahun-tahun, Young mengklaim bahwa dirinya berupaya untuk mencari cara agar musik “beresolusi tinggi” itu bisa menjadi sebuah ekosistem yang cukup solid bagi pasar musik digital, serta konsumen.

Maka, ia pun melahirkan ini: PonoPlayer. Seandainya iPod adalah DVD player, maka PonoPlayer semacam Blu-ray player untuk memutar file audio berformat FLAC.
Kemudian ada PonoMusic, toko musik online serupa iTunes Store. Disinilah konsumen bisa mengunduh berbagai lagu dengan kualitas tinggi.

”Tujuan kami adalah menawarkan musik digital berkualitas paling tinggi dari semua mayor label, dan membuat pemutar musik digital terbaik dan paling mudah digunakan,” tegas John Hamm, CEO PonoMusic.

Bagaimana respon terhadap PonoPlayer dan PonoMusic ini sudah dibuktikan di situs penggalangan dana Kickstarter.com. Sebanyak 10.000 orang rela merogoh kantongnya, membuat Young mampu mengumpulkan dana sebesar USD3,7 juta (Rp38 miliar) agar proyek tersebut bisa berjalan. Padahal, mulanya Young hanya memasang target bisa mendapat USD800.000 saja.

Pono akan membuat para pehobi audio mendengarkan sebuah lagu sesuai dengan apa yang diinginkan oleh musikusnya. Demikian diungkap oleh Young. Sejumlah musisi seperti Foo Fighters, Bruce Springstein, Norah Jones, Eddie Vedder, hingga Sarah McLachlan sudah mendukung langkahnya.

Masa Depan ”Musik HD”
RdioMainProductImageMemang, format FLAC mungkin tidak akan sepopuler CD atau DVD di masa jayanya. FLAC adalah format spesifik. Yakni, format untuk mereka yang benar-benar peduli terhadap kualitas suara.

Mereka yang selektif terhadap musik yang di dengar, yang mau merogoh uang ekstra untuk membeli headphone atau in-ear-headset berkualitas tinggi. Merekalah yang disebut audiophile: orang-orang yang ingin mendengarn musik mendekati kualitas rekaman aslinya di studio.

Meski mungkin pasarnya niche, meski demikian format FLAC rasanya akan tetap berpotensi untuk terus berkembang di masa depan seiring kemudahan untuk mendapat musik digital dalam format tersebut, juga semakin banyaknya pendengar musik yang semakin “dewasa” (tidak ingin terjebak dalam format Mp3).

Namun, FLAC sendiri masih memiliki kompetitor. Kompetitornya berasal dari layanan musik streaming. Streaming menjadi metode untuk mengakses musik dengan mudah.
Kendati penyedia layanan streaming saat ini masih menggunakan format 192 kbps dan 128 kbps yang inferior terhadap FLAC, tapi perusahaan seperti Spotify menggunakan format Ogg Vorbis dengan 320 kbps. Walau masih kategori lossy, tapi kualitasnya sudah lebih baik. Jadi, kita lihat saja bagaimana perkembangan ekosistem musik high definition ini kedepannya.
Mengenal Audio Berdefinisi Tinggi:

ponoDua tipe kualitas audio digital

Format Lossless
Kualitas audio terjaga dari sumber aslinya—dalam hal ini CD–. Namun, ukuran filenya pun lebih besar.

WAV and AIFF:
Format file yang sama dengan sumber audio asli. Kualitas keduanya sama. Bedanya, AIFF lebih banyak ditemukan di produk Apple, sedangkan WAV lebih universal.

FLAC
Format file yang menawarkan kualitas setara CD, tapi tetap dikompresi sehingga ukurannya tidak sebesar WAV atau AIFF. File FLAC bisa diputar di Android, iOS (dengan aplikasi tertentu), dan berbagai pemutar MP3.

Apple Lossless (ALAC)
Mirip FLAC, tapi dibuat langsung oleh Apple. Kompresinya sendiri tidak seefektif FLAC. Dapat diputar di iTunes dan iOS. Sedangkan FLAC tidak bisa (harus menggunakan aplikasi tertentu).

APE
File lossless yang dikompresi dengan kualitas sangat tinggi. Kualitas audionya hampir sama dengan FLAC atua ALAC, tapi tidak kompatibel dengan sebagian besar player yang ada. File tipe ini juga membuat prosesor bekerja lebih keras.

Format Lossy
Kualitas audio dikompres sedemikian rupa agar ukurannya lebih kecil, tapi banyak menghilangkan informasi dari sumber aslinya.

MP3
Kepanjangan dari MPEG Audio Layer III. Format lossy paling banyak digunakan di industri musik digital. MP3 bukan format audio dengan kompresi paling efisien, tapi bisa diputar diperangkat apa saja.

AAC
Kepanjangan dari Advance Audio Coding. Memiliki kualitas sama dengan MP3, tapi dengan ukuran lebih kecil. Sekarang semua perangkat sudah mendukung AAC. Terutama dipopulerkan pula oleh Apple.

WMA
Windows Media Audio (WMA) adalah format milik Microsoft yang serupa dengan MP3 atau AAC. Tidak lebih unggul dibanding Mp3, tapi tidak semua perangkat mendukungnya.

Ogg Vorbis
Format Vorbis yang menggunakan kontainer Ogg, adalah format open source sebagai alternatif dari MP3 dan AAC. Formatnya hampir sama, tapi lebih sedikit player yang mendukungnya.

Pilih FLAC atau Mp3?
flac_by_retrotailsprower-d4qnx10.pngTergantung kebutuhan. Jika sudah merasa puas dengan Mp3, maka tidak perlu beralih ke FLAC. Selain ukurannya kecil, juga sudah jadi standar. Audiophile yang kurang puas dengan MP3, bisa mencoba FLAC, tentu dengan risiko butuh kapasitas simpan lebih besar.

Seberapa Besar Perbedaan MP3 dan FLAC?
CD-DIGITAL-MASTERINGMp3 dan FLAC sama-sama file audio digital. Bagaimana output file tersebut ke telinga juga sangat tergantung dari kualitas headphone atau sistem audio (speaker) itu sendiri. Memutar file FLAC di headphone biasa sama seperti memutar DVD Blu-ray di TV tabung (CRT). Tapi, mereka yang telinganya tidak terlatif (sensitif) kurang bisa membedakan file FLAC dan Mp3.

Pengertian Bitrate
Bitrate adalah jumlah bit—besarnya data—yang diproses dalam waktu tertentu. Di audio, umumnya diartikan dengan kilobit per detik. Jadi, seandainya lagu di iTunes menggunakan 256 kilobit per detik, berarti ada 256 kilobit data yang tersimpan di lagu itu setiap detiknya. Jika lagu MP3 standar memiliki 256 kbps, maka audio di format FLAC adalah 9216 kbps.

Tentang PonoPlayer
– Memiliki dimensi panjang 5 inci, lebar 2 inci, dan tebal 1 inci.
– Layarnya bisa disentuh, seperti iPod.
– Desain berbentuk triangular memungkinkan Pono menyimpan baterai berbentuk silinder yang diklaim lebih efektif dibanding baterai rata.
– Bentuk triangular itu juga diklaim nyaman di genggam, serta berdiri tegak di bidang datar.
– Line-out untuk headphone dan perangkat hi-fi.
– Memiliki memori 128 GB, dapat menyimpan 100-500 album (3.800 lagu) FLAC berkualitas tinggi.
– Mendukung memori card, sehingga pengguna dapat menyimpan “playlist” lagu di beberapa memori card berbeda.
– Terkoneksi ke PC dan Mac melalui kabel micro-USB.
– Konsumen bisa membeli lagu di situs PonoMusic.
– Pono baru akan dirilis resmi pada Oktober 2014 mendatang.
– Harga: USD399

Cara mendapatkan FLAC:
Seperti halnya Mp3, Anda bisa mendapat file FLAC dengan 2 cara. Pertama mengubah langsung dari CD lewat software. Atau mengunduh lewat internet. Saat ini sudah ada sejumlah situs yang menawarkan file FLAC langsung dari internet. Ada HDtracks yang per albumnya dibanderol USD11.99-USD16.99, lalu Bandcamp dengan banderol USD8.99 per album, hingga Linn Records yang rata-rata per album harganya USD13-USD24 .

Perbandingan:

Compact Disc (CD)
Memutar audio 44.1kHz/16-bit.

Format AIFF
Memutar audio 44.1kHz/16-bit.

Format FLAC
Bisa memutar 88.1kHz/24-bit (dua kali lebih baik dari CD). FLAC juga bisa dikonversi menjadi 176.4kHz/24-bit atau kloning virtual dari master recording. Sama seperti Anda duduk di ruang kontrol studio.

Iklan