Chris Capossela, Vice President, Consumer Channels Group, Microsoft Corp, menunjukkan konvergensi ekosistem sistem operasi Windows 8.1 yang menyentuh tablet, laptop, hingga smartphone di Shangri-La, Hotel, Jakarta, Kamis (3/10) silam.
Chris Capossela, Vice President, Consumer Channels Group, Microsoft Corp, menunjukkan konvergensi ekosistem sistem operasi Windows 8.1 yang menyentuh tablet, laptop, hingga smartphone di Shangri-La, Hotel, Jakarta, Kamis (3/10) silam.

Dinding pembatas antara tablet, smartphone, laptop, maupun PC semakin mengabur. Masing-masing perangkat saat ini telah terintegrasi menjadi satu, melalui ekosistem yang sama: Windows 8. Hal itu disampaikan oleh Chris Capossela, Vice President, Consumer Channels Group, Microsoft Corp, di Shangri-La, Hotel, Jakarta, Kamis (3/10).

Era konvergensi atau yang belakangan ini dikenal dengan sebutan “PC plus” itu mungkin masih sulit dibayangkan. Karena itu, Chris yang sempat menjadi Chief Marketing Officer Microsoft dan kepala divisi Microsoft Office itu langsung menunjukkannya ke saya.

Di atas meja di salah satu ruang meeting hotel Shangri-La itu berjejer berbagai perangkat yang menggambarkan betapa luasnya jangkauan ekosistem Windows.

Ada Acer Iconia W3 yang berlayar 8 inci yang mewakili perangkat tablet, Sony VAIO Tap 11 untuk perangkat hibrida tablet/notebook, Acer Aspire S7 yang mewakili laptop tradisional, serta Nokia Lumia 925 dan Nokia Lumia 1020 yang mewakili smartphone.

Perangkat yang dibuat berbagai vendor berbeda-beda itu memiliki kesamaan. Semuanya sama-sama menggunakan sistem operasi Windows 8 keluaran Microsoft.

”Pembeda antara satu perangkat dan lainnya otomatis hanya form factor dan ukuran layarnya saja. Secara fungsi semuanya sama, karena menggunakan OS yang sama,” papar Chris.

Windows 8, menurutnya, adalah sistem operasi yang di desain untuk ”work and play”. Artinya, baik tablet maupun smartphone dengan sistem operasi Windows 8 tidak hanya dapat digunakan untuk mengonsumsi konten video atau bermain game. Namun juga melakukan kegiatan produktif seperti bekerja.

”Mengapa konsumen harus memisahkan kedua fungsi (work & play) tersebut? Misalnya tablet hanya untuk hiburan, dan laptop untuk bekerja. Ini jelas tidak masuk akal,” katanya sembari mencontohkan sistem operasi iOS (perangkat bergerak) dan OS X (komputer) milik Apple.

Ia lantas menyebut kemudahan perangkat seperti Acer Iconia W3 difungsikan untuk work & play. Dimensi ringkas dan layar sentuh cocok untuk mengonsumsi konten. Namun, Iconia W3 juga mudah sekali untuk dikoneksikan ke kibor eksternal seandainya pengguna profesional butuh bekerja atau pelajar ingin membuat “school paper”.

”Seluruh anggota keluarga bisa menggunakannya. Orang tua bisa bekerja, anak dapat bermain, dan remaja mengerjakan tugas sekolah,” ungkap Chris.

Perangkat lain, Sony VAIO Tap 11 yang akan masuk Indonesia sebelum akhir 2013 ini, bahkan disebut Chris sebagai perangkat yang benar-benar mewakili istilah bekerja dan bermain. Tablet tersebut memiliki layar 11 inci, tebal hanya 9,9 mm, dan kickstand untuk memudahkannya “berdiri”. Untuk bekerja, tablet tersebut juga dapat disambung ke Bluetooth kibor. ”Ada pelajar atau profesional yang tidak suka konsep tablet atau laptop saja. Mereka ingin menggunakan dua-duanya,” papar Chris.

Sedangkan Acer Aspire S7 yang berlayar 13 inci mewakili karakteristik laptop tradisional dengan desain clamshell dan layar sentuh. ”Fiturnya lebih baik dari MacBook Air,” paparnya.

Yang pasti, Chris menyebut bahwa pengkotak-kotakan smartphone, tablet, ultrabook, atau PC semakin tidak relevan. “Semua itu hanyalah sub kategori dari consumer electronics,” katanya.

Pada 18 Oktober 2013 nanti, Microsoft juga akan secara resmi meluncurkan Windows 8.1, yang disebut Chris memiliki banyak sekali perbedaan. Salah satunya Bing Smart Search yang dapat melakukan pencarian lokal di komputer pengguna, serta menampilkan hasil pencarian berdasarkan video, aplikasi, ataupun urutan popularitas website. Yang pasti, Windows 8.1 menurut Chris memiliki perubahan besar dalam hal eksperiens penggunanya.

Iklan