home-automation
Layanan home automation (rumah pintar) yang mensinergikan perangkat bergerak seperti smartphone dan tablet terus tumbuh dalam beberapa tahun terakhir. Meski, peminatnya sendiri masih sangat terbatas.

Setiap tahunnya pameran elektronik konsumen tahunan Consumer Electronic Show (CES) yang berlangsung di Las Vegas, AS, selalu saja memamerkan teknologi baru yang berkaitan dengan perlengkapan rumah tangga. Pasti ada saja kejutan yang diberikan para vendor elektronik.

Misalnya pengatur suhu udara yang dikendalikan dengan perintah suara, pintu yang dapat dibuka dengan teknologi Bluetooth, lampu yang dapat mempelajari kebiasaan konsumenya, dan masih banyak lagi.

Tujuannya, sebenarnya, sangat sederhana. Yakni bagaimana agar perlengkapan rumah tangga yang digunakan sehari-hari itu bisa semakin membantu aktivitas keseharian manusia.

Dan jika hal itu dikaitkan dengan tingginya penetrasi perangkat mobile, maka yang harus dicari jawabannya adalah bagaimana agar perangkat smartphone atau tablet yang kita gunakan sehari-hari itu bisa bersinergi dengan produk-produk rumah tangga yang perkembangan teknologinya tidak secepat perangkat bergerak.

Maka, munculah istilah home automation atau rumah pintar. Selama 2-3 tahun terakhir ini istilah tersebut semakin populer seiring dengan banyaknya vendor yang ”membuka jalan” ke pasar yang belum tersentuh ini. Mungkin saat ini peminatnya masih sangat kecil—disebut dalam tahap embrio–.

Tapi, potensi kedepannya dianggap luar biasa. Tahun ini jadi titik tolaknya. Diperkirakan pasar Home Automation and Energy Management (HEMS) akan menembus 28 juta rumah tangga pada 2015 dan bernilai USD3 miliar pada 2014.

Bayangkan ketika sebelum memarkir mobil di dalam rumah AC sudah terlebih dulu menyala. Atau, Anda bisa langsung mengunci pintu kamar langsung dari smartphone ketika terlanjur berada di jalan. Inilah beberapa kemudahan yang bisa di dapat teknologi home automation.

home-automationSelain itu, problematik untuk menghubungkan satu perangkat dan perangkat lain yang berbeda jenis dan berasal dari vendor berbeda-beda juga berusaha dipecahkan.

Perusahaan perintis bernama Revolv asal Colorado, misalnya, hadir dengan sebuah hub yang memungkinkan pengguna mengontrol sejumlah produk home-automation yang populer di pasar (Sonos, Philips Hue, Nest, Belkin WeMo) lewat satu antarmuka.

Revolv menggabungkan hardware dan software (aplikasi iOS) untuk terhubung dengan jaringan Wi-Fi. Dengan alat ini, Anda bisa mematikan lampu, memutar lagu, serta membuka kunci pintu hanya melalui sebuah aplikasi.

Meski demikian, memang industri home automation masih memiliki kendalanya sendiri. Misalnya saja perangkat keras yang dapat disinergikan dengan perangkat Android jauh lebih sedikit dibandingkan iOS.

Yang kedua adalah segmennya yang masih niche. Untuk “berinvestasi” di perangkat home automation ini pengguna butuh biaya yang tidak sedikit. Harga hardware yang ditawarkan di pasar cukup mahal. Sementara imbal fungsi yang diberikan sendiri sebenarnya tidak penting-penting amat.

Maukah Anda, misalnya, membeli perangkat seharga Rp2 juta-Rp3 juta yang fungsinya hanya untuk mematikan atau menghidupkan lampu lewat smartphone. Apalagi untuk melakukan fungsi-fungsi yang lebih kompleks seperti keamanan, biaya yang dibutuhkan bisa beberapa kali lipat.

Tapi yang pasti, dalam waktu dekat kita akan melihat semakin banyak perangkat-perangkat sehari-hari yang bakal disebuh teknologi. Oktober 2013 silam, misalnya, LG Electronics Indonesia (LGEIN) mengenalkan apa yang disebut dengan LG Smart Appliance.

google-plus-globalhomeautomation-cover”Produk ini memberikan keleluasaan bagi pengguna untuk tetap mengoperasikan perangkat elektronik rumah tangga mereka sembari melakukan kegiatan lain. Hahkan saat mereka tidak sedang berada di rumah,” ungkap Seong-jin Jo, President dan CEO LG Electronics Home Appliance Company. Jajaran produk rumah tangga LG Smart Appliance 2013 terdiri dari lemari es, mesin cuci, microwave dan penghisap debu (vacuum cleaner).

Tidak hanya itu, sudah banyak rumor yang menegaskan bahwa pemain besar seperti
Google, Apple, serta Microsoft juga sedang mengembangkan teknologi home automation. Ini menggambarkan bagaimana potensi industri home automation di masa depan.

Sampai saat itu tiba, kita tetap akan melihat perkembangan dari teknologi home automation ini dipicu oleh perusahaan-perusahaan inovatif yang hadir, misalnya, melalui situs seperti Kickstarter.com.

SmartThings, adalah salah satu contohnya. Perusahaan tersebut membuat platform agar pengguna dapat menghubungkan lampu, pintu, sistem keamanan, dalam satu perangkat. Belum lama ini mereka baru saja mendapatkan pendanaan senilai USD12,5 juta. “Saat ini belum ada satu standar yang menghubungkan perangkat yang berbeda-beda itu. Kami berusaha untuk membuatnya,” tegas CEO SmartThings Alex Hawkinson.

Home
Mengenal Rumah Pintar
Rumah pintar bisa sesederhana memasang pengatur suhu udara (thermostat) otomatis, sampai memasang jaringan rumit yang berfungsi sebagai pusat kendali dari keseluruhan rumah.
Tujuannya adalah untuk mempermudah kehidupan pemilik rumah dan membuat mereka merasa nyaman dengan proses otomatisasi kegiatan sehari-hari mereka. Termasuk juga memberikan ”remote access” atau kendali jarak jauh ketika pemilik rumah sedang berada di kantor atau bepergian dalam jangka waktu lama.

Perlengkapan Rumah Pintar

Pengaturan Energi dan Lampu
Mulai dari mengontrol gelap-terangnya cahaya dirumah, memati-hidupkan lampu, mengatur suhu pendingin udara sesuai kebiasaan pengguna, bahkan memutuskan arus listrik di stop kontak.

Keamanan dan Pengawasan Rumah

Pemilik rumah dapat menggunakan kamera untuk memonitor langsung aktivitas di dalam maupun di luar rumah. Bukan hanya kamera pengawas, tapi kini sudah ada teknologi sensor yang bisa diletakkan di jendela dan pintu, mengatur kunci pintu secara nirkabel, memberikan notifikasi terhadap bahaya seperti asap, dan masih banyak lagi.

Hiburan
Segmen ini yang paling banyak diminati. Kini semakin banyak pengguna mensinergikan televisi, laptop, home audio, dan perangkat digital lainnya dalam jaringan yang sama. Sehingga cukup lewat smartphone-nya pengguna dapat mengalirkan video ke TV atau memutar lagu ke speaker.

Jaringan

Untuk menghubungkan masing-masing perangkat yang kadang berbeda-beda merekanya itu dibutukan hub atau jaringan tertentu. Disinilah perangkat seperti Routers dan Modem ataupun yang lebih rumit seperti Powerline Network Adapters serta Network Attached Storage semakin diminati.

Iklan