Penjualan terbesar Apple di Indonesia justru berasal dari iPad, bukan iPhone.
Penjualan terbesar Apple di Indonesia justru berasal dari iPad, bukan iPhone.

Melalui iPhone 5s dan iPhone 5c, Apple Inc berusaha mengincar pasar lebih luas. Ini terbukti dengan strategi memasukkan China ke dalam daftar 11 negara pertama yang memasarkan iPhone. Strategi itu jitu. Sebab perusahaan asal Cupertino, AS, tersebut mampu menjual 9 juta unit iPhone hanya dalam tiga hari setelah peluncurannya!

Tapi, ternyata bukan hanya China yang jadi incaran utama Apple. Ternyata, Indonesia pun termasuk dalam target market Apple. Percaya atau tidak, Apple berharap menjadi vendor nomor 2 di pasar smartphone Indonesia.

Hal itu diungkapkan oleh Direktur Marketing Communication Erajaya Group Djatmiko Wardoyo, Kamis (3/10). ”Kepada saya, eksekutif Apple memang menegaskan hal tersebut,” ujar Koko—sapaan akrab Djatmiko–.

Koko memang menolak mengungkap secara detil langkah-langkah apa yang akan diambil Apple selanjutnya. Terutama soal mempertajam kehadiran mereka di Indonesia, antara lain dengan cara memperbesar biaya marketing.
“Apple sangat ketat dalam berpromosi. Ketika kami ingin mempromosikan produk mereka pun persetujuan harus langsung dari kantor pusat mereka di Amerika,” katanya.

Apple, menurut Koko, sangat percaya dengan brand awareness perusahaan yang sangat kuat. Kendati demikian, menurut Koko di pasar seperti Indonesia, brand awareness saja tidak cukup. Apalagi, vendor-vendor ponsel yang jadi kompetitor Apple sangat agresif dalam berpromosi di berbagai media.

“Di Indonesia, Apple masih dianggap sebagai barang mahal. Banyak orang yang ingin memiliki produk Apple, tapi mereka yang mampu membeli ponsel diatas Rp6 juta tentu sangat sedikit. Konsumen ini berada di puncak piramida,” ujarnya.
Karena harga iPhone yang sangat mahal itu, sejak Juni silam PT Erajaya Swasembada Tbk bereksperimen dengan cara membawa iPhone ke segmen yang lebih luas.

Model lama iPhone 4 8 GB dipasarkan kembali dengan harga hanya Rp3,99 juta. Kemudian promosinya sedikit digenjot. Diluar dugaan, penjualan model tersebut ternyata sangat tinggi. ”Bahkan tertinggi dalam sejarah iPhone di Indonesia,” kata Koko.

Konsumen, lanjut Koko, tidak peduli iPhone 4 sudah ketinggalan zaman. “Selama harganya lebih terjangkau, mereka (utamanya pembeli iPhone pertama) akan tetap beli,” ujar pria yang mengatakan bahwa kontribusi terbesar penjualan produk Apple di Indonesia (dalam hal revenue maupun value) ternyata justru berasal dari produk iPad, bukan iPhone
Yang pasti, Koko menyebut bahwa keinginan Apple untuk menjadi nomor 2 di pasar smartphone Indonesia bukanlah sesuatu yang tidak mungkin.

”Sangat mungkin. Hanya saja, pasar tentu perlu di-edukasi. Nah, pertanyaannya, seberapa besar Apple ingin mengeluarkan biaya marketing untuk memancing orang menggunakan produk mereka?” paparnya.

Iklan