IMGS7774-X2Google Glass rupanya hanya jadi satu dari sekian banyak produk Google yang berorientasi pada masa depan. Sebab, perusahaan asal AS itu kini sedang mengembangkan sebuah produk yang tidak kalah menariknya. Yakni, sebuah tato. Bukan sembarang tato, tentunya, melainkan tato elektronik yang ditempel di leher penggunanya. Sekilas, bentuknya mirip seperti “koyo”, produk yang populer di Indonesia untuk mengatasi masuk angin.

Beberapa pekan lalu, melalui anak perusahaan Motorola Mobility, Google baru saja mematenkan teknologiyang ada dalam produk tato temporer itu. Produk yang disebut dalam paten tersebut adalah “sebuah sistem tato elektronik yang dapat ditempel di bagian leher manusia,”.

Apa fungsinya? Tato tersebut nantinya dapat “berkomunikasi” atau terhubung dengan smartphone, perangkat game, tablet, serta “wearable device” seperti Google Glass. Caranya? Melalui koneksi bluetooth.
Tapi mengapa harus tato? Ide awalnya adalah supaya pengguna dapat melakukan perintah suara atau voice command tanpa harus menggunakan alat seperti Bluetooth headset yang biasa di tempel di telinga ataupun perangkat seperti Google Glass.

Pengembangan produk ini dimasa depan bisa sangat beragam. Salah satunya, menjadi lie detector atau alat untuk mendeteksi kebohongan yang biasa digunakan oleh penegak hukum.

Tato elektronik tersebut juga dapat mendeteksi perubahan respon kulit dari penggunanya. “Ketika pengguna sedang gugup, kulit mereka akan memberikan respon tertentu, yang dapat di deteksi oleh alat tersebut,” kata dokumen milik Motorola Mobility tersebut.

Pihak Motorola menyebutnya sebagai respon galvanic, yakni bagaimana sebuah permukaan, termasuk kulit, bisa menghasilkan listrik.

Dalam gambar yang diajukan oleh pihak Motorola, tato elektronik itu berukuran sangat kecil. Begitu kecilnya hingga nyaris tidak terlihat. Hanya seukuran sebuah perangko atau plester. Permukaannya mengandung bahan adhesive atau perekat sehingga bisa menempel di kulit penggunanya.

Kemungkinan lainnya berhubungan dengan suara. Yakni, untuk membuat suara yang diterima dan keluar menjadi lebih jernih. Atau bahkan penggunanya bisa mendengarkan musik tanpa memakai earphone. Soal ini, memang masih belum jelas bagaimana Motorola akan mengaplikasikannya.

Karena masih dalam tahap pengajuan paten, masih belum jelas kapan tato elektronik ini bisa menjadi prototip dan bahkan produk jadi. Bahkan, bisa juga hanya berakhir sebagai paten saja.

Tapi, hal ini menegaskan bagaimana wearable device ini akan terus dikembangkan di masa depan. Yang paling bisa dinikmati dalam waktu yang tidak lama lagi adalah Google Glass, kacamata pintar yang memungkinkan penggunanya untuk mengirim SMS, berselancar internet, memotret, bakan menjalankan aplikasi hanya melalui perintah suara.

Perangkat lainnya yang bahkan sudah ada di pasaran adalah jam tangan pintar keluaran Samsung dan Sony. Menggunakan sistem operasi Android, smartwatch itu bisa dikoneksikan ke perangkat smartphone. Kabarnya, Apple dan Microsoft tak lama lagi juga akan masuk ke pasar ini.

Iklan