Model menunjukkan hand phone Nokia Lumia terbaru saat peluncuran Nokia Lumia 920 dan Nokia Lumia 820 di Jakarta,Pekan lalu, perusahaan software terbesar dunia Microsoft resmi mengumumkan bakal mengambil alih unit bisnis Device dan Service raksasa ponsel asal Finlandia, Nokia, senilai USD7,2 miliar (Rp72 triliun). Apa yang terjadi kemudian?

Proses akuisisi tersebut memang baru dijadwalkan rampung pada kuartal pertama 2014 mendatang. Rinciannya, yakni Rp50 triliun dipakai untuk mengambil alih seluruh unit bisnis ponsel Nokia, sementara Rp22 triliun digunakan untuk melisensi hak paten Nokia selama 10 tahun kedepan—berikut opsi perpanjangan jika diperlukan–.

Tentu saja banyak yang bertanya-tanya apa dampak proses akuisisi tersebut terhadap Nokia, Microsoft, serta konsumen. Walau, para analis menilai bahwa penyatuan kedua perusahaan itu sendiri masih butuh waktu yang cukup lama—berkaca pada Google yang butuh 2 tahun untuk merilis handset Moto X setelah mengakuisisi Motorola Mobility–. Namun demikian, sudah ada beberapa hal yang diperkirakan bakal terjadi.

Pertama adalah soal tata nama atau nomenklatur. Walau kehilangan unit bisnis ponselnya, Nokia masih memiliki unit bisnis jaringan Nokia Solutions and Networks (NSN) yang bersaing dengan Huawei atau Ericsson, serta unit bisnis pemetaan dan lokasi Nokia Here. Secara finansial, kedua perusahaan tersebut sangat sehat.

Karena itu, kedepannya Microsoft tidak boleh menggunakan nama ”Nokia” di depan kata ”Lumia” untuk memasarkan smartphone mereka. Jadi, siap-siap menggunakan penyebutan ”Microsoft Lumia” atau ”Lumia” saja.
Sebaliknya, kata ”Nokia” masih boleh digunakan di lini produk feature phone Nokia Asha yang menggunakan sistem operasi Symbian 30 dan Symbian 40. Tapi, itu pun dibatasi sampai 10 tahun kedepan.

Maklum, Nokia merupakan perusahaan kebanggaan Finlandia yang telah terbentuk sejak 1865 silam. Kendati yang membuat perusahan tersebut mendunia adalah bisnis ponsel, namun nama Nokia ingin tetap menjadi Finlandia.

Selama 14 tahun mendominasi market share ponsel dunia, Nokia telah memberi dampak besar terhadap ekonomi Finlandia (sempat menyumpang 16 persen toal ekspor pada masa jayanya).

Bahkan Perdana Menteri Finlandia Jyrki Katainen angkat bicara soal akusisi tersebut. ”Ini adalah awal era baru bagi Nokia,” komentar Jyrki. Steve Ballmer juga mengatakan bahwa Microsoft telah menyiapkan investasi senilai lebih dari USD250 juta (Rp2,5 triliun) untuk membangun data center di Finlandia sebagai wujud keseriusan Microsoft terhadap akuisisi yang dinilai banyak analis ”terlalu murah” itu. ”Finlandia akan tetap menjadi pusat kegiatan operasional serta R&D dari divisi ponsel kami,” tandas Ballmer.

Kedua, akuisisi ini menunjukkan rencana besar Microsoft terhadap OS Windows Phone. Microsoft percaya penyatuan software dan hardware dalam satu unit bisnis akan mempermudah pengembangan Windows Phone di masa depan. Seperti halnya Apple yang membuat sistem operasi dan hardware sendiri, atau Google yang kini memamerkan fitur-fitur terbaru (update) dari OS Android mereka lewat produk Motorola. Setelah mengakuisis Nokia, Microsoft mengklaim akan mendapat keuntungan USD40 untuk setiap ponsel yang terjual.

Yang pasti, target Microsoft untuk Windows Phone sangatlah besar. Mereka berharap market share Windows Phone secara global meningkat hingga 40% persen dalam 5 tahun kedepan (menjual 50 juta unit per kuartal).

Saat ini, IDC mencatat bahwa ponsel dengan OS Windows hanya mengakomodir 4 persen market share global, tertinggal dari Android yang sekitar 79 persen dan iOS yang 13 persen. ”Kita akan berakselerasi,” ujar Ballmer, optimistis. Meski, ia mengatakan bahwa unit bisnis ponsel ini baru benar-benar menguntungkan pada tahun keuangan 2016 mendatang, ketika Microsoft menargetkan mampu menjual 50 juta unit smartphone per tahun.

Microsoft sendiri tetap mempersilahkan vendor hardware yang ingin menggunakan OS Windows Phone. Biaya royalti Windows Phone yang diterima Microsoft adalah USD10 per smartphone yang terjual. Saat ini Nokia menguasai lebih dari 80 persen persen market share Windows Phone secara global. Empat dari lima ponsel Windows Phone yang terjual dibuat oleh Nokia (data IDC).

Setelah proses akuisisi usai, akan ada 32.000 orang dari total 92.000 karyawan Nokia global yang akan bergabung ke Microsoft. Nah, yang menarik dari proses akuisisi ini adalah momentumnya. Pertama, pengumuman akuisisi dilakukan tak lama setelah Steve Ballmer mengatakan bakal pensiun dari Microsoft dalam 12 bulan kedepan. Terlepas dari fakta bahwa calon CEO Microsoft bisa berasal dari luar, namun jelas sekali bahwa CEO Nokia Stephen Elop yang juga mantan staf Microsoft itu kini menjadi kandidat terkuat sebagai pengganti Ballmer.

Nah, langkah akuisisi tersebut sejalan dengan perombakan strategi Microsoft yang dilakukan secara besar-besaran. Arah perusahaan telah berubah dari perusahaan software ke perusahaan devices dan services. Melalui strategi One Microsoft, Steve Ballmer membagi perusahaan ke dalam empat divisi besar, yakni divisi sistem operasi, divisi perangkat keras (device), divisi aplikasi, dan divisi cloud. Divisi device, misalnya, akan membawahai Xbox, handset Nokia, serta tablet Surface. Sementara divisi sistem operasi menaungi Windows Phone, Windows, dan sistem operasi Xbox.

Nah, bagaimana dampak proses akuisisi ini pada pasar lokal Indonesia? Walau masih menjadi salah satu vendor paling dominan di Indonesia, pasar smartphone Nokia sempat terluka lewat kehadiran BlackBerry. Dan ketika pesona BlackBerry kian meredup, luka itu justru makin membesar lewat kehadiran smartphone Android.

Kendati demikian, menurut Head of Operations IDC Indonesia Sudev Bangah, akuisisi Microsoft bisa memberi dampak positif bagi Nokia di Indonesia. ”Saya tidak akan terkejut jika nanti akan lebih banyak kampanye agar orang menggunakan smartphone,” katanya. Pada awal 2013, IDC memprediksi sistem operasi Windows Phone akan mengakomodir 6%-7% dari total pengapalan smartphone pada 2013.

Saat ini, BlackBerry masih mengakomodir 30% market share dari ponsel pintar. Sedangkan Android sudah mendominasi 60% market share. Apple dan Windows Phone sendiri masih minoritas.

Iklan