DSC00124

Ketahanan perangkat consumer electronic seperti smartphone, tablet, hingga kamera terhadap air maupun debu tidak lagi jadi gimmick. Oleh konsumen, fitur ini dianggap penting dan wajib ada.

Air pernah menjadi musuh semua peralatan elektronik. Tapi, belakangan ini, teknologi memungkinkan berbagai produk consumer electronic bisa berteman dengan air. Bagaimana dan mengapa?

Pujiyanto Suryana mengeluh. Semua daftar kontak di smartphone-nya hilang. Padahal kejadiannya terbilang sepele. Tidak sengaja, ia meninggalkan ponsel disaku celana yang akan dicuci. ”Alhasil ponsel saya mati total. Semua daftar kontak hilang,” keluh pemilik bengkel modifikasi Music Art di Mega Glodok Kemayoran (MGK), Jakarta, itu.

Meski terlihat sepele, air adalah ancaman besar bagi para pengguna smartphone di Indonesia. Apalagi melihat kondisi cuaca Indonesia belakangan ini yang tidak menentu. Mulai curah hujan yang tinggi diikuti banjir, dan berganti debu vulkanik yang dimuntahkan oleh Gunung Kelud. Semua aktivitas tersebut membuat ponsel berisiko rusak karena terpapar air maupun debu.

Sampson Yang looks at a waterproof Nikon 1 Aw1 at the Nikon booth during the 2014 International Consumer Electronics Show (CES) in Las VegasMaka, wajar jika kemudian ketahanan terhadap cairan jadi fitur yang diinginkan konsumen. Mereka ingin perangkat elektronik mereka tidak mudah rusak!

Sony adalah salah satu pihak yang jeli dalam mengelaborasi hal ini. Lini produk flagship Xperia Z mereka, misalnya, memiliki lapisan penutup dari karet di semua port-nya. Mulai micro-USB hingga micro-SIM untuk melindungi bagian dalam ponsel.

Xperia Z, Xperia Z Ultra, serta yang terbaru Xperia Z1 mengusung sertifikasi IP 55 dan IP 57/58 yang berarti anti air dan debu.

”Konsumen Indonesia butuh fitur seperti itu,” papar Ika Paramita, Marketing Manager PT Sony Mobile Communications Indonesia. “Respons yang kami dapat dari konsumen sangat positif. Di wall Facebook Sony Indonesia para konsumen bercerita mereka tetap bisa berkomunikasi dengan kerabat di tengah banjir hebat menggunakan jajaran Sony Xperia Z. Sebab Xperia Z tidak hanya tahan cipratan, tapi juga bisa ditenggelamkan di dalam air,” imbuhnya.

Selama tiga tahun terakhir, pameran teknologi seperti Mobile World Congress (MWC) dan Consumer Electronics Show (CES) terus memperlihatkan berbagai perangkat dengan teknologi anti-air selalu ada, menegaskan bahwa fitur ini bukan lagi tren yang menghilang. Tapi, terus menerus dikembangkan menjadi lebih baik.

Dan Sony sebenarnya tidak sendirian. Sebab, sejak tahun lalu pun sejumlah vendor seperti Huawei, Kyocera, hingga Motorola sudah memiliki model yang memiliki ketahanan terhadap air.

Varian seperti Huawei Ascend D2 ataupun Motorola RAZR M yang tidak masuk Indonesia sudah menggunakan teknologi yang disebut nano-coating untuk melindungi organ dalam ponsel dari sifat air yang destruktif.

Nah, mantra nano-coating juga digunakan oleh perusahaan bernama Liquipel. Dengan teknologi nano-coating, pelapis anti-air dalam bentuk partikel nano (uap) ”disemprotkan” ke sebuah perangkat elektronik. Dan wuss, perangkat tersebut akan tetap bekerja walau bersentuhan dengan air.

Proses ini dilakukan dalam mesin hampa udara dan diatur dengan tekanan dan suhu tertentu. Seluruh bagian luar dan dalam dari perangkat akan terlapisi oleh nano coating yang partikelnya berukuran 1000 kali lebih kecil dari rambut manusia.

Teknologi nano coating Liquipel ini memang tegolong baru. Ditemukan oleh Danny McPhail dan Kevin Bacon di perhelatan Consumer Electronic Show (CES) 2012 silam.

Di Indonesia, Liquipel dikenalkan kali pertama oleh PT LQP Asia di Indocomtech 2012. GM Sales and Marketing PT LQP Asia Hendru Susilo mengatakan bahwa teknologi nano coating ini menjadi solusi untuk melindungi gadget dan perangkat elektronik terhadap kerusakan yang disebabkan oleh air. ”Kerusakan terhadap air sangat rentan terjadi, padahal itu tidak termasuk dalam garansi,” katanya.

Seidic waterproof mobile phone cases by Obex are displayed in a fish tank at the annual Consumer Electronics Show in Las VegasTeknologi Liquipel tidak lantas mambuat smartphone Anda bisa diajak berenang. Tapi, seandainya suatu saat tidak sengaja terpapar air, maka ponsel Anda tetap aman. Harga untuk coating Liquipel mulai Rp400 ribuan.

Dan Liquipel pun tidak sendirian. Perusahaan seperti HzO dan P2i juga menawarkan jasa yang kurang lebih sama. Menurut CEO P2i Carl Francis, pihaknya telah bekerja sama dengan Motorola, dan membenamkan teknologi nano coating pada 20 juta unit per tahun. Saat ini P2i bahkan sedang bekerja dengan 17 dari 20 pabrikan ponsel global.

Teknologi coating yang dimiliki P2i tidak hanya di aplikasikan ke smartphone saja. Tapi juga perangkat baru seperti wearable device. ”Perangkat seperti Google Glass adalah target kami selanjutnya,” ujar Carl.

SPAIN-TELECOM-MOBILE-WORLD-CONGRESS-PANASONICCarl juga percaya bahwa pasar nanocoating saat ini berada dalam kondisi yang sama dengan internet dan mesin pencari pada 1990-an. ”Saat itu tidak ada yang mengira pasarnya akan menjadi sebesar ini. Potensinya sangat lah besar,” papar Carl lagi.

Selain P2i, ada perusahaan lain seperti HzO. Baru-baru ini HzO bekerja sama dengan pabrikan jam tangan asal Swiss TAG Heuer mengaplikasikan teknologi yang mereka sebut “WaterBlock” ke edisi khusus smartphone Android keluaran TAG Heuer.

Melawan Air dan Debu

Berbagai perangkat berikut ini menunjukkan bagaimana teknologi anti-air akan menjadi salah satu faktor penting dalam mendesain sebuah perangkat bergerak di masa depan:

Sony Walkman Anti Air

Sony punya cara unik dan mungkin sangat efektif untuk membuktikan bahwa produk Walkman mereka benar-benar anti air. Yakni, memasarkannya di dalam sebuah botol berisi air. Produk in-ear-headphone tersebut dijual di vending maching yang ada di mal serta pusat kebugaran (gym) di New Zealand.

Sebenarnya produk Walkman NWZ-W273 tidak benar-benar baru. Sudah ada sejak 2012 silam. Tapi, teknik marketingnya yang baru dilakukan dengan cara unik. Diperlihatkan di CES 2014 di awal tahun ini.

Setiap di-charge selama tiga menit, Walkman tersebut dapat dipakai satu jam. Menurut pihak Sony, Walkman itu dapat diajak berenang hingga kedalaman 2 meter. Tapi, tidak untuk digunakan di laut atau air asin. Walkman tersebut terhubung secara nirkabel ke smartphone menggunakan koneksi Bluetooth.

Action Cam Pertama Shimano

Sukses GoPro sebagai kamera kompak yang tahan air dan goncangan menginspirasi banyak pihak melakukan hal serupa. Shimano, misalnya, baru saja merilis action cam CM-1000 Sport Camera. Beratnya hanya 86 gram, beresolusi HD, kamera 16 MP, sensor CMOS, serta baterai Li-ion 950 mAh.

Selain ditujukan untuk pehobi sepeda downhill, kamera tersebut juga menyasar mereka yang hobi olah raga air seperti kayak atau memancing. Sebab, bisa bertahan hingga 10 meter di dalam air (rating IPX8).

Nah, yang menarik, kamera itu dapat terhubung dengan Shimano Di2 SM-EWW01 dan sensor ANT+ untuk melacak data gear yang digunakan, kecepatan, hingga denyut jantung penggunanya.

CM-1000 yang dapat dikontrol secara nirkabel itu dibanderol USD299 pada Mei 2014 mendatang. Kameranya mampu merekam video 1920 x 1080 pada 30 fps, hingga 640 x 360 di 240 fps. Sudut pengambilan gambarnya 180 derajat atau 135 derajat, dan dapat merekam foto 6 MP lewat lensa F2.0.

Canon PowerShot D30

PowerShot D30 adalah langkah Canon untuk masuk ke pasar kamera tahan air. Sudah banyak Canonian yang menginginkan kamera tahan air yang bisa diajak scuba diving atau sekadar free dive. Sementara ini mereka harus puas dengan casing yang harganya bisa semahal kameranya.

D30 dapat diajak menyelam hingga 25 meter di dalam air. Dan tidak hanya anti air, tapi juga dapat bertahan dari benturan di ketinggian 2 meter. Ini menegaskan betapa kamera tersebut sangat cocok untuk para petualang. Bahkan, karena sudah dilengkapi Wi-Fi dan built in GPS, maka kamera bisa mengingat setiap lokasi, waktu, serta tanggal sebuah foto diambil.

Desainnya cukup ramping, dan terlihat nyaman di genggam. Apalagi, LCD-nya sudah di desain untuk lebih terang saat digunakan di dalam air, atau dibawah sinar matahari. Kamera ini sudah mengadopsi teknologi Canon HS SYSTEM untuk pengambilan gambar di pencahayaan rendah. Terutama lewat sensor CMOS 12.1 MP DIGIC 4 Image Processor. Kameranya juga bisa merekam video full HD 1080p. PowerShot D30 dibanderol mulai USD329.99.

Liquipel

Liquipel adalah teknologi pelapis anti air yang “disemprotkan” dalam bentuk uap (partikel nano) ke gadget atau alat elektronik. Mulai dari smartphone, tablet seperti iPad, Bluetooh, hingga kamera saku digital.

Proses ini dilakukan dalam mesin hampa udara dan diatur dengan tekanan dan suhu tertentu. Seluruh bagian luar dan dalam dari perangkat akan terlapisi oleh nano coating yang partikelnya berukuran 1000 kali lebih kecil dari rambut manusia.

Karena itu pula Liquipel sama sekali tak akan mempengaruhi atau merubah bentuk, penampilan atau ukuran perangkat yang dilapis. Namun, teknologi ini tetap memiliki keterbatasan. Yakni kedalam air 1 meter selama 30 menit (sesuai sertifikat sertifikat internasional IP-X7).

Sony Xperia Z1S

Xperia terbaru, Z1S, mampu ditenggelamkan hingga 1.5 meter di dalam air selama 30 menit. Pengguna bisa mengambil gambar underwater melalui tombol shutter yang ada di bagian tepinya.

Total, ada tiga perbedaan utama antara Z1S dengan pendahulunya, Z1. Pertama, Z1S menggunakan sistem operasi bawaan Android 4.3 Jelly Bean. Sedangkan Z1 memakai standar 4.2.2, walau dapat diupgrade ke Jelly Bean. Kemungkinan update ke Android KitKat bisa dilakukan oleh pemiliki Z1 dan Z1S tahun ini juga.

Kedua, Xperia Z1S sekitar 8 gram lebih ringan dibandingkan Z1. Dan ketiga, Xperia Z1S sudah dibenamkan memori internal sebesar 32 GB. Selebihnya, fitur-fitur keduanya hampir identik. Mulai dari kamera 20.7 MP, layar 5 inci (1080×1920) full HD, RAM 2 GB, serta prosesor Qualcomm Snapdragon 800 Mhz dan chipset Adreno 330.

Galaxy Note 4

Samsung sudah lama bereaksi terhadap smartphone Xperia Sony yang tahan air dan debu itu. Mereka menjawabnya lewat Galaxy S4 Active, yang sayangnya tidak beredar di Indonesia. Tapi, kabar terbaru, bukan tidak mungkin teknologi serupa dibenamkan pula pada bahkan Galaxy Note 4.

Menurut ETNews, Samsung baru-baru ini memesan teknologi antena H-IMA (High-performance In-Mold Antenna) yang memiliki penerimaan lebih baik ketika semua port di smartphone ditutup, dibandingkan antena berteknologi LDS. Karena itu, muncul dugaan bahwa Galaxy Note 4 nanti akan memiliki fitur waterproof.

Selain Samsung, LG G3 yang akan rilis tahun ini juga dikabarkan menggunakan teknologi antena H-IMA. Jika kabar tersebut benar, maka besar kemungkinan fitur tahan air dan debu ini akan menjadi wajib di jajaran smartphone premium masa depan.

Melawan Air dan Debu

Berbagai perangkat berikut ini menunjukkan bagaimana teknologi anti-air akan menjadi salah satu faktor penting dalam mendesain sebuah perangkat bergerak di masa depan:

Sony Walkman Anti Air

Sony punya cara unik dan mungkin sangat efektif untuk membuktikan bahwa produk Walkman mereka benar-benar anti air. Yakni, memasarkannya di dalam sebuah botol berisi air. Produk in-ear-headphone tersebut dijual di vending maching yang ada di mal serta pusat kebugaran (gym) di New Zealand.

Sebenarnya produk Walkman NWZ-W273 tidak benar-benar baru. Sudah ada sejak 2012 silam. Tapi, teknik marketingnya yang baru dilakukan dengan cara unik. Diperlihatkan di CES 2014 di awal tahun ini.

Setiap di-charge selama tiga menit, Walkman tersebut dapat dipakai satu jam. Menurut pihak Sony, Walkman itu dapat diajak berenang hingga kedalaman 2 meter. Tapi, tidak untuk digunakan di laut atau air asin. Walkman tersebut terhubung secara nirkabel ke smartphone menggunakan koneksi Bluetooth.

Action Cam Pertama Shimano

Sukses GoPro sebagai kamera kompak yang tahan air dan goncangan menginspirasi banyak pihak melakukan hal serupa. Shimano, misalnya, baru saja merilis action cam CM-1000 Sport Camera. Beratnya hanya 86 gram, beresolusi HD, kamera 16 MP, sensor CMOS, serta baterai Li-ion 950 mAh.

Selain ditujukan untuk pehobi sepeda downhill, kamera tersebut juga menyasar mereka yang hobi olah raga air seperti kayak atau memancing. Sebab, bisa bertahan hingga 10 meter di dalam air (rating IPX8).

Nah, yang menarik, kamera itu dapat terhubung dengan Shimano Di2 SM-EWW01 dan sensor ANT+ untuk melacak data gear yang digunakan, kecepatan, hingga denyut jantung penggunanya.

CM-1000 yang dapat dikontrol secara nirkabel itu dibanderol USD299 pada Mei 2014 mendatang. Kameranya mampu merekam video 1920 x 1080 pada 30 fps, hingga 640 x 360 di 240 fps. Sudut pengambilan gambarnya 180 derajat atau 135 derajat, dan dapat merekam foto 6 MP lewat lensa F2.0.

Canon PowerShot D30

PowerShot D30 adalah langkah Canon untuk masuk ke pasar kamera tahan air. Sudah banyak Canonian yang menginginkan kamera tahan air yang bisa diajak scuba diving atau sekadar free dive. Sementara ini mereka harus puas dengan casing yang harganya bisa semahal kameranya.

D30 dapat diajak menyelam hingga 25 meter di dalam air. Dan tidak hanya anti air, tapi juga dapat bertahan dari benturan di ketinggian 2 meter. Ini menegaskan betapa kamera tersebut sangat cocok untuk para petualang. Bahkan, karena sudah dilengkapi Wi-Fi dan built in GPS, maka kamera bisa mengingat setiap lokasi, waktu, serta tanggal sebuah foto diambil.

Desainnya cukup ramping, dan terlihat nyaman di genggam. Apalagi, LCD-nya sudah di desain untuk lebih terang saat digunakan di dalam air, atau dibawah sinar matahari. Kamera ini sudah mengadopsi teknologi Canon HS SYSTEM untuk pengambilan gambar di pencahayaan rendah. Terutama lewat sensor CMOS 12.1 MP DIGIC 4 Image Processor. Kameranya juga bisa merekam video full HD 1080p. PowerShot D30 dibanderol mulai USD329.99.

Liquipel

Liquipel adalah teknologi pelapis anti air yang “disemprotkan” dalam bentuk uap (partikel nano) ke gadget atau alat elektronik. Mulai dari smartphone, tablet seperti iPad, Bluetooh, hingga kamera saku digital.

Proses ini dilakukan dalam mesin hampa udara dan diatur dengan tekanan dan suhu tertentu. Seluruh bagian luar dan dalam dari perangkat akan terlapisi oleh nano coating yang partikelnya berukuran 1000 kali lebih kecil dari rambut manusia.

Karena itu pula Liquipel sama sekali tak akan mempengaruhi atau merubah bentuk, penampilan atau ukuran perangkat yang dilapis. Namun, teknologi ini tetap memiliki keterbatasan. Yakni kedalam air 1 meter selama 30 menit (sesuai sertifikat sertifikat internasional IP-X7).

Sony Xperia Z1S

Xperia terbaru, Z1S, mampu ditenggelamkan hingga 1.5 meter di dalam air selama 30 menit. Pengguna bisa mengambil gambar underwater melalui tombol shutter yang ada di bagian tepinya.

Total, ada tiga perbedaan utama antara Z1S dengan pendahulunya, Z1. Pertama, Z1S menggunakan sistem operasi bawaan Android 4.3 Jelly Bean. Sedangkan Z1 memakai standar 4.2.2, walau dapat diupgrade ke Jelly Bean. Kemungkinan update ke Android KitKat bisa dilakukan oleh pemiliki Z1 dan Z1S tahun ini juga.

Kedua, Xperia Z1S sekitar 8 gram lebih ringan dibandingkan Z1. Dan ketiga, Xperia Z1S sudah dibenamkan memori internal sebesar 32 GB. Selebihnya, fitur-fitur keduanya hampir identik. Mulai dari kamera 20.7 MP, layar 5 inci (1080×1920) full HD, RAM 2 GB, serta prosesor Qualcomm Snapdragon 800 Mhz dan chipset Adreno 330.

Galaxy Note 4

Samsung sudah lama bereaksi terhadap smartphone Xperia Sony yang tahan air dan debu itu. Mereka menjawabnya lewat Galaxy S4 Active, yang sayangnya tidak beredar di Indonesia. Tapi, kabar terbaru, bukan tidak mungkin teknologi serupa dibenamkan pula pada bahkan Galaxy Note 4.

Menurut ETNews, Samsung baru-baru ini memesan teknologi antena H-IMA (High-performance In-Mold Antenna) yang memiliki penerimaan lebih baik ketika semua port di smartphone ditutup, dibandingkan antena berteknologi LDS. Karena itu, muncul dugaan bahwa Galaxy Note 4 nanti akan memiliki fitur waterproof.

Selain Samsung, LG G3 yang akan rilis tahun ini juga dikabarkan menggunakan teknologi antena H-IMA. Jika kabar tersebut benar, maka besar kemungkinan fitur tahan air dan debu ini akan menjadi wajib di jajaran smartphone premium masa depan.

Iklan