EGM Divisi Solution Convergence PT Telkom Achmad Sugiarto menunjukkan aplikasi Qbaca di tablet iPad mini.
EGM Divisi Solution Convergence PT Telkom Achmad Sugiarto menunjukkan aplikasi Qbaca di tablet iPad mini.

Buku digital adalah masa depan. Kapan konsumen di Indonesia terbiasa untuk mengonsumsi buku digital memang masih jadi pertanyaan yang harus dijawab. Namun, inovasi tidak boleh berhenti walau mungkin pasar buku digital sendiri belum terbentuk.

Pada Juli 2010, toko online Amazon.com melaporkan bahwa penjualan ebooks (buku digital) di perangkat Kindle mereka untuk pertama kalinya melebihi buku dengan hardcover. Di tahun yang sama, penjualan ebooks di Amerika baru mewakili sekitar 8,5% dari total penjualan buku. Namun, pada kuartal pertama 2012, total penjualan ebooks di Amerika sudah mengungguli penjualan buku biasa.

Fakta ini menunjukkan seberapa cepatan perubahan gaya hidup, serta penerimaan konsumen terhadap buku digital. ”Proses membaca, membeli, serta mengoleksi buku seharusnya dapat dilakukan dengan mudah,” ujar Achmad Sugiarto, Executive General Manager Solution Convergence Division PT Telkom.

Dengan beralih ke buku digital, lanjut Achmad, masyarakat dapat mengoleksi ratusan bahkan ribuan buku di perangkat smartphone atau tablet mereka dengan praktis. ”Ini hanya soal kebiasaan saja,” katanya.

PT Telkom sendiri sudah memiliki aplikasi buku digital untuk platform iOS ataupun Android yang disebut Qbaca. Aplikasi ini telah diunduh lebih dari 17.000 kali kurang dari 1 tahun sejak dirilis.

foto 3
Tampilan aplikasi Qbaca di iPad mini paling pas karena ukurannya yang selebar buku.

Qbaca menyediakan koleksi buku-buku digital dari berbagai penerbit, baik buku gratis ataupun berbayar. Buku tersebut menggunakan file .epub (electronic publication) seperti yang digunakan oleh Apple, sehingga pengguna dapat membaca dengan nyaman (huruf akan menyesuaikan layar ketika di-zoom/diperbesar). Pengguna dapat membeli buku di Qbaca melalui ATM, Internet Banking, dan SMS Banking.

Bagi Achmad, Qbaca bukan sekadar ”toko buku”. Namun juga menjadi sebuah perpustakaan. Sebuah ruang untuk pendidikan dan pengajaran. ”Bayangkan jika aplikasi Qbaca ini nanti berinteraksi dengan dunia pendidikan, misalnya untuk lembar kerja, kuis, makalah, dan masih banyak lagi,” katanya.

Saat ini, Qbaca yang memiliki 1.300an koleksi buku yang tidak ada di toko buku. Total lebih dari 47 ribu buku sudah diunduh melalui aplikasi tersebut. Meski jumlah itu terbilang besar, nyatanya Achmad menganggap belum cukup.

”Banyak penerbit di Indonesia masih menganggap buku digital sebagai ancaman. Atau sebaliknya, enggan berinvestasi lebih untuk mendukung digitalisasi buku karena pasarnya saat ini masih relatif kecil,” ungkapnya.

Karena itu, PT Telkom terus berupaya untuk menyempurnakan ekosistem dari buku digital ini. Mulai menggerakkan penulis buku, penerbit buku, pencipta konten digital, kreator visual seperti komikus, hingga komunitas penggemar buku.

Tapi, konsumen utama yang mereka sasar adalah ini: masyarakat yang telah terbiasa dengan budaya digital. Mereka yang terbiasa menggunakan smartphone dan tablet, yang terbiasa mengakrabi jejaring sosial, dan mereka yang terus menerus terhubung dengan internet.

”Kami rasa lebih mudah meyakinkan konsumen yang terbiasa dengan gaya hidup digital untuk mengonsumsi buku digital,” beber Kuncoro Wastuwibowo, Manager of Service Integration Government & Education Ecosystem, Solution Convergence Division, PT Telkom. ”Jangan sampai mereka (konsumen) terjebak dalam komunikasi yang dangkal dan sempit,” tambahnya.

Saat ini, sudah cukup banyak perusahaan yang mencoba bersaing di bisnis ebooks ini. Misalnya Scoop keluaran Apps Foundry, Indobooks yang dikembangkan PT Mitra Komunikasi Nusantara (MKN), ataupun Wayang Force milik PT. Phase Solusindo. Namun, Kuncoro menilai bahwa para vendor ini tidak saling bersaing. ”Saat ini kami semua dalam tahap sedang mengedukasi pasar,” katanya.

Konsumsi terhadap buku digital oleh masyarakat digital Indonesia yang masih rendah, tentu banyak sekali alasannya. Salah satunya, kata Kuncoro, adalah user-interface. ”Keberadaan buku digital masih belum menjadi sesuatu yang sangat dibutuhkan masyarat seperti jejaring sosial,” katanya.

Meski demikian, PT Telkom tidak ingin berhenti kendati pasar belum terbentuk atau atau platform buku digital saat ini masih dalam tahap “awal”. ”Kami akan terus berinovasi sampai akhirnya buku digital ini mencapai bentuk yang benar-benar diinginkan oleh masyrakat. Tahun depan, misalnya, kami berencana menambahkan fitur interaksi dan animasi di Qbaca,” paparnya.

foto 5Penggunaan Aplikasi Qbaca:

  • Unduh aplikasi Qbaca di Google Play atau Apple App Store
  • Pilih buku yang dikehendaki.
  • Buku gratis dapat langsung diunduh.
  • Untuk membeli, harus melakukan registrasi dengan membuat account.
  • Pembayaran dapat dilakukan lewat ATM, Internet Banking, atau SMS Banking.
  • Buku yang telah dibayar atau yang diunduh akan tersimpan di rak yang dapat dilihat pada menu Shelf.
Iklan