Jkt_IIMS_AStrabonardo 2Sebagai negara berkembang memang transportasi dan industri mobil di Indonesia akan selalu bentrokan. Ketika ekonomi Indonesia tumbuh pesat dan jumlah kelas menengah meroket, mereka yang mampu beli mobil jadi lebih banyak/meningkat.

Tahun 2008 itu penjualan mobil di Indonesia “cuma” 607.770 unit. Sedangkan pada 2012 silam penjualannya sudah tembus 1,1 juta unit. Dalam empat tahun kenaikannya mencapai dua kali lipat! Sedangkan tahun 2013 ini penjualan mobil nasional diprediksi lebih dari 1,2 juta unit.

Dampaknya ya jelas, jalanan jadi makin macet. Karena tentu saja tingkat pembangunan jalan dan sarana prasarana transportasi tidak seimbang dengan pertambahan jumlah mobil (dan jumlah penduduk).

Menyoal mobil murah/LCGC, menurut saya tujuan kebijakan ini baik. Pertama, untuk memaksa pabrikan-pabrikan Jepang itu nembangun komponen lokal.

Insentif berupa pengurangan PPnBM hingga 0% hanya bisa di dapat dengan syarat ketat. Mulai lolos uji konsumsi bahan bakar, uji ketentuan teknis, bukti realisasi investasi, hingga kandungan komponen dari pasokan lokal yang dominan. Dominan maksudnya mencapai 80 persen. Termasuk powertrain yang merupakan komponen inti dari mobil (mesin, gearbox, dll).

Dampaknya jelas, investasi masuk, lapangan kerja terbuka, dan industri lokal bergairah. Menurut Dirjen Industri Unggulan Berbasis Teknologi Tinggi Kementerian Perindustrian Budi Darmadi, kehadiran LCGC ini akan menambah 30.000 lapangan pekerjaan di sektor automotif, juga 30.000-40.000 lagi di bisnis turunannya. Tentu saja kedepannya rencana untuk mengeskpor juga di gagas, karena ekspor untuk Indonesia sendiri sangat minim. Ini, menurut saya, sudah sesuai tugas Menteri Perindustrian.

Yang kedua, syarat mobil murah adalah ramah lingkungan. Konsumsi BBM-nya harus minimal XX km/liter. Ini juga baik, karena di masa depan mobil sudah seharusnya lebih hemat konsumsi BBMnya. Sembari berlahan-lahan kita mencari sumber energi alternatif pengganti bahan bakar fosil, misalnya gas, listrik, dll.

Aturan lain mobil LCGC juga ber-cc kecil. Antara lain segmen city car yang mesinnya 1.000-1.200 cc. Kenapa harus kecil? Bisa jadi karena cc kecil jelas konsumsi BBM juga lebih irit.

Kenapa harus city car? Bisa jadi karena mobil kecil lebih ringkas, lebih sedikit komponennya (sehingga biaya bisa ditekan), atau menurut pak JK tidak makan banyak ruang di jalan.

Nah, yang harus diketahui adalah ini: segmen city car itu cuma mengakomodir 4% dari total market share mobnas. Terus yang besar apa? yang besar adalah segmen Low MPV yang saat ini mencapai 40 persen.

Jadi, total produksi Brio Satya, Toyota Agya dan Daihatsu Ayla selama 2013 itu cuma 30.000 unit. Sedangkan jualan Toyota Avanza perbulan saja mencapai 20.000 unit. Tahun depan, produksi mobil LCGC ini 90.000 unit. Pengen tahu berapa penjualan Toyota Avanza doang di 2012: 175.049 unit!

Kalaupun segmen 4% city car itu nantinya akan tumbuh 2x-3x lipat dalam beberapa tahun kedepan, itu pun masih di kisaran 8% atau 12%. Lagi-lagi, angka itu masih relatif kecil jika dibandingkan dengan pasar LMPV yang pertumbuhannya luar biasa itu.

Ingat, selama lebih dari satu dekade terakhir, pasar mobil nasional ini di-drive oleh segmen MPV. Ini sudah jadi karakter dari pasar Indonesia itu sendiri yang suka mobil yang bisa mengangkut banyak orang dan harga terjangkau. Lalu, apakah dengan adanya LCGC ini lantas orang mendadak akan banting stir ke LCGC? Sepertinya tidak.

Memang, 80% market Indonesia adalah mereka yang membeli mobil dibawah Rp200 juta. Tapi, seandainya sebagian besar dari mereka adalah keluarga-keluarga kecil (sebagian besar penduduk Indonesia berusia muda), maka wajar jika pilihan mereka ke Low MPV yang punya 7-penumpang.

Apalagi, sekarang ini pasar Low MPV di Indonesia semakin sengit dengan kehadiran model-model baru seperti Honda Mobilio, Suzuki Ertiga, dan lain-lain yang memiliki banyak fitur dan harga yang hampir ngga jauh beda dengan mobil LCGC.

Sekadar gambaran ya, Honda Mobilio ini baru diluncurkan awal 2014, tapi di IIMS 2013 indennya sudah 2.500 unit (targetnya setahun 80.000 unit). Satu tipe mobil sudah hampir sama dengan target produksi seluruh mobil LCGC yang tahun depan diperkirakan mencapai 90.000 unit.

Intinya, walau ada mobil murah, tidak serta merta orang Indonesia akan langsung beli seperti yang dibayangkan banyak orang. Konsumen Indonesia sudah sangat pintar. Daripada mereka beli mobil beberapa puluh juta tapi tanpa AC dan nggak ada airbag, masih mending beli mobil seken yang fitur keamanannya lengkap dan lebih nyaman/lebih bergengsi, misalnya. Menurut saya semuanya ada segmennya masing-masing. Termasuk juga LCGC.

Bahkan, menurut saya nggak semua orang yang mau beli city car pun akan langtas beli LCGC. Contoh, saya punya bujet beli mobil Rp115-120 jutaan. Tapi, saya inginnya mobil harus matik karena jalanan macet. Eh, ternyata semua varian mobil Brio Satya transmisinya manual. Ya udahlah, nambah aja Rp10 juta untuk beli Brio 1.2 Liter yang sudah ada versi transmisi otomatisnya walaupun bukan LCGC. Ini hanya sekadar contoh betapa konsumen di Indonesia sangat tersegmentasi.

Coba saja tanyakan ke teman-teman Anda yang memiliki tingkat ekonomi berbeda-beda, apakah mereka tertarik membeli LCGC? Jawabannya sudah pasti akan beragam. Dan saya yakin nggak semua akan tertarik.

Bagaimana dengan mobil nasional? Benarkah kebijakan LCGC ini sama saja saja menggembosi mobil nasional? Saya yang awam ini nggak tahu banyak soal ini ya. Cuma, yang saya tahu bahkan pabrikan mobil asing yang susah bersaing dengan pabrikan Jepang.

Kondisi yang terjadi sekarang adalah 90 persen mobil yang terjual di Indonesia adalah buatan Jepang. Padahal, pabrikan mobil yang jualan di Indonesia ada dari Amerika, Eropa, China, bahkan India.

Artinya apa? Artinya jualan mobil di Indonesia itu nggak gampang. Saya tanya, maukah Anda misalnya beli mobil nasional tipe A dengan harga dengan spek mirip dengan mobil Jepang tipe B. Sedangkan mobil Jepang ini memiliki desain lebih bagus, brand awareness tinggi, dan harga jual kembali yang tinggi. Karena konon 90 persen orang Indonesia beli mobil untuk dijual kembali, jelas ini penting. Ketersediaan dealer dan aftersales service yang banyak juga krusial. Masih banyak lagi pertimbangan-pertimbangan lain seseorang untuk membeli mobil.

Artinya apa, kita serahkan saja jurinya ke pasar. Karena menurut Dahlan Iskan pasar itu adalah juri yang paling adil. Kalau mobil nasional bisa hadir dengan fitur-fitur yang sangat baik dan value added service, dukungan service center luas, dll, pasar juga pasti yang akan menentukan pilihan.

Tolong perbedaan pendapat saya ini jangan lantas diartikan saya orang yang tidak peka dengan transportasi publik. Saya tahu banyak orang yang curhat di jejaring sosial soal mobil murah bikin macet, tapi dirumah mereka ada 2 mobil dan 2-2 nya minum BBM bersubsidi.

Setiap hari saya ke kantor menggunakan transportasi umum (KRL) dengan harapan tidak menjadi salah satu kontributor terhadap kemacetan. Motor saya pun biar jelek-jelek saya beliin pertamax karena saya juga tidak mau pake BBM bersubsidi yang bukan hak saya.

Intinya, menurut saya untuk menghindari Jakarta deadlock atau macet total dalam beberapa tahun kedepan, saya setuju dengan diberlakukannya peraturan yang menyulitkan orang untuk menggunakan mobil dan mengakses BBM bersubsidi. Tapi, bukannya menghalangi orang membeli mobil. Karena mungkin juga ada segmentasi orang yang benar-benar membutuhkan transportasi mobil di daerah-daerah, misalnya. Kenapa harus berpikir egois.

Intinya, orang yang manja-manja bilang “kendaraan umum panas, bau, kurang memadai, dll” itu harus dipaksa untuk beralih dari  mobil pribadi ke kendaraan umum. Nggak usah ngasih alasan basi atau membanding2kan transportasi publik di Indonesia dengan negara lain.

Dulu, ketika Ignasius Jonan bikin kartu commet untuk KRL, semua orang protes, semua orang caci maki. Tapi sekarang gimana? lancar-lancar aja tuh. Kita memang tertatih-tatih soal transportasi publik, tapi bukan berarti kita ngga bisa menyesuaikan diri.

Sudahkan pemerintah memberikan dukungan pada transportasi umum? nih, Ignasius Jonan yang luar biasanya merestrukturi PT KAI itu bilang ke saya kalau pihaknya kurang mendapat dukungan pemerintah. Beliau mengatakan PT KAI harus bergerak sendiri, hutang sana sini, untuk membuat solusi Commet, dst.

Coba itu seandainya developer-developer kaya di BSD mendukung PT KAI misalnya dengan menyumbang Rp10 miliar untuk 10 gerbong kereta bekas aja. Kan lebih baik. Mereka itu dapat cuan besar sekali dari harga tanah dan rumah yang naik berkali-kali lipat gara-garanya ya karena ada akses jalur kereta.

Dalam sehari itu KRL JAbodetabek mengangkut 550.000 penumpang, dan ditargetkan sampai 1,2 penumpang sampe 2018. Jadi menurut saya daripada bawel ngomentari mobil murah, mending bawel itu pemerintah dan DPR kita minta untuk memperbaiki transportasi umum saja. Dan kita sendiri jangan cuma manis dimulut aja. Ayo kita dukung transportasi publik di Jakarta.

Iklan