Panel layar dengan materi lentur memungkinkan sebuah ponsel mengusung desain yang dapat ditekuk, dilipat, bahkan digulung. Berkat teknologi ini, tidak menutup kemungkinan perangkat komputer di kemudian hari bakal menemukan bentuk fisik baru yang sangat radikal. Tampak layar fleksibel yang dikembangkan oleh LG Electronics.
Panel layar dengan materi lentur memungkinkan sebuah ponsel mengusung desain yang dapat ditekuk, dilipat, bahkan digulung. Berkat teknologi ini, tidak menutup kemungkinan perangkat komputer di kemudian hari bakal menemukan bentuk fisik baru yang sangat radikal. Tampak layar fleksibel yang dikembangkan oleh LG Electronics.
Telah lahir teknologi baru yang membuat layar smartphone menjadi lentur, sehingga bisa ditekuk atau bahkan dibengkokkan seperti sebuah buku. Tidak hanya lebih fleksibel, ukuran layar ini diklaim lebih tipis dan awet (tahan benturan).

Perkembangan teknologi pada smartphone dalam satu dekade terakhir ini memang sangat cepat. Meski demikian, ada satu komponen yang berkembangnya cenderung stagnan. Komponen itu adalah layar, yang meski ukurannya semakin lama semakin menipis tapi sebenarnya tidak terlalu banyak berubah dari waktu ke waktu.

Ini karena inovasi yang dilakukan para vendor lebih banyak berada di dalam perangkat. Para vendor berebut menghadirkan perangkat dengan kualitas kamera terbaik, prosesor tercepat, pilihan aplikasi terbanyak, serta harga paling terjangkau.

Tapi, kecuali ukuran layar smartphone yang saat ini trennya semakin membesar dan resolusi di dalamnya semakin tinggi, teknologi pada layar tetap sama dan tidak banyak berubah.

Hal itulah yang membuat para vendor smartphone saat ini ingin mengambil langkah berbeda. Mereka ingin mencoba menghadirkan teknologi layar baru yang belum pernah dicoba sebelumnya.

Awal pekan lalu, misalnya, LG Electronics mengumumkan bahwa mereka mulai melakukan produksi masal sebuah layar OLED (organic light-emitting diode) berteknologi baru yang memiliki daya lentur tinggi. Panel layar milik LG itu terbuat dari substrat plastik–bukan kaca—yang biasa disebut wafer. Wafer merupakan material semikonduktor yang sangat tipis.

“Layar tersebut cekung vertikal dari atas ke bawah dengan radius 700 mm. Teknologi ini akan membuka ruang inovasi desain di pasar smartphone yang cenderung monoton,” tulis rilis resmi LG.

Dan ternyata LG tidak sendirian. Sejak beberapa bulan lalu sejumlah perusahaan sudah menunjukkan prototip atau cetak biru dari layar dengan teknologi lentur atau fleksibel tersebut.

Samsung Electronics, misalnya, sudah mengenalkan model smartphone dengan layar lengkung Galaxy Round pada Kamis (10/10) pekan lalu. Layar 5,7 inci Galaxy Round menggunakan teknologi Super Flexible AMOLED dengan resolusi full HD (1920 x 1080 piksel). Sekilas, ponsel itu mirip Nokia 8110 yang disebut “Nokia Pisang” karena layarnya yang melengkung.

Layar lengkung Galaxy Round memang tidak fleksibel. Tidak bisa ditekuk atau dilipat. Namun, Samsung sudah menambahkan beberapa software untuk memaksimalkan bentuk layar yang melengkung itu. Misalnya menampilkan informasi dengan cara memiringkan atau mengayun-ayunkan ponsel. Atau mengontrol musik dengan menekan satu sisi ponsel saja saat berada di meja.

Yang pasti, Galaxy Round bisa jadi awal terhadap tren layak fleksibel di masa depan. Maret silam, misalnya, Apple dikabarkan telah mengajukan hak paten terhadap sebuah perangkat elektronik dengan layar lentur. Ini juga bisa jadi pertanda, walau sebenarnya tidak semua hak paten terhadap sebuah produk akan berakhir di lini produksi.

Orang seperti Aaron Souppouris dari blog teknologi The Verge yakin bahwa ini adalah awal terhadap perubahan dramatis dalam teknologi layar smartphone di masa depan. ”Yang kita lihat sekarang adalah berubahan besar terhadap aturan persegi panjang sebuah smartphone. Perangkat portabel di masa depan akan memiliki bentuk dan ukuran yang bisa sangat beragam,” katanya.

Tapi, sebelum berpikir terlalu jauh kedepan, ada pertanyaan yang mungkin harus dijawab dulu. Manfaat apa yang bisa di dapat pengguna dengan layar fleksibel ini, dan mengapa kita harus peduli?

Ternyata, keuntungan yang bisa di dapat konsumen bisa sangat besar.Pertama, soal dimensi. Layar plastik ini memiliki ukuran tipis dan juga lebih ringan dibanding semikonduktor berbahan kaca. Ini jelas penting karena di industri perangkat bergerak beda tebal beberapa milimeter saja adalah sebuah prestasi yang dibanggakan (termasuk oleh perusahaan seperti Apple).

Kedua, soal ketangguhan. LG dan Samsung mengklaim bahwa layar fleksibel lebih tahan terhadap benturan atau goncangan. Seberapa tangguh, memang masih jadi pertanyaan yang harus dijawab. Karena produknya sendiri masih belum tersedia di pasar. Tapi, sebagai konsumen kita tentu menyambut baik jika ada smartphone yang memiliki durabilitas tinggi.

Ketiga adalah terbukanya kemungkinan terhadap inovasi baru baik dalam hardware maupun software. Contoh paling gampang adalah ketika layar fleksibel itu nanti bisa bersinergi dengan tren wearable device yang sekarang mulai marak seperti jam tangan pintar atau kacamata.

Ketika nanti para vendor sudah memiliki formula yang tepat, maka hanya tinggal tunggu waktu trennya berekskalasi. Bisa jadi teknologi seperti yang ada di film-film sains fiksi seperti Star Trek akan datang lebih cepat dari yang dibayangkan.

”Konsumen baru akan tertarik ketika nanti layar fleksibel itu tampil dalam form factor yang benar-benar berbeda,” ujar David McQueen, dari firma riset Informa.

Iklan